Wakhinuddin’s Weblog


INSTRUMEN PENGENALAN REKOMPAK DAN MITRA KERJA
Oktober 28, 2010, 4:19 am
Filed under: Konsultan

INSTRUMEN PENGENALAN REKOMPAK DAN MITRA KERJA

by Wakhinuddin S (social expert, DMC IV Re-kompak, Tapaktuan – Aceh Selatan, 2006)

12. Apakah anda mengetahui adanya program Re Kompak di desa ini?
a) Sangat Mengetahui
b) Mengetahui
c) Kurang Mengetahui
d) Tidak

13. Pernahkah anda diundang untuk mengikuti rembug warga yang membicarakan tentang program RE KOMPAK?
a) Ya
b) Tidak
Jika ‘Ya’, seberapa sering anda diundang?
a) Sangat sering
b) Sering
c) Jarang

14. Apakah kegiatan rembug warga dilaksanakan sebagai sarana musyawarah masyarakat dalam pengenalan Program RE KOMPAK ?
a) Ya
b) Tidak

Jika ‘Ya’, seberapa sering rembug warga tersebut dilakukan?
a) Sangat sering
b) Sering
c) Jarang

Seberapa sering anda diundang dalam rembug warga tersebut:
a) Sangat sering
b) Sering
c) Jarang
d) Tidak pernah

15. Berapa jumlah warga, khususnya warga yang berasal dari Keluarga Korban Gempa dan Tsunami yang terlibat dalam kegiatan rembug warga ?
a) 90 % dari jumlah warga Korban
b) 60 % dari jumlah warga Korban
c) 30 % dari jumlah warga Korban
d) Kurang dari 30 % dari jumlah warga Korban.

16. Apakah Diskusi Kelompok Terfokus (DKT) – sebagai lembaga musyawarah dalam penggalian gagasan warga dilaksanakan di tingkat desa?
a) Ya, ada dan aktif dilaksanakan
b) Ya, ada tapi sudah tidak aktif
c) Telah diganti dengan rembug warga. Mohon jelaskan secara ringkas rembug tersebut_______________________________________________
____________________________________________________________

d) Tidak

Jika ‘Ya’ tetap ada dan aktif, seberapa sering DKT tersebut dilakukan?
a) Sangat sering
b) Sering
c) Jarang

Seberapa sering anda diundang dalam DKT tersebut:
a) Sangat sering
b) Sering
c) Jarang
d) Tidak pernah

17. Berapa banyak warga masyarakat, khususnya warga keluarga korban Gempa atau Tsunami yang terlibat dalam setiap Diskusi yang dilakukan?
a) 90 % dari jumlah warga korban
b) 60 % dari jumlah warga korban
c) 30 % dari jumlah warga korban
d) Kurang dari 30 % dari jumlah warga korban

18. Apakah ada Kelompok Pemukiman (KP) di lingkungan desa Anda, yang bertugas membuat proposal Dokumen Teknik Pembangunan Perumahan (DTPL)?
a) Ya, ada dan aktif
b) Ya, ada tapi tidak aktif.
c) Tidak ada PK tapi telah diganti dengan bentuk kelompok masyarakat (POKMAS) yang lain. Mohon jelaskan secara ringkas tentang keberadaan kelompok tersebut :
Nama Kelompok ______________________________________________
Ketua Kelompok ____________________________________________
Lama berdiri Kelompok________________________________________
d) Tidak ada.

Jika ‘Ya’ dan masih ada dan tetap aktif, apakah KP melanjutkan tugasnya – dalam rangka perguliran modal pembangunan rumah bersumber dari Bank Dunia – sesuai dengan kebutuhan kegiatan yang diusulkan?
a) Sangat Sesuai
b) Sesuai dengan
c) Kurang sesuai
d) Tidak sesuai

19. Apakah pertumbuhan jumlah KP yang terbentuk di awal Program RE KOMPAK sudah mewakili upaya suara/pendapat warga lingkungan Desa ?
a) Sangat mewakili
b) Cukup mewakili
c) Kurang mewakili
d) Tidak mewakili.

20. Apakah anda mengetahui di desa Anda ada Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai fasilitator membuat proposal Dokumentasi Teknik Pembangunan Lingkungan (DTPL) untuk Pembangunan Perumahan korban Gempa atau Tsunami?
a) Sangat mengetahui
b) Mengetahui
c) Kurang Mengetahui
d) Tidak Mengetahui

21. Apakah anda mengetahui di desa Anda ada Proyek Pengembangan Kecamatan (PP2KP) sebagai fasilitator membuat proposal Dokumentasi Teknik Pembangunan Lingkungan (DTPL) untuk Pembangunan Perumahan korban Gempa atau Tsunami?
a) Sangat mengetahui
b) Mengetahui
c) Kurang Mengetahui
d) Tidak Mengetahui

22. Apakah anda mengetahui di desa Anda ada Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) yang diangkat Bupati untuk berperan sebagai penanggungjawab administrasi pelaksana Re-Kompak?
a) Sangat mengetahui
b) Mengetahui
c) Kurang Mengetahui
d) Tidak Mengetahui

23. Apakah anda mengetahui di desa Anda ada FASRUM (Fasilitator Perumahan) yang mengorganisir calon penerima hibah dan membuat DTPL?
a) Sangat mengetahui
b) Mengetahui
c) Kurang Mengetahui
d) Tidak Mengetahui.

24. Apakah anda mengetahui di desa Anda ada Tim Relawan Pemukiman TKP/Kerap?
a) Sangat mengetahui
b) Mengetahui
c) Kurang Mengetahui
d) Tidak Mengetahui.

25. Apakah TKP melakukan rembug warga sebagai sarana musyawarah masyarakat dalam kegiatan Program RE KOMPAK ?
a) Ya
b) Tidak

Jika ‘Ya’, seberapa sering rembug warga tersebut dilakukan?
a) Sangat sering
b) Sering
c) Jarang

26. Apakah ada Tim atau kelompok lain di luar yang di atas, tuliskan _______________________________________________________________
______________________________________________________________

E. Bantuan

27. Apakah anda mengetahui bahwa program Re-Kompak dapat memanfaatkan dana bantuan Bank Dunia?
a) Sangat Mengetahui
b) Mengetahui
c) Kurang Mengetahui
d) Tidak Tahu

28. Apakah anda mengetahui besar dana yang didapat dari bantuan Bank Dunia?
e) Sangat Mengetahui
f) Mengetahui
g) Kurang Mengetahui
h) Tidak Tahu

29. Apakah pemanfaatan dana Bank Dunia dalam kegiatan program RE KOMPAK, dilaksanakan secara transparan, partisipatif dan dapat dipertanggungjawabkan?
a) Sangat sesuai
b) Sesuai
c) Kurang sesuai
a) Tidak sesuai.

Iklan


KARAKTER DAN PEMBELAJARAN
Oktober 26, 2010, 4:49 am
Filed under: Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Kejuruan

KARAKTER DAN PEMBELAJARAN
Wakhinuddin S

Karakter adalah sifat pribadi yang relatif stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi. Karakter berbasis pada nilai dan norma (Prayitno dan Belferik Manullang, 2010). Ada tujuh nilai-nilai standard yang memandu perilaku seseorang, dalam hal : (1) isu sosial, (2) kecenderungan arah ideologi religius atau politis, (3) memandu diri sendiri, (4) sebagai standard untuk evaluasi diri dan orang lain, (5) sebagai dasar perbandingan kemampuan dan kesusilaan, (6) sebagai standar untuk membujuk dan mempengaruhi orang lain, dan (7) sebagai standar merasionalkan sesuatu hal (dapat diterima atau tak dapat diterima), sikap dan tindakan melindungi, memelihara, dan tentang mengagumi sesuatu/seseorang atau diri sendiri (Josephson Institute of Ethics, 2008).
Nilai-nilai adalah pemandu perilaku seseorang, seperti standard untuk menilai perilaku. Nilai-nilai etis dalam definisi ini setara dengan moral menilai. Nilai-nilai moral menunjuk jenis nilai-nilai hubungan antar pribadi, ketika dilanggar, menimbulkan kepedihan dalam hati atau merasa rasa bersalah. Nilai-Nilai etis kemudian berfungsi sebagai suatu pemandu tentang hak/kebenaran perilaku hubungan antar pribadi.
Karakter dapat digambarkan sebaga suatu struktur nilai yang memandu perilaku individu dalam suatu konteks (organisasi). Karakter mempunyai struktur terdiri dari nilai-nilai perilaku etis yang mengatur dua dimensi, dimensi karakter acuan nilai, dan dimensi jenis perilaku dan target perilaku.
Nilai-nilai (values) dapat didefinisikan sebagai ukuran dari perbuatan, keindahan atau harga yang dimiliki seseorang. Orang yang memiliki nilai-nilai tertentu akan berusaha untuk berbuat sesuai dengan ukuran (standar) tersebut atau berusaha untuk mempertahankannya. Dengan demikian nilai adalah pertmbangan internal dan eksternal, yang dimiliki seseorang tentang sesuatu barang atau perbuatan.
Berkaitan dengan proses pembelajaran, perubahan sikap siswa dapat dilalukan melalui: teori pembelajaran, teori fungsional, teori pertimbangan sosial, dan teori konsistensi. Kaitan sikap dengan nilai-nilai merupakan konstruk hipotetik, dan menjadi pendorong bagi seseorang untuk terwujudnya perilaku siswa. Nilai lebih berbentuk global dari pada sikap diri, tentunya lebih abstraktif.



FUNGSI TES SEBAGAI ALAT EVALUASI HASIL BELAJAR
Oktober 19, 2010, 2:21 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, Pembelajaran

FUNGSI TES SEBAGAI ALAT EVALUASI HASIL BELAJAR
Wakhinuddin S

Tes sebagai alat evaluasi hasil belajar minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:

1. Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.
2. Untuk menentukan kedudukan atau peringkat mahasiswa (sswa) dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.

Fungsi pertama lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran, sedang fungsi, fungsi ke dua lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.



PENILAIAN BIAS
Oktober 15, 2010, 3:03 am
Filed under: Pendidikan

PENILAIAN BIAS
Wakhinuddin S

Apakah ada bias, seperti perilaku atasan, instruktur, guru yang ofensif, tidak adil, pemakaian bahasa, dan lainnya. Mengingat bias sesuatu yang tidak diinginkan, namun kebearadaan bias dalam cara menilai seseorang (siswa). Beberapa jenis dari kesalahan bias personal sering terjadi. Pertama, kesalahan kemurahan hati (generosity error), kejadian bias ini seorang guru menilai tinggi (higher ratings) daripada sebenamya. Pada ekstrim lain, beberapa guru memper¬lihatkan kesalahan ketegahan hati (severity errors). Kesalahan ketegahan hati cenderung memberi nilai dibawah (underrate) kualitas kerja siswa. Kesalahan bias personal lainnya diketahui sebagai kesalahan ‘keeende¬rungan terpusat’. Suatu kecenderungan guru memandang nilai siswa-siswa menumpuk `di tengah’. Kesalahan bertambah bila guru terpengaruh kehor¬atan keluarga dan individu siswa. Kesalahan ini disebut sebagai halo effect. Satu cara meminimalkan halo effect adalah. membalik nilai siswa posisi rendah ke siswa posisi nilai tinggi pada skala skor sehingga guru tidak berpikir melantun jauh memberi nilai siswa.



BEBERAPA ALASAN PEMAKAIAN PENILAIAN UNJUK KERJA
Oktober 13, 2010, 8:42 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR

BEBERAPA ALASAN PEMAKAIAN PENILAIAN UNJUK KERJA

Wakhinuddin S

Dalam usaha memberi justifikasi terhadap Penilaian unjuk kerja (performance) ma¬ka harus ada alasan kenapa memakai penilaian unjuk kerja, yaitu:
1. Ketidakpuasan dengan tes respon-seleksi. Pendukung penilaian unjuk kerja cenderung Percaya bahwa tes pilihan ganda dan pilihan binary (benar-salah) hanya berkisar pada. menyebut pengenalan (recognition), pengujian itu tidak menyediakan keterampilan berpikir tinggi seperti apakah siswa dapat memecahkan masalah, sintesis atau berpikir bebas. Bahkan tes respon-seleksi memiliki bias ketidakadilan tes dari domain isi.
2. Pengaruh psikologi kognitif. Psikologi kognitif Percaya bahwa siswa mesti Mendapatkan isi Pengetahuan dan prosedur pengetahuan. Psikolog beralasan bahwa semua tugas kognitif menuntut kedua jenis pengetahuan, tetapi untuk jenis tugas tertentu, ada perbedaan penekanan pada kedua jenis pengetahuan. Karena jenis utama prosedur pengetahuan tidak dapat disatukan via tes respon-seleksi beberapa psikolog kognitif Menyebut untuk meningkatkan kualitas penggunaan penilaian unjuk kerja dalam pendidikan, hendaklah pembelajaran menekankan siswa mahir mengurai prosedur pengetahuan.
3. Suatu saat pembelajaran sukar menggunakan tes konvensional. Pada tes Pendidikan, guru cenderung menekankan isi pembelajaran diwujudkan dalam tes. Namun, pada Pembelajaran yang didominasi keterampilan, skor siswa naik meskipun menguasaan mereka atas tanah keterampilan dan pengetahuan diungkapkan bukan dengan tes.



MUTU PENDIDIKAN RENDAH ?
Oktober 11, 2010, 8:13 am
Filed under: Pendidikan

MUTU PENDIDIKAN RENDAH ?
Wakhinuddin S
Kemungkinan disebabkan oleh:
• Kekurangan prasarana / sarana ?
• Revisi kurikulum ?
• Kepemimpinan kepala sekolah tidak baik?
• Penataran guru tidak bermutu ?
• Tidak semua Guru mempunya komitmen terhadap kualitas pendidikan?
• Evaluasi pendidikan belum komprehensif?
• Umpan balik evaluasi pendidikan tidak ditanggapi?
• Desentralisasi kebablasan ?
• Komite Sekolah/ Dewan Pendidikan ?
• Masyarakat tidak perhatian pada pendidikan?
• Pakar pendidik kurang aktif?
• LPTK kurang aktif?
• Parpol tidak aktif mengkritisi pendidikan?
• LSM diam?
• Pemda kurang memperhatikan pendidikan di daerahnya?
• Penghasilan orang tua kurang memadai?
• Sebaran guru tidak terdistribusi baik?
• Siswa kurang serius belajar? Guru tidak mampu memotivasi siswa dan orang tuanya?
• Siswa tidak sepenuhnya aktif mengikuti aktivitas pembelajaran? Ada siswa bekerja sambil belajar?
• Sekolah tidak terdistribusi baik?
• MGMP tidak aktif?
• Masyarakat terlalu intervensi dalam penentuan kualitas input dan proses pembelajaran?
. Program-program dari departemen tidak memiliki dampak konstruktif positif pada sekolah



Evaluasi Sumatif
Oktober 3, 2010, 5:15 am
Filed under: Uncategorized

Evaluasi Sumatif
(Ringkasan)

Oleh Wakhnuddin

Evaluasi sumatif digunakan untuk menentukan nilai siswa, keterangan tentang keterampilan dan kecakapan, keberhasilan belajar siswa, titik tolak pelajaran berikutnya, indikator prestasi siswa dalam kelompoknya (Prawironegoro, 1980:4; Joesmin, 1988:25). Evaluasi ini menitik beratkan pada status individu siswa alm kelompok. Pada umumnya, sitem penilaian adalah norm referenced Test (NRT) atau Penilaian Acuan Norma (PAN) (Woolfolk dan nicolich, 1984:570). Sedangkan her (perbaikan) digunakan memperbaiki skor siswa yang diperoleh dalm tes sumatif.