Wakhinuddin’s Weblog


APA ITU LOG FRAME?
September 29, 2009, 7:37 am
Filed under: Uncategorized

APA ITU LOG FRAME?
by Wakhinuddin S

Secara sederhana, suatu log frame adalah aliran logis suatu pekerjaan atau peristiwa, dan dapat menganalisis suatu pekerjaan, terdiri dari empat kategori: input, aktivitas, output, dan outcome (hasil dampak).
Ini merupakan urutan aliran program Berantas buta huruf, mulai dari:
1. input (sumber-sumber, seperti : pendanaan, pekerja, peralatan, perlengkapan, guru, kurikulum),
2. aktivitas kerja, program atau proses pembelajaran,
3. output, berapa jumlah peserta selesai program, mempunyai nilai ≥7,
4. outcome, warga membeli koran.
Diagram alir model umum log frame:

INPUT > AKTIVITAS ATAU PROSES > OUTPUT > OUTCOME

Iklan


SURVEY IKM BORDIR
September 5, 2009, 7:05 am
Filed under: Konsultan

PERUSAHAAN IKM T… Bordir

Proyek ini disebut On company Level, dari Deprindag. Proyek dampingan ini, dimulai dari menganalisis kelamahan perusahaan IKM sampai kepada manajerial mengatasi masalah dan modal dari Deprindag. Metode dipakai survey dan analisisi gap.

2.1. Aspek Produksi

a. Mesin Peralatan
Perusahaan ini memiliki peralatan mesin bordir putih (merek Yuki) 6 buah yang digunakan untuk memproduksi bordir jenis kerancang (terawang) teknik solder. Pada tahun 2006 mampu memproduksi baju kebaya/kurung 10 kodi/tahun, selendang emas 36 lembar/tahun, bantal kursi 48 set/tahun, mukena Kw II 48 stel/tahun dan mukena Kw III 300 stel/tahun. Disamping jenis mesin Yuki, juga memiliki mesin biasa (mesin htam) 7 buah yang digunakan untuk memproduksi bordir jenis kerancang tanpa silder (Kw I). Pada tahun 2006 mampu memproduksi baju (Kw I) 9,5 kodi/tahun, dan mukena 24 stel/tahun.
Dari ke dua jenis mesin ini dapat disimpulkan bahwa jenis bordir kerancang mesin biasa memproduksi dengan kemampuan kapasitas lebih sedikit dan waktunya lebih lama.
Mesin dan peralatan yang ada sekarang hanya digunakan untuk produksi bordir, sedangkan untuk menyambungkan kain-kain potongan baju atau mukena dijahit dengan cara upah borongan pada perajin lain di luar perusahaan. Cara ini menimbulkan ongkos produksi lebih tinggi, karena itu pimpinan perusahaan sangat berkeinginan untuk mengelola penjahitan produk sendiri, namun masih terkendala dengan peralatan lain seperti tambahan mesin jahit biasa, mesin obras dan mesin pemasangan kancing.

b. Bahan Baku dan Pendukung
Perusahaan ini menggunakan bahan tergantung bahan yang dibawa pelanggan. Mutunya berkualitas sedang untuk produk mukena, selendang dan sarung bantal. Sedangkan untuk produk baju bervariasi mulai bahan kualitas baik hingga kualitas sedang. Karena perusahaan mengelola produksi dengan menerima upah dari pelanggan tetap dan tidak tetap, maka penyediaan bahan baku mayoritas dibawa pelanggan tetap (toko Silingkang Bagonjong). Untuk produk mukena menggunakan jenis bahan silky, produk selendang, menggunakan jenis bahan suparta, organdi. Sedangkan produk bantal kursi bahannya abutai dan produk baju umumnya menggunakan bahan suparta, sutra dan jenis bahan silk lainnya.

c. Proses Produksi
Pengelolaan produksi dilakukan berdasarkan pola tradisional yang berlatar pengalaman berusaha selama 9 tahun dan belum mengikuti metoda-metoda berproduksi secara internasional baik dari sistem produksi (layout) maupun fasilitas penunjang lainnya.
Pola produksi dilakukan dengan diawali adanya pesanan dari pelanggan berupa baju kebaya/baju kurung bordir, mukena, selendang, bantal kursi, motif dasar bordir, bahan dan desain warna serta desain ….. bordir. Selanjutnya arus pesanan tersebut dihitung biaya produksi, setelah disepakati hanya dengan pemesanan langkah berikutnya mempersiapkan bahan pembantu (benang), memindahkan dan menyusun motif di atas kain. Kain yang telah bermotif dilanjutkan membordir suatu contoh produk untuk kesepakatan dengan pemesan. Setelah contoh produk disepakati oleh pemesan, maka langkah selanjutnya memproduksi bordir sampai dengan jumlah pesanan terpenuhi.
Proses produksi berlangsung: 1) diawali dengan pembuatan desain model produk, 2) pembuatan desain motif, warna, teknik hias bordir, 3) pemotongan bahan secara global, pembuatan pola, 4) penyusunan motif di atas bahan, 5) pembordiran, 6) pemotongan dan penjahitan bahan berdasarkan pola (dikerjakan dengan sistem borongan pada perajin lain di luar perusahaan), 7) penyortiran, 8) finishing dan pengepakan.

Dari cara mendesain dari hasil yang ditampilkan tampak perusahaan belum profesional dalam mendesain.

Sumbernya di perusahaan ini relatif kurang dibina secara memadai meski telah memiliki kemampuan membordir yang cukup, namun SDM di perusahaan ini mesih diperlukan pengingkatan kemampuan dalam hal quality control serta penambahan wawasan dan keterampilan dalam menciptakan desain yang baru, teknologi produksi pakaian jadi, manajemen produk, manajemen perusahaan.

2.2. Aspek Mutu dan desain
Produksi perusahaan ini menggunakan bahan-bahan yang bervariasi, yaitu mulai dari bahan yang berkualitas sedang hingga bahan yang berkualitas sangat baik. Pada umumnya bahan dibawa langsung oleh pemesan baik pelanggan tetap maupun sesaat. Sekmentasi pasar umumnya tergolong kelas menangah ke atas.
Jika ada pemesan membutuhkan bahan dari perusahaan, biasanya pimpinan membeli bahan yang ada di pasar tanpa melalui agen, distributor ataupun pabrik. Dengan demikian di samping harga bahan tinggi juga mutu terbatas, karena sulit mendapatkan mutu bahan yang berkualitas baik untuk kelas menengah ke atas. Hal ini munjukkan bahwa mutu produk yang dihasilkan cukup baik.
Mutu desain relatif baik, namun masih perlu pengembangan dalam susunan motif, komposisi warna, teknik hias, dan teknik produksi pakaian jadi. Di samping itu pengusaha sangat berkeinginan mengembangkan produk baju dengan bermacam model yang dapat diekspor ke Malaysia. Hal ini ditunjang oleh kondisi 3 tahun belakangan ini produk yang diproduksi sudah mulai jenuh di pasaran.

2.3. Aspek Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan ini berjumlah 13 orang, terdiri dari 6 orang pembordir memakai mesin Yuki dan 7 orang pembordir menggunakan mesin biasa. Sementara untuk pengadaan bahan pembantu, administrasi dan pemasaran dilakukan sendiri oleh pemilik.

2.4. Aspek Pemasaran
Modus pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan ini adalah dengan memasok ke beberapa pelanggan di pasar kota Padang, yaitu dengan cara menerima upah tetap. Diantara pelanggan tetap adalah toko Silungkang Bagonjong, dinas Perindustrian kota Padang, kator-kantor Pemda Padang. Sedangkan pelanggan tidak tetap adalah titipan produk mukena ke pasa Malaysia melalui pedagang. Valume pemasaran pada tahun 2005 ke Malaysia mencapai 9 kodi/tahun. Sedangkan sissanya dipasarkan dalam lokal, yaitu mukena 363 stel/ tahun, bantal kursi 48 set/tahunselendang 36 lembar/tahun dan baju 19,5 kodi/tahun.

Karena sistem upah dan barang yang selesai diproduksi langsung diambil oleh pedagang maka kendala dalam pemasaran lokal belum dirasakan, sebab terjadinya keseimbangan antara serapan pasar dengan hasil produksi. Namun hasilnya produksi terbatas karena tergantung pada pemintaan pasar. Perusahaan telah sering mengikuti pemeran-pameran lokal maupun luar untuk salah satu strategi produksi melalui program kegiatan Deperindag.

2.5. Aspek Administrasi dan Keuangan
Proses adminitrasi dan pengelolaan keuangan pada perusahaan ini sudah menggunakan sistem pencatatan secara sederhana. Perlu pengembangan pengelolaan pembuatan pembukaan yang tertib dengan sistem pembukuaan debet dan kredit dan menggunakan jurnal pengeluaran dan pemasukan, baik untuk pencatatan produksi, tenaga kerja (perajin), bahan baku, keuangan serta arsip desain.

Dilihat dari segi keuangan, perusahaan ini tidak mampu meningkatkan kapasitas produksinya diakibatkan oleh keterbatasan modal kerja khususnya dalam penyediaan bahan baku dan peralatan.



MINAT SISWA SMP MASUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
September 4, 2009, 6:39 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, Pendidikan Kejuruan, PENELITIAN

BAB V
PENUTUP

(STUDI TENTANG MINAT SISWA SMP MASUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KOTA SAWAHLUNTO)

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang minat siswa SMP masuk Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Sawahlunto, dapat disimpulkan yakni sebagai berikut:
1. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Dari Dalam Diri Siswa tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya sama.
2. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Dari Luar Diri Siswa tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya hampir sama.
3. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Ekonomi Keluarga tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya hampir sama.
4. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Pengaruh Jaminan Masa Depan tergolong baik karena banyak yang berminat untuk masuk SMK.
5. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto Berdasarkan Pengaruh Lingkungan tergolong baik karena jumlah siswa yang berminat dan yang tidak berminat jumlahnya sama.
6. Minat siswa SMP untuk masuk SMK di kota Sawahlunto berdasarkan Potensi Yang Dimiliki Siswa tergolong cukup karena banyak yang tidak berminat untuk masuk SMK.

B. Saran-saran
Berdasarkan temuan hasil penelitian yang dikemukakan diatas, maka ada beberapa saran yang mesti dipertimbangkan, yaitu:
1. Kepada Direktorat Pembinaan SMK, agar meningkatkan promosi tentang SMK di setiap media massa.
2. Kepada pihak pengelola SMK, agar dapat meningkatkan promosi di sekitar lingkungan sekolah serta meningkatkan kualitas lulusannya.
3. Kepada pihak pengelola SMP, agar memberi dukungan dan menfasilitasi promosi SMK di sekolah tersebut.
4. Kepada orang tua siswa, agar dapat memberi dukungan dan mengarahkan anaknya untuk masuk ke SMK.



HASIL BELAJAR
September 3, 2009, 5:55 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, Pendidikan

HASIL BELAJAR
Oleh : Wakhinuddin S

1. Belajar
a. Pengertian belajar

Belajar adalah proses/hasil perubahan pada aspek kapabilitas (pengetahuan, sikap dan keterampilan, dan perilaku) sebagai akibat berintraksi dengan lingkungannya. Perubahan perilaku yang relatif permanen itu ditentukan oleh stimuli yang dipasok oleh lingkungan luar seseorang, perubahan tingkah laku seseorang dapat dikendalikan melalui pengendalian stimuli lingkungan yang tepat sebagai hasil latihan.
Beberapa pendapat para ahli tentang defenisi belajar diantaranya Bower (1975:35) “belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan kematangan”. Menurut Gagne (1977:132) “Belajar terjadi apabila sesuatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”. Morgan (2008:18) memberikan definisi belajar adalah Setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Wetherington (1992:56) berpendapat belajar yaitu suatu perubahan didalam kepribadian yang mengatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian, jadi definisi belajar dari beberapa elemen:
1) Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. 2) Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. 3) Belajar adalah perubahan relatif mantap, harus merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. 4) Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.

Dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu terjadi melalui latihan atau pengalaman yang berulang-ulang. Perubahan belajar selalu dilakukan oleh individu sepanjang hidupnya, sedangkan perubahan yang terjadi pada diri individu yang belajar dapat berupa hasil belajar yang diperoleh.

b. Prinsip- prinsip Belajar
Belajar terjadi lebih efektif apabila:
1) Dalam lingkungan yang nyaman secara fisik dan psikis bagi wajib belajar.
Nyaman fisik: sarana dan prasarana belajar yang memadai dan menyenangkan.
Nyaman psikis: hubungan saling percaya, saling menghargai, saling membantu, bebas menyatakan pendapat, dan menerima perbedaan diantara wajib belajar dan pendidik.
2) Wajib belajar merasakan kebutuhan belajar.
Wajib belajar menganggap tujuan belajar sebagai tujuannya sendiri.
3) Wajib belajar terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan belajar
Wajib belajar aktif dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar.
4) Berpusat pada pengalaman
Wajib belajar mengalami secara langsung atau tidak langsung proses belajar dan menggunaan pengalamannya secara tepat.
5) Wajib belajar menerima umpan balik yang tepat untuk menilai keberhasilan mereka mencapai tujuan.

2. Hasil Belajar
a. Pengertian hasil belajar

Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui proses belajar dan dipengaruhi oleh faktor yang bersifat internal atau eksternal. Perubahan yang terjadi biasanya dapat dilihat dengan bertambah baiknya atau meningkatnya kemampuan yang dicapai seseorang. Pengertian hasil belajar, merupakan segala sesuatu yang diperoleh, dikuasai atau merupakan hasil proses belajar mengajar”. Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”.
b. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Belajar merupakan sebagai suatu aktivias mental atau psikis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah:
1). Faktor internal (dalam diri siswa) yakni keadaan/kondisi jasmani (fisologis) dan rohani (aspek psikologis) seperti tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa
2). Faktor eksternal (faktor luar dari siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar diri siswa yang terdiri dari dua macam yakni: faktor lingkungan sosial dan lingkungan non sosial.
3). Faktor pendekatan belajar (approachto learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran.