Wakhinuddin’s Weblog


KLASIFIKASI PENELITIAN
November 4, 2009, 1:09 am
Diarsipkan di bawah: PENELITIAN

KLASIFIKASI PENELITIAN
Wakhinuddin S

Penelitian selalu berdasarkan ilmu pengetahan klasifikasinya:
 Penelitian berdasarkan tujuannya
 Penelitian berdasarkan metode yang digunakannya (research approach/ method/ procedures)
 Penelitian berdasarkan data yang ditelitinya
 Penelitian berdasarkan subjeknya yang diteliti

Secara umum setiap ilmu pengetahuan bertujuan mengembangkan ilmu baru, secara khusus ilmu pengetahuan bertujuan:
1) menggambarkan (to describe)
2) meramalkan (to predict)
3) mengendalikan (to control)
4) menerangkan (to explain)

1. Penelitian berdasarkan tujuannya

Penelitian dasar (basic research) adalah penelitian yang bertujuan membentuk suatu teori baru atau membina dan mengembangkan segi teoritis suatu disiplin atau cabang ilmu Tertentu, kegunaannya:
1) mengembangkan kerangka teoritik
2) menemukan dan memperluas pengertian baru tentang fenomena suatu disiplin ilmu.

2. Penelitian terapan (applied/action/ policy research)
Adalah penelitian yang bertujuan mengakumulasikan / mengumpulkan informasi untuk membantu
 Pemecahan suatu masalah yang dihadapi;
 penerapan hasilnya sebagai kebijakan;
 Menindak lanjutinya dalam bentuk aksi kegiatan jadi klasifikasi kegunaan penelitian dari segi penerapannya:
o Pemecahan masalah spesifik
o Membantu pengambilan keputusan-keputusan bagi aksi tindakan / kebijakan.
o Pemecahan masalah spesifik yang terbuka pada ruang, tempat dan waktu tapi bukan untuk sepanjang masa (“for over and ever”)

3. Next……. pada tulisan berikutnya



APA TUJUAN EVALUASI?
Oktober 28, 2009, 7:03 am
Diarsipkan di bawah: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV

APA TUJUAN EVALUASI?

Wakhinuddin

Dasar tujuan evaluasi adalah untuk lebih memahami suatu program atau kejadian. Evaluasi program dilaksanakan untuk memperbaiki usaha-usaha yang telah dilakukan, untuk pertanggungjawaban; meneruskan, memperbaiki atau memberhentikan program. Apa tujuan evaluasi yang sering diajukan? (Untuk contoh):

 Membantu : pembayar pajak, administrator, partisipan, kolega, anggota komite; memahami suatu program atau hasilnya?
 Memperbaiki program?
 Memperbaiki pengajaran?
 Mengukur apakah program membuat kehidupan orang berbeda?
 Menetapkan apakah program mahal?
 Jawaban pertanyaan disikapi oleh pendonor?
 Pengaruhnya terhadap anggota komunitas?
 Menentukan tingkatan dan jabatan pekerjaan yang dituntut
 Menentukan harga/nilai program atau objek, dst.



KOMPONEN KUNCI DALAM KLASTER INDUSTRI
Oktober 26, 2009, 12:58 pm
Diarsipkan di bawah: Konsultan, MONEV, PENELITIAN

KOMPONEN KUNCI DALAM KLASTER INDUSTRI

Wakhinuddin

1. Industri Inti/ champion, adalah industri produk/jasa yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan Klaster selanjutnya. Industri inti memiliki keterkaitan penting dengan industri-industri lainnya di dalam Klaster.
2. Industri Pemasok/Bahan Baku, adalah industri yang memasok bahan baku ke industri inti.
3. Pasar/ konsumen yaitu pengguna produk suatu industri (dapat berupa distributor/ perantara atau pemakai akhir).
4. Industri Pendukung
§ Industri pendukung frequent, adalah industri pendukung yang menghasilkan bahan pendukung (penolong) yang memiliki interaksi intensif dengan industri inti; biasanya berkaitan dengan barang/produk yang terlibat dalam kegiatan produksi industri inti.
§ Industri pendukung non frequent, adalah industri pendukung yang menghasilkan bahan pendukung (penolong), memiliki interaksi relatif kurang intensif; biasanya berkaitan dengan barang/produk yang terlibat dalam kegiatan investasi industri inti.
5. Industri Terkait, adalah industri yang memiliki keterkaitan dengan industri inti karena menggunakan resources yang sama. Kesamaan resources ini bias dalam hal kesamaan bahan baku, teknologi, SDM, jaringan distribusi dan sebagainya. Industri terkait dapat berupa, antara lain:
a. Kompetitor
b. Komplementer
c. Substitutor
6. Instansi / Jasa Terkait, adalah institusi / lembaga yang memiliki interaksi, baik langsung atau tidak langsung, dengan industri inti. Instansi terkait dapat berupa :
§ Lembaga pemerintah, baik pemerintah pusat atau daerah yang merupakan instansi pengatur/penentu kebijakan publik.
§ Asosiasi, adalah perwakilan dari sekumpulan organisasi, baik berupa asosiasi industri, karyawan, ataupun asosiasi pengusaha.



UTILISASI
Oktober 26, 2009, 2:59 am
Diarsipkan di bawah: Pendidikan Kejuruan

UTILISASI
Wakhinuddin
Utilisasi berasal dari kata utilization yang berarti pemanfaatan dan penggunaan. Kemudian yang dimaksud dengan utilisasi dalam penelitian ini adalah pemanfaatan peralatan dalam kegiatan praktikum. Salah satu cara untuk melihat apakah lembaga tersebut masih mungkin atau tidaka lagi untuk ditingkatkan daya tampungnya, maka hal ini dapat dilihat dari jumlah pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada pada lembaga tersebut atau sering disebut dengan utilisasi fasilitas.
Lalu apa yang dimaksud dengan utilisasi dalam sebuah lembaga pendidikan. Banyak orang mengartikan utilisasi hanya jumlah jam dalam pemanfaatan alat, dibanding dengan jumlah pemanfaatan yang direncanakan. Artinya apabila alat yang dirancanakan untuk pemenfaatan 100 jam/semester dan kenyataanya 50 jam/semester maka utilisasi adalah:
= 0.50 atau 50 %
Ini membicarakan gambaran keseluruhan, angka ini tidak berbicara tentang :
1. Banyak siswa yang memanfaatkan alat tersebut.
2. Kegiatan belajar apa yang dilakukan.
3. Apakah waktu 50 jam semata – mata untuk praktek.
4. Apakah waktu praktikum 50 jam sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Selanjutnya penyebab rendahnya utilisasi adalah :
1. Berkurang / bertambahnya jurusan yang dibuka.
2. Kesukaran mengatur jam praktek dan teori dimana satu mata pelajaran dengan yang lainya berbeda.
Menurut Davies (1980) faktor utilisasi adalah perbandingan antara aktifitas (actifity) dengan kapasitas ruangan (capability). Jadi utilitas peralatan pada lembaga pendidikan berarti seberapa besar pemanfaatan alat untuk kegiatan belajar mengajar. Lebih tegasnya utilisasi alat berarti perbandingan seberapa besar alat telah dipergunakan / dimanfaatkan dibanding dengan daya tampungnya.
Banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya dalam menentukan satuan waktu yang dipergunakan. Menurut F. Barrow (1983) (Barrow adalah Tenaga ahli Bank Dunia tahun 80\-an untuk proyek Pendidikan Kejuruan di Indonesia) dalam buletinya mengemukakan bahwa utulisasi fasilitas tergantung pada 3 hal :
- Periode / jumlah jam pemakaian peralatan perminggu.
- Jumlah siswa yang menggunakan fasilitas perminggu.
- Jenis kegiatan yang berlangsung.
Dalam hubungan diatas, bila dalam seminggu fasilitas dirancanakan 40 periode, kenyataan 27 periode maka dinyatakan utilisasinya 27 / 40 = 0.65 atau 65%. Agar dapat dikatakan suatu ruangan telah dimanfaatkan secara (full utilized), maka ruangan itu harus dipergunakan sesuai dengan kapasitas dan fungsinya.
Utilisasi ruangan dan peralatan didalamnya hanyalah sebagian dari utilisasi sumber belajar. Secara garis besar ada 4 faktor yang dapat dilihat dan dihitung yaitu ruangan, peralatan, guru, dan siswa. Dengan demikian, agar sumber belajar dapa termanfaatkan dengan baik maka pemanfaatan peralatan dan ruangnany juga harus dioptimalkan terlebih dahulu.



EVALUASI BERBASIS TUJUAN
Oktober 16, 2009, 3:30 am
Diarsipkan di bawah: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV, PENGUKURAN (MEASUREMENT)

EVALUASI BERBASIS TUJUAN
by Wakhinuddin

Pada umumnya suatu program menetapkan dulu tujuan-tujuan progamnya. Tujuan ini sering disampaikan pada perencanaan awal program, dan merupakan usaha-usaha yang akan dilaksanakan dan terukur, yang diturunkan dari misi organisasi tersebut, dan biasanya tujuan suatu program terukur.
Evaluasi berbasis tujuan merupakan penilaian tingkat mana program telah mencapai tujuannya. Pertanyaan untuk saudara jawab sendiri, ketika merancang suatu evaluasi untuk mengungkapkan apa tujuan tercapai:
1. Bagaimana tujuan program dicapai?
2. Apa proses efektif?
3. Apakah status perkembangan program mengarah kepada pencapaian tujuan?
4. Apakah tujuan dicapai sesuai jadwal waktu perencanaan implementasi program? Jika tidak, kenapa?
5. Apakah personil mempunyai kelayakan sumber-sumber/potensi (uang, perlengkapan, fasilitas, pelatihan, dan lainnya) untuk mencapai prestasi tujuan?
6. Apa yang harus diprioritaskan diubah untuk mencapai lebih focus mencapai prestasi tujuan? (Tergantung pada konteks, pertanyaan ini lebih cenderung menilai keputusan manajemen program, daripada pertanyaan eveluasi program)
7. Apakah jadwal berubah (hati-hati tentang perubahan jadwal ini – cari tahu kenapa diubah)?
8. Bagaimana tujuan diubah (hati-hati tentang perubahan ini – tahu kenapa tidak mencapai tujuan)? Apakah beberapa tujuan ditambah atau dikurangi? Kenapa?
9. Bagaimana tujuan disusun untuk masa depan?



PENSKALAAN (SCALING)
Oktober 12, 2009, 5:40 am
Diarsipkan di bawah: MONEV, PENGUKURAN (MEASUREMENT)

PENSKALAAN
by Wakhinuddin

Skala adalah seperangkat lambang atau angka yang dibuat sehingga melalui aturan lambang atau angka itu dapat ditempatkan posisi individu atau perilaku yang menjadi sasaran penggunaan skala. Selanjutnya, dapat dikatakan penskalaan (scaling) adalah suatu pengukuran kontinum pada suatu objek, person, atau peristiwa. Sehingga, penskalaan adalah prosedur dalam menentukan letak stimulus atau respon pada suatu garis kontinum. Dengan demikian dapat dikatakan, penskalaan merupakan fasilitas yang sengaja dibuat untuk menghasilkan angka pada kontinum, dan ini dapat dijadikan sekor bagi siswa.
Skala mempunyai informasi, semakin besar informasi yang diberikan semakin tinggi level skalanya, level skala terrendah sampai tertinggi dapat diurut sebagai berikut: skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio. Bila ditinjau dari orientasi pengukuran skala dapat dibagi atas pendekatan sitimulus, pendekatan respons, dan pendekatan subjek. Pendekatan orientasi berpusat pada respons sesuai dengan karakteristik penskalaan penelitian. Karakteristik itu adalah jawaban yang disusun bertingkat, dimulai dari butir jawaban rendah hingga ke butir jawaban tinggi. Prosedur yang demikian dikenal dengan penskalaan Guttman (analisis skalogram). Jika siswa dapat mengerjakan salah satu aktivitas, maka aktivitas yang lebih rendah semestinya dapat juga dikerjakannya.
Dalam proses pengukuran menggunakan skala, yang terjadi adalah skala sebagai stimulus dan mengharapkan ada respons (jawaban) dari siswa atau penilai. Respons dari siswa disebut pengukuran langsung (direct), sedangkan respons melalui penilai (juri) disebut pengukuran tidak langsung (indirect).
Skala pada penelitian ini pada awalnya memakai level rasio, karena memakai bilangan nyata (real-number), skala ini sesuai dengan keadaan sesungguh bahwa siswa yang tidak mempunyai kompetensi dinilai dengan angka nol (0). Dalam kondisi demikian, penilai (juri) harus memberhentikan siswa tampil, bila tidak diberhentikan siswa dapat merusak komponen mesin. Secara numerik dapat dikatakan pemakaian angka nol (0) adalah suatu kewajaran, sebab garis kontinum dimana sajapun berada tetap dimulai dari angka nol; bahkan tidak wajar bila dimulai dari angka bukan nol.
Namun Lee J. Cronbach (dalam Randall E. Schumacker), tidak percaya suatu skala pengukuran mempunyai titik nilai absolut. Seiring dengan itu, opini Cronbach tentang model Rasch menyebut data ‘kotor’ (messy). Kritik ini terutama diarahkan kepada pengukuran unidimensi suatu variabel (faktor), Cronbach mempunyai persepsi bahwa suatu suatu faktor memiliki multidimensi. Peneliti menyolang pendapat Cronbach, karena teknik analisis statistik kecocokan (X2) dan analisis faktor (analisis komponen utama) dapat mendeteksi residu data.
Pada proses pengolahan data, karena mempertimbangkan angka tujuh (7) sebagai kriteria batas lulus pada mata pelajaran produktif di SMK, maka level skala dibuat menjadi ordinal, yang dikategorikan atas empat kelompok kompetensi; kategori pertama siswa tidak kompeten, kategori kedua siswa kurang kompetensi, kategori ketiga siswa mempunyai kompetensi minimal, kategori keempat siswa mempunyai kompetensi bagus.



APA ITU LOG FRAME?
September 29, 2009, 7:37 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

APA ITU LOG FRAME?
by Wakhinuddin S

Secara sederhana, suatu log frame adalah aliran logis suatu pekerjaan atau peristiwa, dan dapat menganalisis suatu pekerjaan, terdiri dari empat kategori: input, aktivitas, output, dan outcome (hasil dampak).
Ini merupakan urutan aliran program Berantas buta huruf, mulai dari:
1. input (sumber-sumber, seperti : pendanaan, pekerja, peralatan, perlengkapan, guru, kurikulum),
2. aktivitas kerja, program atau proses pembelajaran,
3. output, berapa jumlah peserta selesai program, mempunyai nilai ≥7,
4. outcome, warga membeli koran.
Diagram alir model umum log frame:

INPUT > AKTIVITAS ATAU PROSES > OUTPUT > OUTCOME



SURVEY IKM BORDIR
September 5, 2009, 7:05 am
Diarsipkan di bawah: Konsultan

PERUSAHAAN IKM T… Bordir

Proyek ini disebut On company Level, dari Deprindag. Proyek dampingan ini, dimulai dari menganalisis kelamahan perusahaan IKM sampai kepada manajerial mengatasi masalah dan modal dari Deprindag. Metode dipakai survey dan analisisi gap.

2.1. Aspek Produksi

a. Mesin Peralatan
Perusahaan ini memiliki peralatan mesin bordir putih (merek Yuki) 6 buah yang digunakan untuk memproduksi bordir jenis kerancang (terawang) teknik solder. Pada tahun 2006 mampu memproduksi baju kebaya/kurung 10 kodi/tahun, selendang emas 36 lembar/tahun, bantal kursi 48 set/tahun, mukena Kw II 48 stel/tahun dan mukena Kw III 300 stel/tahun. Disamping jenis mesin Yuki, juga memiliki mesin biasa (mesin htam) 7 buah yang digunakan untuk memproduksi bordir jenis kerancang tanpa silder (Kw I). Pada tahun 2006 mampu memproduksi baju (Kw I) 9,5 kodi/tahun, dan mukena 24 stel/tahun.
Dari ke dua jenis mesin ini dapat disimpulkan bahwa jenis bordir kerancang mesin biasa memproduksi dengan kemampuan kapasitas lebih sedikit dan waktunya lebih lama.
Mesin dan peralatan yang ada sekarang hanya digunakan untuk produksi bordir, sedangkan untuk menyambungkan kain-kain potongan baju atau mukena dijahit dengan cara upah borongan pada perajin lain di luar perusahaan. Cara ini menimbulkan ongkos produksi lebih tinggi, karena itu pimpinan perusahaan sangat berkeinginan untuk mengelola penjahitan produk sendiri, namun masih terkendala dengan peralatan lain seperti tambahan mesin jahit biasa, mesin obras dan mesin pemasangan kancing.

b. Bahan Baku dan Pendukung
Perusahaan ini menggunakan bahan tergantung bahan yang dibawa pelanggan. Mutunya berkualitas sedang untuk produk mukena, selendang dan sarung bantal. Sedangkan untuk produk baju bervariasi mulai bahan kualitas baik hingga kualitas sedang. Karena perusahaan mengelola produksi dengan menerima upah dari pelanggan tetap dan tidak tetap, maka penyediaan bahan baku mayoritas dibawa pelanggan tetap (toko Silingkang Bagonjong). Untuk produk mukena menggunakan jenis bahan silky, produk selendang, menggunakan jenis bahan suparta, organdi. Sedangkan produk bantal kursi bahannya abutai dan produk baju umumnya menggunakan bahan suparta, sutra dan jenis bahan silk lainnya.

c. Proses Produksi
Pengelolaan produksi dilakukan berdasarkan pola tradisional yang berlatar pengalaman berusaha selama 9 tahun dan belum mengikuti metoda-metoda berproduksi secara internasional baik dari sistem produksi (layout) maupun fasilitas penunjang lainnya.
Pola produksi dilakukan dengan diawali adanya pesanan dari pelanggan berupa baju kebaya/baju kurung bordir, mukena, selendang, bantal kursi, motif dasar bordir, bahan dan desain warna serta desain ….. bordir. Selanjutnya arus pesanan tersebut dihitung biaya produksi, setelah disepakati hanya dengan pemesanan langkah berikutnya mempersiapkan bahan pembantu (benang), memindahkan dan menyusun motif di atas kain. Kain yang telah bermotif dilanjutkan membordir suatu contoh produk untuk kesepakatan dengan pemesan. Setelah contoh produk disepakati oleh pemesan, maka langkah selanjutnya memproduksi bordir sampai dengan jumlah pesanan terpenuhi.
Proses produksi berlangsung: 1) diawali dengan pembuatan desain model produk, 2) pembuatan desain motif, warna, teknik hias bordir, 3) pemotongan bahan secara global, pembuatan pola, 4) penyusunan motif di atas bahan, 5) pembordiran, 6) pemotongan dan penjahitan bahan berdasarkan pola (dikerjakan dengan sistem borongan pada perajin lain di luar perusahaan), 7) penyortiran, 8) finishing dan pengepakan.

Dari cara mendesain dari hasil yang ditampilkan tampak perusahaan belum profesional dalam mendesain.

Sumbernya di perusahaan ini relatif kurang dibina secara memadai meski telah memiliki kemampuan membordir yang cukup, namun SDM di perusahaan ini mesih diperlukan pengingkatan kemampuan dalam hal quality control serta penambahan wawasan dan keterampilan dalam menciptakan desain yang baru, teknologi produksi pakaian jadi, manajemen produk, manajemen perusahaan.

2.2. Aspek Mutu dan desain
Produksi perusahaan ini menggunakan bahan-bahan yang bervariasi, yaitu mulai dari bahan yang berkualitas sedang hingga bahan yang berkualitas sangat baik. Pada umumnya bahan dibawa langsung oleh pemesan baik pelanggan tetap maupun sesaat. Sekmentasi pasar umumnya tergolong kelas menangah ke atas.
Jika ada pemesan membutuhkan bahan dari perusahaan, biasanya pimpinan membeli bahan yang ada di pasar tanpa melalui agen, distributor ataupun pabrik. Dengan demikian di samping harga bahan tinggi juga mutu terbatas, karena sulit mendapatkan mutu bahan yang berkualitas baik untuk kelas menengah ke atas. Hal ini munjukkan bahwa mutu produk yang dihasilkan cukup baik.
Mutu desain relatif baik, namun masih perlu pengembangan dalam susunan motif, komposisi warna, teknik hias, dan teknik produksi pakaian jadi. Di samping itu pengusaha sangat berkeinginan mengembangkan produk baju dengan bermacam model yang dapat diekspor ke Malaysia. Hal ini ditunjang oleh kondisi 3 tahun belakangan ini produk yang diproduksi sudah mulai jenuh di pasaran.

2.3. Aspek Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan ini berjumlah 13 orang, terdiri dari 6 orang pembordir memakai mesin Yuki dan 7 orang pembordir menggunakan mesin biasa. Sementara untuk pengadaan bahan pembantu, administrasi dan pemasaran dilakukan sendiri oleh pemilik.

2.4. Aspek Pemasaran
Modus pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan ini adalah dengan memasok ke beberapa pelanggan di pasar kota Padang, yaitu dengan cara menerima upah tetap. Diantara pelanggan tetap adalah toko Silungkang Bagonjong, dinas Perindustrian kota Padang, kator-kantor Pemda Padang. Sedangkan pelanggan tidak tetap adalah titipan produk mukena ke pasa Malaysia melalui pedagang. Valume pemasaran pada tahun 2005 ke Malaysia mencapai 9 kodi/tahun. Sedangkan sissanya dipasarkan dalam lokal, yaitu mukena 363 stel/ tahun, bantal kursi 48 set/tahunselendang 36 lembar/tahun dan baju 19,5 kodi/tahun.

Karena sistem upah dan barang yang selesai diproduksi langsung diambil oleh pedagang maka kendala dalam pemasaran lokal belum dirasakan, sebab terjadinya keseimbangan antara serapan pasar dengan hasil produksi. Namun hasilnya produksi terbatas karena tergantung pada pemintaan pasar. Perusahaan telah sering mengikuti pemeran-pameran lokal maupun luar untuk salah satu strategi produksi melalui program kegiatan Deperindag.

2.5. Aspek Administrasi dan Keuangan
Proses adminitrasi dan pengelolaan keuangan pada perusahaan ini sudah menggunakan sistem pencatatan secara sederhana. Perlu pengembangan pengelolaan pembuatan pembukaan yang tertib dengan sistem pembukuaan debet dan kredit dan menggunakan jurnal pengeluaran dan pemasukan, baik untuk pencatatan produksi, tenaga kerja (perajin), bahan baku, keuangan serta arsip desain.

Dilihat dari segi keuangan, perusahaan ini tidak mampu meningkatkan kapasitas produksinya diakibatkan oleh keterbatasan modal kerja khususnya dalam penyediaan bahan baku dan peralatan.



MINAT SISWA SMP MASUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
September 4, 2009, 6:39 am
Diarsipkan di bawah: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, PENELITIAN, Pendidikan Kejuruan

BAB V
PENUTUP

(STUDI TENTANG MINAT SISWA SMP MASUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KOTA SAWAHLUNTO)

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang minat siswa SMP masuk Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Sawahlunto, dapat disimpulkan yakni sebagai berikut:
1. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Dari Dalam Diri Siswa tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya sama.
2. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Dari Luar Diri Siswa tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya hampir sama.
3. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Ekonomi Keluarga tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya hampir sama.
4. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Jaminan Masa Depan tergolong baik karena banyak yang berminat untuk masuk SMK.
5. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto Berdasarkan Pengaruh Lingkungan tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya sama.
6. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Potensi Yang Dimiliki Siswa tergolong cukup karena banyak yang tidak berminat untuk masuk SMK.

B. Saran-saran
Berdasarkan temuan hasil penelitian yang dikemukakan diatas, maka ada beberapa saran yang mesti dipertimbangkan, yaitu:
1. Kepada Direktorat Pembinaan SMK, agar meningkatkan promosi tentang SMK di setiap media massa.
2. Kepada pihak pengelola SMK, agar dapat meningkatkan promosi di sekitar lingkungan sekolah serta meningkatkan kualitas lulusannya.
3. Kepada pihak pengelola SMP, agar memberi dukungan dan menfasilitasi promosi SMK di sekolah tersebut.
4. Kepada orang tua siswa, agar dapat memberi dukungan dan mengarahkan anaknya untuk masuk ke SMK.



HASIL BELAJAR
September 3, 2009, 5:55 am
Diarsipkan di bawah: EVALUASI HASIL BELAJAR, Pendidikan

HASIL BELAJAR
Oleh : Wakhinuddin S

1. Belajar
a. Pengertian belajar

Belajar adalah proses/hasil perubahan pada aspek kapabilitas (pengetahuan, sikap dan keterampilan, dan perilaku) sebagai akibat berintraksi dengan lingkungannya. Perubahan perilaku yang relatif permanen itu ditentukan oleh stimuli yang dipasok oleh lingkungan luar seseorang, perubahan tingkah laku seseorang dapat dikendalikan melalui pengendalian stimuli lingkungan yang tepat sebagai hasil latihan.
Beberapa pendapat para ahli tentang defenisi belajar diantaranya Bower (1975:35) “belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan kematangan”. Menurut Gagne (1977:132) “Belajar terjadi apabila sesuatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”. Morgan (2008:18) memberikan definisi belajar adalah Setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Wetherington (1992:56) berpendapat belajar yaitu suatu perubahan didalam kepribadian yang mengatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian, jadi definisi belajar dari beberapa elemen:
1) Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. 2) Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. 3) Belajar adalah perubahan relatif mantap, harus merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. 4) Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.

Dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu terjadi melalui latihan atau pengalaman yang berulang-ulang. Perubahan belajar selalu dilakukan oleh individu sepanjang hidupnya, sedangkan perubahan yang terjadi pada diri individu yang belajar dapat berupa hasil belajar yang diperoleh.

b. Prinsip- prinsip Belajar
Belajar terjadi lebih efektif apabila:
1) Dalam lingkungan yang nyaman secara fisik dan psikis bagi wajib belajar.
Nyaman fisik: sarana dan prasarana belajar yang memadai dan menyenangkan.
Nyaman psikis: hubungan saling percaya, saling menghargai, saling membantu, bebas menyatakan pendapat, dan menerima perbedaan diantara wajib belajar dan pendidik.
2) Wajib belajar merasakan kebutuhan belajar.
Wajib belajar menganggap tujuan belajar sebagai tujuannya sendiri.
3) Wajib belajar terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan belajar
Wajib belajar aktif dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar.
4) Berpusat pada pengalaman
Wajib belajar mengalami secara langsung atau tidak langsung proses belajar dan menggunaan pengalamannya secara tepat.
5) Wajib belajar menerima umpan balik yang tepat untuk menilai keberhasilan mereka mencapai tujuan.

2. Hasil Belajar
a. Pengertian hasil belajar

Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui proses belajar dan dipengaruhi oleh faktor yang bersifat internal atau eksternal. Perubahan yang terjadi biasanya dapat dilihat dengan bertambah baiknya atau meningkatnya kemampuan yang dicapai seseorang. Pengertian hasil belajar, merupakan segala sesuatu yang diperoleh, dikuasai atau merupakan hasil proses belajar mengajar”. Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”.
b. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Belajar merupakan sebagai suatu aktivias mental atau psikis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah:
1). Faktor internal (dalam diri siswa) yakni keadaan/kondisi jasmani (fisologis) dan rohani (aspek psikologis) seperti tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa
2). Faktor eksternal (faktor luar dari siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar diri siswa yang terdiri dari dua macam yakni: faktor lingkungan sosial dan lingkungan non sosial.
3). Faktor pendekatan belajar (approachto learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran.