Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR
Asesmen Berbasis Kelas
Wakhinuddin
Mencermati tujuan pembelajaran otomotif yang tercantum dalam Kurikulum disadari bahwa tes tertulis yang hanya mengukur aspek kognitif tidak lagi memadai untuk mengases apakah mahasiswa sudah memiliki kompetensi yang diharapkan. Di samping itu, ketercapaian tujuan kurikulum tidak lagi dapat diukur dengan hanya menggunakan satu macam teknik asesmen. Ott (1994) mengatakan: “process goals cannot be measured accurately by any one assessment technique. Different techniques must be used over time to see how students are performing on these goals”. Sehubungan dengan kondisi ini, ketercapaian tujuan kurikulum perlu diases melalui asesmen yang dilakukan secara otentik dan komprehensif.
Asesmen adalah istilah umum yang mencakup semua metode yang digunakan untuk mengases kinerja individu mahasiswa atau kelompok mahasiswa. Asesmen yang dilakukan secara komprehensif sepanjang proses pembelajaran (berkelanjutan) selanjutnya dikenal dengan asesmen berbasis kelas. McMilan (2001: 8) mengatakan bahwa “classroom assessment can be defined as the collection, interpretation, and use of information to help teachers make better decisions”. Dari pengertian ini terlihat bahwa asesmen berbasis kelas lebih dari sekedar tes (paper and pencil test), atau pengukuran yang selama ini lazim digunakan untuk mengevaluasi kemajuan belajar mahasiswa.
Pengertian asesmen berbasis kelas yang lain dikemukakan oleh Depdiknas (2005: 12) yaitu:
Asesmen berbasis kelas merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar mahasiswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.
Dari dua definisi yang dikemukakan di atas terlihat bahwa proses asesmen berbasis kelas meliputi pengumpulan bukti secara komprehensif yang dilakukan dengan berbagai teknik, untuk menunjukkan pencapaian hasil belajar mahasiswa. Bila dihubungkan dengan KBK, asesmen berbasis kelas dapat mendeskripsikan pencapaian kompetensi dan hasil belajar mahasiswa yang dikemukakan dalam bentuk pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai, disertai dengan profil kemajuan belajar mahasiswa dan pelaporan.
Asesmen yang dilakukan dalam pembelajaran konvensional pada umumnya hanya dapat mengungkap apa yang diketahui mahasiswa, sedangkan asesmen berbasis kelas bertujuan untuk mengungkap apa yang diketahui dan apa yang dapat dilakukan mahasiswa. Melalui asesmen berbasis kelas dosen tidak hanya mendapat gambaran tentang pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep otomotif yang telah mereka pelajari. Lebih dari itu, dosen dapat mengungkap sikap dan motivasi mahasiswa terhadap pelajaran otomotif serta kemampuan pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, dan koneksi mahasiswa.
Menurut McMillan (2001), ada empat komponen penting yang perlu diperhatikan dalam menerapkan asesmen berbasis kelas, yaitu tujuan, pengukuran, evaluasi, dan pemanfaatan hasil asesmen berbasis kelas.
PENGEMBANGAN, IMPLEMENTASI DAN PEMBUATAN PERANGKAT ASESMEN BERBASIS KELAS UNTUK PEMBELAJARAN MATA KULIAH SISTEM PEMINDAH TENAGA
by Wakhinuddin
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengembangkan, mengimplementasikan dan membuat perangkat asesmen berbasis kelas yang valid, praktis, dan efektif untuk menilai pemahaman konsep, kemampuan pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, serta koneksi mahasiswa dalam pembelajaran Sistem Pemindah Tenaga (SPT) di Jurusan Teknik Otomotif FT UNP Padang. Perangkat asesmen dirancang guna menunjang pelaksanaan asesmen di jurusan, sesuai tuntutan kurikulum. Berdasarkan hasil ini dirancang prototipe perangkat asesmen berbasis kelas. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan penelitian pengembangan dan eksperimen. Metode eksperimen digunakan rancangan treatment by design. Dalam eksperimen ini dipilih sampel kelas dan mahasiswa secara random. Di kelas eksperimen digunakan perangkat asesmen berbasis kelas, sedangkan di kelas kontrol dilakukan tes tertulis. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara dengan dosen dan mahasiswa dan tes. Hasil penelitan ditemukan bahwa : kelompok hasil belajar mahasiswa dinilai dengan perangkat asesmen berbasis kelas lebih tinggi daripada kelompok mahasiswa dinilai dengan paper and pencil test. Perangkat asesmen berbasis kelas efektif meningkatkan pemahaman konsep, kemampuan komunikasi, penalaran dan pemecahan masalah mahasiswa.
Kata kunci: Asesmen Berbasis Kelas, Perangkat Penilaian, Validitas, Praktikalitas, dan efektivitas.
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR
UAS ASESMEN BERBASIS KELAS
UNP
PROGRAM PASCASARJANA
PEP
———————————————————
Penjelasan:
1. Jawab soal berikut sesuai pertanyaan,
2. Take home, kumpul hari Rabu 21 Des. 2011, jam 12.00 di locker jurusan Mesin/otomotif FT UNP atau Upload ke wakhid_nuddin@yahoo.com
3. Maksimum 10 halaman folio.
4. Salin pernyataan ini diakhir jawaban: Dengan ini saya bersumpah bahwa soal ini saya kerjakan sendiri, tanpa meniru dan mencontek teman.
Soal:
A. Pilihan Ganda
1. Ada soal untuk siswa: Buat peta Papua Barat dengan cara memperbesar dua kali ukuran peta aslinya. Soal ini berasal dari indikator
a. Siswa dapat memperbesar peta Papua Barat dua kali lebih besar dari peta aslinya.
b. Siswa dapat menjelaskan pembesaran peta Papua Barat dua kali lebih besar dari peta aslinya.
c. Siswa dapat menerapkan peta Papua Barat dua kali lebih besar dari peta aslinya
d. Siswa dapat mengukur peta Papua Barat sebesar dua kali ukuran aslinya
2. Suatu proses kegiatan yang dlakukan oleh Penilai untuk mendapatkan informasi data kuantitatf dari fenomena-fenomena yang damati. Pernyataan ini merupakan pemahaman tentang:
a. Penilaian
b. Pengukuran
c. Evaluasi
d. Pengujian
3. Pak Anas sewaktu mengajar ia akan mengganti metode mengajarnya, karena sebelumnya banyak siswa yang tidak tuntas belajar. Pernyataan in adalah salah satu tujuan dari :
a. Penilaian penempatan (placement test)
b. Penilaian diagnostik
c. Penilaian formatif
d. Penilaian sumatif
B. Uraian
1. Saudara jelaskan tentang Asesemen Berbasis Kelas:
a. Jelaskan minimal tiga tujuan asesmen berbasis kelas!
b. Apa dan Bagaimana asesmen berbasis kelas?
c. Sebutkan karakteristik asesmen berbasis kelas!
d. Sebutkan asumsi asesmen berbasis kelas!
2. Uraikan dalam bentuk matriks perbedaan PAK dan PAN!
4. Saudara jelaskan tentang Penilaian portofolio dalam :
a. Apa yang dmaksud dengan Penilaian portofolio?
b. Mengapa menggunakan Penilaian portofolio?
c. Siapa yang memiliki Penilaian portofolio?
d. Bagaimana bentuk agenda Penilaian portofolio?
e. Bagaimana melibatkan siswa dalam pembuatan portofolio?
f. Bagaimana mengorgansir portofolio siswa?
g. Bagamana menskor dan menilai portofolio?
h. Apaka perbedaan Penilaian portofolio dengan tes?
5. Uraikan minimal 5 ciri penilaian kelas!
6. Buatlah buatlah suatu rancangan penilaian produk sesuai dengan bidang studi S1 saudara.
a. Tetapkan salah satu KD atau indikator (sesuai silabus pada mata ajar) yang cocok dievaluasi dengan penlaian produk!
b. Uraikan penilaian pada ke dua tahap penilaian. Beri alasan kenapa itu penting dinilai!
c. Buat matriks kriteria dan penskoran penilaian dan beri alasan kenapa saudara menggunakan kriteria dan pensekoran tersebut!
Selamat bekerja
Good lucky U
Filed under: PENELITIAN
DASAR MASALAH ROADMAP
Wakhinuddin
Berdasarkan permasalahan tersebut dan sejalan dengan arah kebijakan pengembangan IKM tahun 2009, maka kebijakan pengembangan IKM kerajinan bordir dan sulaman di Sumatera Barat disamping difokuskan pada upaya penguatan dan pengembangan klaster-klaster IKM kerajinan, peningkatan fasilitas unit pelayanan teknologi (UPT), pengembangan IKM unggulan daerah melalui pendekatan one-village-one-product (OVOP), juga difokuskan pada revitalisasi sentra-sentra IKM kerajinan bordir dan sulaman.
Berdasarkan latar belakang dan sesuai dengan batasan wilayah kegiatan membuat peta panduan pengembangan sentra IKM kerajinan bordir dan sulaman Provinsi Sumatera Barat, maka maksud kegiatan ini adalah untuk menyusun peta panduan (road map) pengembangan sentra IKM Kerajinan bordir dan sulaman di Kota Payakumbuh. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pedoman/acuan bagi aparatur pemerintah dalam rangka penyusunan program/kegiatan pembinaan sentra IKM kerajinan bordir dan sulaman tahun 2010 – 2014 di Kota Payakumbuh.
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, EVALUASI KURIKULUM, EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, Pembelajaran, Pendidikan
Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003, pada bab XVI pasal 57 sampai dengan 59 tentang Evaluasi menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada piha-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyataka bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.
Filed under: PENELITIAN
Tujuan Khusus
Penelitian ini dilandasi oleh keinginan untuk memberikan kontribusi dalam memecahkan permasalahan asesmen yang dihadapi dosen-dosen teknik otomotif di FT UNP. Keinginan ini direalisasikan dengan merancang perangkat asesmen berbasis kelas untuk pembelajaran sistem pemindah tenaga di jurusan Teknik otomotif UNP. Secara lebih spesifik penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimpementasikan perangkat asesmen berbasis kelas yang valid, praktikal dan efektif. Istilah valid, praktikal dan efektif yang digunakan mengacu pada kriteria yang dikemukakan oleh Guskey (1999, 2000), Kirkpatrick (1987) dan Nieveen (1997, 1999).
Dalam penelitian ini cakupan ketiga kriteria tersebut dibatasi sebagai berikut:
• Perangkat asesmen berbasis kelas dikatakan valid atau mencerminkan “state of the art knowledge” jika perangkat tersebut oleh pakar pendidikan teknik otomotif dan pakar evaluasi dinyatakan layak digunakan untuk mengukur pemahaman konsep, kemampuan pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, dan koneksi mahasiswa.
• Praktikal mengacu pada kondisi di mana dosen dan mahasiswa dapat menggunakan perangkat asesmen berbasis kelas sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
• Perangkat asesmen berbasis kelas dikatakan efektif jika dapat meningkatkan pemahaman konsep, kemampuan pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, dan koneksi mahasiswa. Di samping itu, hasil asesmen dengan menggunakan perangkat ini dapat digunakan oleh dosen-dosen teknik otomotif untuk mendeskripsikan profil hasil belajar mahasiswa secara otentik dan komprehensif.
Filed under: PENELITIAN
UJI PERSYARATAN ANALISIS
(Untuk Korelasional)
by Wakhinuddin S
Karena dalam penelitian ini digunakan analisis regresi, terdapat asumsi yang dipersyaratkan yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Andy Field (2005: 170), Draper (1966:144), dan Santoso (2001:203) menyatakan bahwa syarat penggunaan analisis regresi adalah menguji asumsi-asumsi yaitu : (1) asumsi multikolinieritas; (2) asumsi Homosedastisitas; (3) asumsi normalitas; dan (4) asumsi linieritas. Persyaratan tersebut dijelaskan berikut ini :
a. Uji Multikolinieritas, untuk menguji apakah di dalam model regresi yang digunakan ditemukan adanya korelasi yang sempurna antara variabel dependen dan independen atau tidak. Persyaratan besaran VIF (Variance Inflation Factor) yang bebas dari persoalan multikolinieritas adalah <10 dan Toleransi yang bebas multikolinieritas adalah <0.5. Hasil uji multikolinieritas dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini :
Tabel 7. Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficients(a)
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
persepsi .418 2.392
bim_bk .418 2.392
a Dependent Variable: minat
b. Uji homosedastisitas, untuk menguji apakah varians dari residual tidak berubah dengan berubahnya satu atau lebih variabel bebas. Jika terdapat bentuk pola tertentu pada scatterplot, maka terjadi homosedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka terjadi heterosedastisitas. Hasil uji homosedastisitas dapat dilihat pada grafik 3. berikut ini :
Grafik 3. Hasil Uji Homosedastisitas
SCATTERPLOT
c. Uji Normalitas, bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas mempunyai distribusi normal. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Deteksi normalitas adalah dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik, jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada grafik 4 berikut ini :
Grafik 4. Hasil Uji Normalitas
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
d. Uji Linieritas, untuk mengetahui apakah antara variabel X1 dan Y atau antara X2 dan Y memiliki hubungan yang linier. Dalam penelitian ini, uji linieritas dilakukan dengan melihat grafik Scatter Plot antar variabel. Hasil uji linieritas dapat dilihat pada grafik 5 dan 6 berikut ini :
Grafik 5. Hasil Uji Linieritas antara variabel X1 dan Y
Grafik 6. Hasil Uji Linieritas antara variabel X2 dan Y
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR
Tujuan pembelajaran = Hasil Pembelajaran
Wakhinuddin S
Hasil Pembelajaran merupakan target dari Pengukuran dan Penilaian :
Seperti : Apakah hasil yang ingin dicapai dari suatu hasil pembelajaran?
Tujuan Pembelajaran suatu yang spesifik, dalam bentuk suatu pernyataan yang terukur (measurable statements) dari suatu hasil pembelajaran
Taksonomi Bloom disebut juga taksonomi tujuan pembelajaran, dengan demikian dengan mengukur dan menilai ketercapaian hasil belajar berarti telah melakukan proses penilaian prestasi hasil belajar peserta didik.
KESIMPULAN
(Evaluasi Program Praktik Kerja Industri Luar Negeri Siswa SMK Negeri 6 Padang dengan Model CIPP by Wakhinuddin S dan Tursina)
Setelah diadakan penelitian tentang pengaruh evaluasi program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang dengan model CIPP maka dapat ditarik kesimpulan :
1. Konteks (context) dalam program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari tujuan program, dan lingkungan program.
Berdasarkan analisis deskriptif terhadap variabel context yang terdiri dari dua indikator tujuan program prakerin dan lingkungan tempat prakerin. Berdasarkan analisis deskriptif indikator tujuan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 93.33% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, tujuan di adakannya program prakerin luar negeri di SMK Negeri 6 Padang: 1) meningkatkan kompetensi siswa sesuai dengan kompetensi keahliannya, 2) membuka wawasan siswa tentang kompetensi keahlian yang dimilikinya, 3) untuk mencetak tenaga-tenaga yang propesional dibidangnya sehingga setelah tamat dapat diterima di dunia industri, 4) memenuhi salah satu persyaratan Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (SRBI). Hal tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh Depdiknas (2005:1).
Berdasarkan analisis deskriptif indikator lingkungan tempat prakerin dengan tingkat capaian sebesar 90.37% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, mengenai lingkungan industri prakerin sesuai dengan kompetensi keahlian siswa dan di tempat prakerin dapat meningkatkan kompetensi produktif siswa. Hal tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh Depdiknas (2005: 8).
2. Masukan (input) dalam program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari SDM siswa, pengelola outlet, guru pembimbing, instruktur, serta sarana prasarana pendukung, sumber dana dan relevansi pelaksanaan program dengan kebutuhan siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM siswa SMK Negeri 6 Padang dengan tingkat capaian sebesar 92.59% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, persyaratan siswa prakerin luar negeri antara lain: a) minimal 17 tahun pada saat pemberangkatan, b) ada izin dari orang tua, c) sehat fisik dan mental, dan disiplin, d) mampu berbahasa inggris, e) memiliki kompetensi dasar dan kejuruan, e) lulus tes dari industri. Hal ini sesuai dengan Depdiknas (2005:3) tentang kriteria siswa yang disiapkan untuk mengikuti prakerin luar negeri.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM pengelola outlet SMK Negeri 6 Padang, dengan tingkat capaian sebesar 77.78% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, kurang optimal manajemen pengelola Outlet melengkapi dokumen prakerin luar negeri antara lain : a) buku jurnal, b) format penilaian kegiatan siswa industri, c) instrument monitoring yang standar untuk guru pembimbing prakerin, d) tidak adanya secara tertulis persyarat dan tugas guru pembimbing, e) jadwal pemberangkatan siswa tidak sesuai dengan program yang ada di sekolah sehingga mempengerahui nilai ketuntasan belajar siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM guru pembimbing SMK Negeri 6 Padang, dengan tingkat capaian sebesar 74.69% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa pengelola outlet SMK Negeri 6 Padang tidak menentukan persyaratan khusus untuk menjadi guru pembimbing prakerin luar negeri. Hal ini kurang sejalan dengan Dikmenjur (dalam tantang, 2000:35) menjelaskan “Guru PSG adalah individu yang memiliki kemampuan kompetensi, profesi keguruan atau pendidik secara dominan tetapi juga harus memiliki kompetensi teknis keahlian tertentu dan memiliki jiwa enterpreneurship). Dalam pelaksanaan PSG guru dipersyaratkan harus memiliki sejumlah kompetensi atau kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk melaksanakan keprofesiannya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru PSG.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM Instruktur (Pembimbingan Prakerin) luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 83.70% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa peranan instruktur di industri memberikan arah dan petunjuk-petunjuk praktis tentang pekerjaan, sesuai dengan perkembangan teknologi. Hal ini sudah sesuai menurut Nolker dalam Tatang (2000 : 35) “Instruktur memberikan bimbingan ahli bagi peserta didik dalam melakukan pekerjaan latihan serta memberikan petunjuk-petunjuk praktis, sesuai dengan perkembangan teknologi mutakhir. Instruktur juga menyiapkan pertemuan pengajaran dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip didaktik dan ia juga memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam penyelenggaraan ujian.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator sarana prasarana pendukung prakerin luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 92.59% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, sarana prasaran yang ada ditempat prakerin sesuai dengan komptensi keahlian siswa. Hal ini sesuai menurut Depdiknas, (2005:3) tentang klasifikasi industri antara lain : a) memiliki fasilitas sesuai dengan standar kompetensi, b) bidang usaha yang sesuai dengan kompetensi siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator sumber dana prakerin luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 77.04% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa: 1) sumber dana prakerin luar negeri dari ortua siswa dan industri, 2) kurang ketrasparan pihak pengelola outlet tentang pengunaan dana prakerin kepada orang tua.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator relevansi program prakerin keluar negeri relevan dengan kebutuhan siswa dengan tingkat capaian sebesar 86.67% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa relevansi program prakerin keluar negeri sudah relevan dengan kebutuhan siswa.
3. Proses (process) pelaksanaan program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari persiapan, pelaksanaan, monitoring dan hambatan pelaksanaan program prakerin.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator persiapan pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 76.85% dalam kategori cukup baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, tidak adanya pengarahan pengisian buku jurnal karena buku jurnal tidak ada dan tidak di ikut sertakan guru pembimbing dalam pembekalan prakerin. Hal ini kurang sejalan dengan Wahyu, (2008:222) .
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 82.55% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa dalam pelaksanaan program prakerin belum dilengkapi dengan uji kompetensi siswa di industri. Hal ini belum yang sesuai dengan kebijakan Dikmenjur (2005:9) evaluasi pelaksanaan praktik kerja industri dilakukan uji kompetensi di industri. Sebagai bukti bahwa telah terlaksananya evaluasi kompetensi prakerin siswa memperoleh sertifikasi dari industri. Sedangkan menurut Nolker dalam Tatang (2000:35) menyebutkan, bahwa instruktur memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam penyelenggaraan ujian.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator monitoring pelaksanaan program prakeri luar negeri tingkat capaian sebesar 67.26% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa 1) kegiatan monitoring yang dilakukan oleh guru pembimbing baru sebatas kunjungan dan pengamatan lapangan dan belum menggunakan instrumen monitoring yang standar, 2) evaluasi pelaksanan prakerin luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang hanya sebatas wawancara dengan siswa dan pihak industri dan belum pernah melakukan evaluasi program prakerin luar negeri. Hal ini sesuai dengan kebijakan Depdiknas (2009) program prakerin yang sudah dilakukan peserta didik perlu dievaluasi untuk melihat kesesuaian antara program dengan pelaksanaannya. Hal ini dimaksudkan sebagai dasar untuk penyusunan program tindak lanjut yang harus dilakukan, baik terhadap pencapaian kompetensi peserta didik maupun terhadap program prakerin.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator hambatan pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 53.78% dalam kategori kurang sekali. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa adanya hambatan dalam pelaksanaan program prakerin antara lain: 1) berbeli-belitnya biokrasi dalam melengkapi dan pengurusan dokumen pemberangkatan prakerin luar negeri, 2) jadwal pemberangkatan tidak sesuai dengan program sekolah sehingga sering terjadi masalah dengan nilai ketuntasan siswa.
4. Hasil (product) yang telah dicapai dari program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari daya serap siswa di industri.
Berdasarkan data hasil penelurusan terhadap siswa yang telah mengikuti prakerin keluar negeri dapat disimpulkan bahwa daya serap siswa yang mengikuti prakerin luar negeri secara keseluruhan baik yang melanjutkan kuliah maupun bekerja lebih tinggi dibanding dengan siswa yang mengikuti prakerin di dalam negeri.
EVALUASI MODEL CIPP
Wakhinuddin
Evaluasi model CIPP merupakan model yang banyak dikenal dan diterapkan oleh para evaluator. Model CIPP dikembangkan oleh Stufflebeam,dkk (1986) di Ohio State University. CIPP merupakan singkatan dari :
Context Evaluation : Evaluasi terhadap konteks
Input Evaluation : Evaluasi terhadap masukan
Process Evaluation : Evaluasi terhadap proses
Product Evaluation : Evaluasi terhadap hasil
Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adala komponen dari proses sebuah program kegiatan. Model CIPP adalah model evaluasi yang memandang program yang dievaluasi sebagai sebuah sistem.