Wakhinuddin’s Weblog


SURVEY IKM BORDIR
September 5, 2009, 7:05 am
Filed under: Konsultan

PERUSAHAAN IKM T… Bordir

Proyek ini disebut On company Level, dari Deprindag. Proyek dampingan ini, dimulai dari menganalisis kelamahan perusahaan IKM sampai kepada manajerial mengatasi masalah dan modal dari Deprindag. Metode dipakai survey dan analisisi gap.

2.1. Aspek Produksi

a. Mesin Peralatan
Perusahaan ini memiliki peralatan mesin bordir putih (merek Yuki) 6 buah yang digunakan untuk memproduksi bordir jenis kerancang (terawang) teknik solder. Pada tahun 2006 mampu memproduksi baju kebaya/kurung 10 kodi/tahun, selendang emas 36 lembar/tahun, bantal kursi 48 set/tahun, mukena Kw II 48 stel/tahun dan mukena Kw III 300 stel/tahun. Disamping jenis mesin Yuki, juga memiliki mesin biasa (mesin htam) 7 buah yang digunakan untuk memproduksi bordir jenis kerancang tanpa silder (Kw I). Pada tahun 2006 mampu memproduksi baju (Kw I) 9,5 kodi/tahun, dan mukena 24 stel/tahun.
Dari ke dua jenis mesin ini dapat disimpulkan bahwa jenis bordir kerancang mesin biasa memproduksi dengan kemampuan kapasitas lebih sedikit dan waktunya lebih lama.
Mesin dan peralatan yang ada sekarang hanya digunakan untuk produksi bordir, sedangkan untuk menyambungkan kain-kain potongan baju atau mukena dijahit dengan cara upah borongan pada perajin lain di luar perusahaan. Cara ini menimbulkan ongkos produksi lebih tinggi, karena itu pimpinan perusahaan sangat berkeinginan untuk mengelola penjahitan produk sendiri, namun masih terkendala dengan peralatan lain seperti tambahan mesin jahit biasa, mesin obras dan mesin pemasangan kancing.

b. Bahan Baku dan Pendukung
Perusahaan ini menggunakan bahan tergantung bahan yang dibawa pelanggan. Mutunya berkualitas sedang untuk produk mukena, selendang dan sarung bantal. Sedangkan untuk produk baju bervariasi mulai bahan kualitas baik hingga kualitas sedang. Karena perusahaan mengelola produksi dengan menerima upah dari pelanggan tetap dan tidak tetap, maka penyediaan bahan baku mayoritas dibawa pelanggan tetap (toko Silingkang Bagonjong). Untuk produk mukena menggunakan jenis bahan silky, produk selendang, menggunakan jenis bahan suparta, organdi. Sedangkan produk bantal kursi bahannya abutai dan produk baju umumnya menggunakan bahan suparta, sutra dan jenis bahan silk lainnya.

c. Proses Produksi
Pengelolaan produksi dilakukan berdasarkan pola tradisional yang berlatar pengalaman berusaha selama 9 tahun dan belum mengikuti metoda-metoda berproduksi secara internasional baik dari sistem produksi (layout) maupun fasilitas penunjang lainnya.
Pola produksi dilakukan dengan diawali adanya pesanan dari pelanggan berupa baju kebaya/baju kurung bordir, mukena, selendang, bantal kursi, motif dasar bordir, bahan dan desain warna serta desain ….. bordir. Selanjutnya arus pesanan tersebut dihitung biaya produksi, setelah disepakati hanya dengan pemesanan langkah berikutnya mempersiapkan bahan pembantu (benang), memindahkan dan menyusun motif di atas kain. Kain yang telah bermotif dilanjutkan membordir suatu contoh produk untuk kesepakatan dengan pemesan. Setelah contoh produk disepakati oleh pemesan, maka langkah selanjutnya memproduksi bordir sampai dengan jumlah pesanan terpenuhi.
Proses produksi berlangsung: 1) diawali dengan pembuatan desain model produk, 2) pembuatan desain motif, warna, teknik hias bordir, 3) pemotongan bahan secara global, pembuatan pola, 4) penyusunan motif di atas bahan, 5) pembordiran, 6) pemotongan dan penjahitan bahan berdasarkan pola (dikerjakan dengan sistem borongan pada perajin lain di luar perusahaan), 7) penyortiran, 8) finishing dan pengepakan.

Dari cara mendesain dari hasil yang ditampilkan tampak perusahaan belum profesional dalam mendesain.

Sumbernya di perusahaan ini relatif kurang dibina secara memadai meski telah memiliki kemampuan membordir yang cukup, namun SDM di perusahaan ini mesih diperlukan pengingkatan kemampuan dalam hal quality control serta penambahan wawasan dan keterampilan dalam menciptakan desain yang baru, teknologi produksi pakaian jadi, manajemen produk, manajemen perusahaan.

2.2. Aspek Mutu dan desain
Produksi perusahaan ini menggunakan bahan-bahan yang bervariasi, yaitu mulai dari bahan yang berkualitas sedang hingga bahan yang berkualitas sangat baik. Pada umumnya bahan dibawa langsung oleh pemesan baik pelanggan tetap maupun sesaat. Sekmentasi pasar umumnya tergolong kelas menangah ke atas.
Jika ada pemesan membutuhkan bahan dari perusahaan, biasanya pimpinan membeli bahan yang ada di pasar tanpa melalui agen, distributor ataupun pabrik. Dengan demikian di samping harga bahan tinggi juga mutu terbatas, karena sulit mendapatkan mutu bahan yang berkualitas baik untuk kelas menengah ke atas. Hal ini munjukkan bahwa mutu produk yang dihasilkan cukup baik.
Mutu desain relatif baik, namun masih perlu pengembangan dalam susunan motif, komposisi warna, teknik hias, dan teknik produksi pakaian jadi. Di samping itu pengusaha sangat berkeinginan mengembangkan produk baju dengan bermacam model yang dapat diekspor ke Malaysia. Hal ini ditunjang oleh kondisi 3 tahun belakangan ini produk yang diproduksi sudah mulai jenuh di pasaran.

2.3. Aspek Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan ini berjumlah 13 orang, terdiri dari 6 orang pembordir memakai mesin Yuki dan 7 orang pembordir menggunakan mesin biasa. Sementara untuk pengadaan bahan pembantu, administrasi dan pemasaran dilakukan sendiri oleh pemilik.

2.4. Aspek Pemasaran
Modus pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan ini adalah dengan memasok ke beberapa pelanggan di pasar kota Padang, yaitu dengan cara menerima upah tetap. Diantara pelanggan tetap adalah toko Silungkang Bagonjong, dinas Perindustrian kota Padang, kator-kantor Pemda Padang. Sedangkan pelanggan tidak tetap adalah titipan produk mukena ke pasa Malaysia melalui pedagang. Valume pemasaran pada tahun 2005 ke Malaysia mencapai 9 kodi/tahun. Sedangkan sissanya dipasarkan dalam lokal, yaitu mukena 363 stel/ tahun, bantal kursi 48 set/tahunselendang 36 lembar/tahun dan baju 19,5 kodi/tahun.

Karena sistem upah dan barang yang selesai diproduksi langsung diambil oleh pedagang maka kendala dalam pemasaran lokal belum dirasakan, sebab terjadinya keseimbangan antara serapan pasar dengan hasil produksi. Namun hasilnya produksi terbatas karena tergantung pada pemintaan pasar. Perusahaan telah sering mengikuti pemeran-pameran lokal maupun luar untuk salah satu strategi produksi melalui program kegiatan Deperindag.

2.5. Aspek Administrasi dan Keuangan
Proses adminitrasi dan pengelolaan keuangan pada perusahaan ini sudah menggunakan sistem pencatatan secara sederhana. Perlu pengembangan pengelolaan pembuatan pembukaan yang tertib dengan sistem pembukuaan debet dan kredit dan menggunakan jurnal pengeluaran dan pemasukan, baik untuk pencatatan produksi, tenaga kerja (perajin), bahan baku, keuangan serta arsip desain.

Dilihat dari segi keuangan, perusahaan ini tidak mampu meningkatkan kapasitas produksinya diakibatkan oleh keterbatasan modal kerja khususnya dalam penyediaan bahan baku dan peralatan.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: