Wakhinuddin’s Weblog


SUMBER DATA EVALUASI HASIL BELAJAR
Juli 27, 2009, 3:12 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, Pendidikan, Pendidikan Kejuruan

SUMBER DATA EVALUASI HASIL BELAJAR

by Wakhinuddin S

Untuk mengungkapkan data tentang hasil belajar, ajukan pertanyaan, apakah dan dimana sumber – sumber informasi tersedia?
Itu mudah jawabannya, kalau cuma dari ujian dan observasi langsung, terlalu sederhana atau tidak menyeluruh, ada baiknya ungkapkan melalui sumber lain, yaitu dari:
– Tes (buatan guru, instruktur, pegawai atau sistem sekolah)
– standarisasi ujian di sekolah (KKM)
– individu atau kelompok dan laporan
– isian yang formal
– lembaran observasi non tes
– inventaris dokumen atau tape/video
– penelitian tingkah laku (sikap) – langsung dan tidak langsung
– laporan dari teman sejawat
– laporan dari teman sebaya
– laporan sendiri
– prestasi masa lalu
– laporan dari pegawai atau organisasi
– penilaian pada standar hasil
– perbandingan pada kelompok norma (PAN) atau rata – rata
(mean).

Iklan


PERSEPSI SISWA SMP MELANJUT KE SMK
Juli 25, 2009, 6:01 am
Filed under: Pendidikan, Pendidikan Kejuruan, PENELITIAN

PERSEPSI SISWA SMP MELANJUT KE SMKOleh Wakhinuddin S

A. Latar Belakang
Pencitraan Sekoah Kejuruan tampak begitu gencarnya, mulai dari Pak Menteri Bambang Sudibyo sampai ke Bung Tamtowi Yahya, sering tampil dilayar kaca, yang pada hakekatnya menyampaikan pesan bahwa lulusan SMK dapat membuat orang lebih baik kehidupannya. Asumsi ini telah diwujud Depdiknas dalam bentuk kebijakan pembangunan sekolah baru dan penerimaan siswa di tingkat SLTA, yaitu : SMK (60%) SMU (40%). Untuk itu, jika kita amati pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) SMK banyak didirikan, sekarang hampir satu Kabupaten/kota paling tidak terdapat dua SMK baru. Namun, pembangunan fisik jika tidak diiringi dengan kualitas, hasilnya bisa mengecewakan. Untuk itu perlu ada pencitraan lebih dari SMK dan peningkatan kualitas pembelajaran dan sarana lainnya, agar persepsi anak muda untuk melanjut ke SMK bernilai positif. Disamping itu, survey sepintas lalu yang dilakukan, untuk SMK di pingiran kota dan desa umumnya lebih banyak mendaftar ke SMK, ketimbang ke SMU, bahkan untuk prodi keahlian tertentu seperti TKJ (Teknik komputer dan jaringan) dan Otomotif lulusan SMP yang mendaftar melebihi kuota kelas, seperti di desa Mandiangin, Kab. Sarolangun – Jambi.
Asumsi SMK untuk mempersiapkan siswa bekerja, semestinya benar, karena tujuan umum SMK adalah untuk mempersiapkan siswa untuk bekerja. Tulisan ini merupakan tinjauan teoritis tentang persepsi siswa SMP melanjut ke SMK. Untuk membuktikkannya silahkan Saudara (pembaca) menelitinya.

B. Tinjauan Teoritis
Persepsi berasal dari bahasa Inggris yakni kata perception. Kata ini dalam kamus Oxford Advanced Learner’s (1980) berarti : (1) ability to see, hear, understand, (2) quality of understanding, insight, (3) way of seeing or understanding.
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, dan hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Leavit (1986) memberikan pengertian persepsi sebagai pandangan atau pengertian yakni bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Persepsi seseorang ditentukan oleh relevansinya dengan kebutuhan; artinya seseorang akan mempunyai persepsi yang positif tentang sesuatu jika hal itu sesuai dengan kebutuhan.
Sarwono (1997) mengatakan bahwa persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, perabaan, dan sebagainya). Sebaliknya alat untuk memahami adalah kognisi. Lebih lanjut Meyer (dalam Sharf, 1992:67) menjelaskan :
…in dealing with the world, the first step is perception become aware of events, people, objects or ideals. The individual perceive this information, then individual must decide or make conclusions about the observed events, people, objects or idea.

Jadi, ketika seseorang memandang sesuatu maka yang pertama kali muncul dalam pikirannya adalah persepsi terhadap sesuatu tersebut, dan dari informasi yang didapat dari pandangan tersebut akan mendorong seseorang untuk mengambil keputusan atau membuat kesimpulan.
Dalam proses belajar manusia tidak dapat dilepaskan dari persepsi. Persepsi disini bisa diartikan sebagai pendapat, penilaian, pandangan langsung tentang lingkungan atau praktek-praktek belajar khususnya dan umumnya pendidikan yang dialami oleh siswa melalui indera atau sistem konseptualnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya persepsi merupakan pemahaman, atau cara seseorang dalam memahami sesuatu.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan pandangan dan penilaian terhadap suatu objek, dalam hal ini pandangan dan penilaian siswa terhadap SMK. Persepsi tersebut ditentukan oleh relevansinya dengan kebutuhan, artinya seseorang akan mempunyai persepsi yang poisitif terhadap suatu objek apabila objek tersebut sesuai dengan kebutuhan, minat dan cita-citanya. Jadi jika siswa SMP berpendapat bahwa melanjutkan studi ke SMK sesuai dengan kebutuhannya dan cita-citanya, maka mereka akan memilih untuk melanjutkan studi ke SMK. Persepsi dalam bidang psikologi diartikan sebagai proses pencarian informasi untuk dipahami. Jika siswa SMP mendapatkan informasi (baik dari keluarga/orang tua, sekolah, dan masyarakat) tentang lapangan kerja yang akan mereka dapatkan setelah tamat dari SMK dan mereka merasa tertarik terhadap pekerjaan tersebut maka persepsi mereka terhadap SMK akan meningkat.
Dari kesimpulan tersebut dapat dikemukakan indikator persepsi siswa tentang SMK adalah : 1) pandangan dan pemahaman, 2) kesesuaian antara kebutuhan dan cita-cita, 3) pendapat orang tua.



PENGERTIAN PORTOFOLIO
Juli 23, 2009, 6:24 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, Pendidikan, PENELITIAN

PENGERTIAN PORTOFOLIO
(Dalam Konteks Pendidikan)

Oleh Wakhinuddin S

Istilah portofolio berasal dari kata kerja ‘potare’ berarti membawa dan kata benda bahasa latin ‘foglio’, yang berarti lembaran atau ‘kertas kerja’. Portofolio tempat berisikan benda pekerjaan, lembaran, nilai dan profesional. Dalam konteks penelitian ini Portofolio adalah koleksi berharga dan berguna berisikan pekerjaan siswa yang menceritakan atau menerangkan sejarah prestasi atau pertumbuhan siswa. Portofolio umumnya suatu fakta bahwa siswa ‘mengumpulkan, menseleksi dan merefleksi penilaiannya (Sharp, 2006:1).
Porotofolio berisikan beragam tugas; disebut juga artifak, antara lain : draft mentah, nilai, makalah, benda kerja, kritik dan ringkasan, lembaran refleksi diri, pekerjaan rumah, jurnal, respon kelompok, grafik, lembaran catatan dan catatan diskusi. Beberapa cara baru seperti: note book, multi media, disket, flashdisk, map lipat, dan file internet (Sharp, 2006:1). Pada penelitian ini portofolio adalah hasil karya mahasiswa dalam bentuk busana.
Portofolio kelas banyak kegunaannya, diantaranya: dokumentasi perkembangan, catatan tampilan, alat untuk evaluasi diri dan refleksi, acuan profesi masa depan, dan pengalaman latihan. Kegunaan lain disebut sebagai ‘passportfolio’, yang mengindikasikan bahwa portofolio digunakan untuk sertifikasi kompetensi untuk naik ke tingkat lanjut (melanjut). Pada contoh ini portofolio digunakan dalam dua kategori utama, yaitu penilaian dan pembelajaran. Karena itu portofolio harus menunjukan koleksi pekerjaan terbaik siswa atau usaha terbaiknya, dan dokumen-dokumen yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ke arah penguasaan hasil belajar yang diidentifikasi.



PENGEMBANGAN TUJUAN PEMBELAJARAN FORMAT GRONLUND

PENGEMBANGAN TUJUAN PEMBELAJARAN
FORMAT GRONLUND

Oleh Wakhinuddin S

Gronlund memakai ranah kognitif untuk mengembangkan tujuan kompetensi. Tujuan kognitif terdiri dari dua bagian: Bagian pertama adalah suatu pernyataan hasil umum (general outcome). Misalnya, penerapan hukum Ohm dan hukum Kirchoff pada sirkuit kelistrikan, menganalisis sirkuit kelistrikan memakai prinsip Ohm dan Kirchoff, mengsintesis informasi kerumitan hukum Ohm dan Kirchoff, dan mengevaluasi kebenaran kemungkinan solusi masalah hukum Ohm dan Kirchoff.
Hasil umum mempunyai aktivitas tersembunyi seperti: mengetahui dan memahami, dan pada hasil umum tidak ada petunjuk bagaimana mengukur prestasi siswa, untuk itu, ditambahkan tujuan khusus yang terukur.
Tabel : Format Gronlund
—————————————————————-
Hasil umum : Tujuan khusus
—————————————————————-
Setiap siswa akan memahami :
hukum Kirchoff : a. Membuat sirkuit hubungan
: sesuai hukum Kirchoff
: b. Memecahkan masalah sirkuit
: hukum Kirchoff
——————————————————————-

Format Gronlund lebih cocok untuk mengukur pengetahuan kerja. Format Gronlund cenderung dipakai pada sekolah umum, yang bersifat penemuan, berbeda pada pendidikan kejuruan yang cenderung bersifat aplikasi.



PENGEMBANGAN TUJUAN PEMBELAJARAN FORMAT MAGER

PENGEMBANGAN TUJUAN PEMBELAJARAN FORMAT MAGER
Oleh Wakhinuddin S

Tujuan pembelajaran merupakan elemen kritikal, tanpa tujuan pembelajaran tidak ada dasar penentuan kriteria pengujian dan aktivitas pembelajaran. Tujuan pembelajaran pada format Mager berfungsi untuk keperluan performansi siswa pada suatu tugas (task) dan keterampilan (skill). Format Mager berkaitan dengan pembelajaran ranah psikomotor. Suatu tugas diharapkan menjadi tampilan yang bermanfaat, sehingga seseorang dapat produktif, berikut contoh pengembangan instrumen format Mager.

Tabel : Format Mager
————————————————————-
Tugas : Keterampilan : Keterangan
————————————————————-
Lepaskan katup mobil : Menggunakan alat : Kemampuan menggunakan alat

Kunci keempat roda : Menggunakan kunci : Kemampuan menggunakan kunci
————————————————————-
Suatu kompetensi merupakan standar (kriteria) yang mengidentifikasi keberhasilan tampilan seseorang, aspek keterangan pada tabel di atas merupakan kriteria pengukuran suatu tugas. Kriteria dapat berisi empat hal, yaitu: waktu, akurasi, kualitas, dan kuantitas.



EVALUASI PROGRAM MODEL STAKE

EVALUASI PROGRAM MODEL STAKE
Oleh Wakhinuddin S

Dalam evaluasi program, Morrison mengemukakan ada 3 komponen yang harus diperhatikan, yaitu: 1) deskripsi, 2) kriteria, 3) judgement atau pertimbangan. Deskripsi program diprlukan untuk pengumpulan informasi tentang sesuatu yang dinilai (deskriptor). Kriteria berhubungan dengan dasar yang dipergunakan untuk sampai pada judgement. Dalam opreasional model evaluasi Stake menekankan pada 2 jenis operasi yaitu : deskripsi dan pertimbangan (judgements), yang dibedakan dalam 3 fase dalam evaluasi program yaitu:
– Persiapan atau pendahuluan (antecedent)
– Proses / transaksi (transaction-processes)
– Keluaran / hasil (outcomes, output)
Descriptions matrix berhubungan dengan intens (goal = tujuan) dan obsevations (effect = akibat). Judgement berhubungan dengan standar (tolak-ukur = kriteria / dan judgement (pertimbangan). Penekanan paling besar pada model ini adalah pendapat bahwa evaluator membuat keputusan tentang program yang sedang dievaluasi.
Matriks pertama deskripsi, berkaitan atau menyangkut 2 hal yang menunjukkan posisi sesuatu (yang menjadi sasaran evaluasi), yaitu apa maksud/tujuan yang diharapkan oleh program, dan pengamatan / akibat, atau apa yang sesungguhnya terjadi atau apa yang betul-betul terjadi. Selanjutnya evaluator mengikuti matrix kedua, yang menunjukkan langkah pertimbangan, yang dalam langkah tersebut mengacu pada standar.

Rational Inter Observation Standar Judgement

Antecedents
Transaction
Outcomes

Description matrix Judgement matrix

Gambar : Model Evaluasi Stake

Menurut Stake, ketika evaluator tengah mempertimbangkan program, harus melakukan 2 perbandingan berikut:
1) Membandingkan kondisi hasil evaluasi program tertentu dengan dengan yang terjadi diprogram lain, dengan objek sasaran yang sama.
2) Membandingkan kondisi hasil pelaksanaan program dengan standar yang diperuntukkan bagi program yang bersangkutan, didasarkan pada tujuan yang akan dicapai.

Logika model evaluasi stake cocok dipakai pada evauasi dan monitoring program pemberdayaan, pelatihan, dan pendidikan.



PENDIDIKAN KEJURUAN
Juli 21, 2009, 8:47 am
Filed under: Pendidikan Kejuruan

PENDIDIKAN KEJURUAN
Oleh Wakhinuddin S

a. Pengertian Pendidikan Kejuruan
Banyak kontroversi tentang pengertian pendidikan kejuruan, semula pendidikan kejuruan didefinisikan sebagai “vocational educational is simply training for skills, training the hands” (Vocational Instructional Service, 1989). Pendidikan kejuruan merupakan latihan sederhana untuk menguasai suatu keterampilan, yaitu keterampilan tangan. Pada abad kesembilan belas dimunculkan konsep baru tentang pendidikan kejuruan, yaitu dengan dimasukkannya pendidikan kejuruan ke dalam pemberdayaan profesional, seperti halnya hukum, profesi keinsinyuran, kedokteran, keperawatan dan profesional lainnya.
Schippers (1994), mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan non akademis yang berorientasi pada praktek-praktek dalam bidang pertukangan, bisnis, industri, pertanian, transportasi, pelayanan jasa, dan sebagainya. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 pasal 15 menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang menghubungkan, menjodohkan, melatih manusia agar memiliki kebiasaan bekerja untuk dapat memasuki dan berkembang pada dunia kerja (industri), sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki kehidupannya. Selanjutnya Calhoun (1982:22) mengemukakan :
Vocational education is concerned with preparing people for work and with improving the training potential of the labor force. It covers any forms of education, training, or retraining designed to prepare people to enter or to continue in employment in a recognized occupation.

Memahami pendapat di atas dapat diketahui bahwa pendidikan kejuruan berhubungan dengan mempersiapkan seseorang untuk bekerja dan dengan memperbaiki pelatihan potensi tenaga kerja. Hal ini meliputi berbagai bentuk pendidikan, pelatihan, atau pelatihan lebih lanjut yang dibentuk untuk mempersiapkan seseorang untuk memasuki atau melanjutkan pekerjaan dalam suatu jabatan yang sah. Dapat dikatakan pendidikan kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu mengembangkan potensi dirinya dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dalam proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan efisien dan pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat. Dengan kesungguhan dalam mengikuti pendidikan kejuruan maka para lulusan kelak dapat menjadi manusia yang bermartabat dan mandiri serta menjadi warga negara yang mampu membayar pajak.
Pendidikan SMK merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang diselenggarakan sebagai lanjutan dari SMP/MTS :
a. Sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan dalam rangka memenuhi kebutuhan/kesempatan kerja yang sedang dan akan berkembang pada daerah tersebut.
b. Lulusan SMK merupakan tenaga terdidik, terlatih, dan terampil.
c. Mampu mengikuti pendidikan lanjutan dan atau menyesuaikan dengan perubahan teknologi.
d. Berdampak sebagai pendukung pertumbuhan industri (kecil atau besar).
e. Mengurangi angka pengangguran dan kriminalitas.
f. Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan negara melalui pajak penghasilan dan pertambahan nilai.
b. Tujuan Pendidikan Kejuruan
Prosser (1949), mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan akan lebih efektif jika mampu merubah individu sesuai dengan perhatian, sifat dan tingkat intelegensinya pada tingkat setinggi mungkin, artinya setelah melakukan pendidikan dan pelatihan (diklat) para peserta latihan meningkat keterampilannya. Acuan keberhasilan suatu program pendidikan kejuruan menurut pendapat Lesgold (1996), yaitu harus memperhatikan : (1) Sasaran produk haruslah terdefinisi secara baik, akurat, dan jelas yang merupakan interaksi yang intens antara sekolah dengan masyarakat, (2) perlengkapan (sarana dan prasarana) yang dibutuhkan untuk mencapai yang telah ditetapkan haruslah mencukupi, sehingga merupakan unsur penjamin bahwa sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara baik, (3) spesifikasi tim sukses atau tim pelaksana program yang akan bertanggung jawab terhadap keberhasilan sasaran haruslah lengkap dan jelas, (4) penelitian atau pengkajian terus menerus dan berkesinambungan agar dapat diketahui, sehingga langkah perbaikan dan penanggulangan dapat ditetapkan segera.
Pada dasarnya pendidikan kejuruan menurut Indrajati Sidi (2003) berdasarkan kebutuhan nyata pasar keja. Untuk dapat merealisasikan program ini maka peran serta dunia usaha dan industri sangat diperlukan. Bahkan perlu mendudukkan mereka dalam posisi yang penting, sehingga program kejuruan ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sistem pendidikan kejuruan yang memberikan standar kompetensi nasional yang baku. Standar kompetensi, standar kurikulum dan standar pengujian dimaksudkan untuk menjamin bahwa sistem pendidikan kejuruan benar-benar memberikan kompetensi yang telah dibutuhkan oleh industri. Oleh karenanya ukuran mutu tamatan pendidikan kejuruan tidak hanya dilihat dari hasil Ujian Akhir Nasional., tetapi juga dari kompetensi yang dicapai. Ketercapaian kompetensi dilihat dari keterampilan. Setiap keterampilan yang dicapai diberikan sertifikat oleh lembaga yang berwenang seperti majelis pendidikan kejuruan nasional (MPKN).
UUSPN No. 20 tahun 2003 pasal 15, menyatakan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk menyiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tujuan tersebut dapat dijabarkan lagi oleh Dikmenjur (2003) menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, sebagai berikut :
Tujuan umum, sebagai bagian dari sistem pendidikan menengah kejuruan SMK bertujuan : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat menjalani kehidupan secara layak, (2) meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik, (3) menyiapkan peserta didik agar menjadi warga negara yang mandiri dan bertanggung jawab, (4) menyiapkan peserta didik agar memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia, dan (5) menyiapkan peserta didik agar menerapkan dan memelihara hidup sehat, memiliki wawasan lingkungan, pengetahuan dan seni.
Tujuan khusus, SMK bertujuan : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lapangan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan bidang dan program keahlian yang diminati, (2) membekali peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi dan mampu mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminati, dan (3) membekali peserta didik dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) agar mampu mengembangkan diri sendiri melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kompetensi lulusan pendidikan kejuruan sebagai subsistem dari sistem pendidikan nasional menurut Depdikbud (2001) adalah : (1) penghasil tamatan yang memiliki keterampilan dan penguasaan IPTEK dengan bidang dari tingkat keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, (2) penghasil tamatan yang memiliki kemampuan produktif, penghasil sendiri, mengubah status tamatan dari status beban menjadi aset bangsa yang mandiri, (3) penghasil penggerak perkembangna industri Indonesia yang kompetitif menghadapi pasar global, (4) penghasil tamatan dan sikap mental yang kuat untuk dapat mengembangkan dirinya secara berkelanjutan. Dikmenjur (2000) mengatakan bahwa hasil kerja pendidikan harus mampu menjadi pembeda dari segi unjuk kerja, produktifitas, dan kualitas hasil kerja dibandingkan dengan tenaga kerja tanpa pendidikan kejuruan.
Jadi pendidikan kejuruan adalah suatu lembaga yang melaksanakan proses pembelajaran keahlian tertentu beserta evaluasi berbasis kompetensi, yang mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja setingkat teknisi (Wakhinuddin S).