Wakhinuddin’s Weblog


PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
April 28, 2009, 5:00 am
Filed under: PASCASARJANA, Pendidikan, PROGRAM STUDI

PENGGUNAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PADA PROGRAM STUDI TEKNIK OTOMOTIF

(Langkah-langkah pada setiap siklus)

 

By Dr. Wakhinuddin S, M.Pd

Dosen Program Pascasarjana dan FT UNP Padang

 

A. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN

 

Penelitian tindakan (Action research) telah diadopsi para pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Para pendidik umumnya berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran, suatu usaha untuk mengatasi permasalahan di kelas adalah menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam mengatasi permasalahan di kelas, metode PTK lebih praktis dan mengena dibandingkan eksperimen, PTK seperti tukang bangunan rumah, tahu apa yang rusak dan tahu bagaimana memperbaikinya. Banyak pengertian dan defenisi PTK, namun jika dihayati terbesik prinsip yang relatif sama. Berikut ini disampaikan beberapa definisi PTK.  

Penelitian tindakan kelas (classroom action research) menurut Kemmis, dalam Madya (1994:2) adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktek itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-parktik tersebut.

Dalam bentuk lain, Carr dan Kemmis, dalam McNiff (1992:2) menyatakan, penelitian tindakan adalah suatu bentuk refleksi diri dimulai dari partisipasi (guru, siswa, dan pimpinan sekolah) dalam situasi masyarakat (termasuk pendidikan) dalam hal untuk memperbaiki rasional dan keadilan dari: a) praktek kemasyarakatan atau pendidikan; b) pemahaman dari prakteknya; dan c) situasi (lembaga) yang mempraktekannya.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.

 

 

B. RANCANGAN PTK DENGAN JUDUL:

     MENINGKATKAN KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PENILAIAN PORTOFOLIO PADA MATA PELAJARAN SISTEM PEMINDAH TENAGA (POWER TRAIN)

 

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan penelitian, PTK (action research in the classroom)) dilaksanakan berupa proses pengkajian daur (siklus) yang terdiri dari 4 tahap, yaitu:

a. Perencanaan (plan): Rencana penelitian tindakan mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan perubahan perilaku, sosial dan adanya kendala, baik bersifat material maupun non material dalam situasi terkait (Kontekstual);

b. Tindakan (Action): Aksi yang dilakukan secara sadar, terkendali, cermat dan bijaksana. Tindakan digunakan sebagai pijakan untuk pengembangan tindakan-tindakan berikutnya, yang disertai niat untuk memperbaiki keadaan, dan tindakan bersifat tidak tetap (sementara).  Tindakan dituntun oleh perencanaan dan mengandung resiko, karena terjadi dalam situasi nyata dan berhadapan dengan kendala materil dan non materil.

 c. Observasi (Observation): Observasi berfungsi mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait. Observasi memberikan pertanda tentang pencapaian refleksi. Bahan pokok yang diobservasi adalah tindakan, pengaruhnya, dan konteks situasi tempat tindakan dilakukan.

d. Refleksi (Reflection): Refleksi adalah mengingat dan merenung kembali suatu tundakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan dan kendala yang nyata dalam tindakan strategik. Pada tahap refleksi diadakan diskusi diantara para peserta, melalui diskusi kelompok memberikan dasar perbaikan rancana selanjutnya. Refleksi memiliki aspek evaluatif, untuk menilai apakah pengaruh tindakan memang sesuai yang diinginkan dan memberi saran-saran tentang cara-cara untuk meneruskan pekerjaan. Refleksi juga mengandung pengertian deskriptif, yaitu memungkinkan dilakukannya peninjauan, pengembangan gambaran yang baik.

Dalam proses refleksi akan ditemukan hal-hal sebagai berikut:

ANALISA > PEMAKNAAN > PENJELASAN > PENYUSUNAN

KESIMPULAN > IDENTIFIKASI TINDAK LANJUT

 

 

 

 

 

Siklus penelitian merupakan ciri khas dari penelitian tindakan. Penelitian tindakan berbeda dari jenis penelitian lain, penelitian tindakan Kurt Lewin (McNiff, 1992:22-24); Kemmis dan Mc Taggart (Hopkins, 1993:48), siklus terdiri dari atas langkah-langkah : P (Plan) – A (Act) – O (Observe) – R (Reflect).

 

Perencanaan tindakan dalam PTK:

Siklus I:

Siklus penelitian direncanakan 3 kali putaran, pada siklus pertama diberikan setelah kemampuan awal mahasiswa diketahui dengan pretes, siklus I : pembelajaran menggunakan metode ekspositori (tradisional) tentang teori Difrensial (gardan) sebagai pengantar awal, selanjutnya diberikan pembelajaran  Berbasis Masalah dan portofolio, yang menjadi metode pokok pada penelitian ini.  Prosedur pemberian materi ajar dan tugas-tugas disesuaikan dengan teori-teori yang telah dikemukakan pada kajian teori. Rencana siklus II akan dipengaruhi keberhasilan siklus I, demikian juga selanjutnya siklus ke III akan dipengaruhi siklus II. Prosedur  makro penelitian sebagai berikut:

 

     Perenungan               Rencana

 

                               

                                        Refleksi                                Siklus pertama

 

                                      Observasi/

                                    Tindakan

 

                                                     Revisi rencana

 

 

                               

                                       Refleksi                                 Siklus kedua

 

                                      Observasi/

                                    Tindakan

 

                                                     Revisi rencana

 

 

                               

                                       Refleksi                                 Siklus ketiga

 

                                      Observasi/

                                    Tindakan

 

     

Gambar 1: Spiral penelitian tindakan kelas versi Kemmis dan Taggart

                         (Hopkins, 1993: 48)

 

 

a. Proses merencana dalam siklus I, meliputi :

1) Mempelajari silabus KTSP mata pelajaran Pemindah Tenaga dan Chasis, perhatikan indikator, ambil indikator teknik, kembangkan dan sesuaikan dengan faktor pendukung yang tersedia di kelas (bengkel).

2) Observasi pendahuluan dengan mendengarkan penjelasan dari guru (teman sejawat) tentang kemampuan siswa selama ini pada pada mata kuliah tersebut, dan tinjau keaktivan siswa dalam pembelajaran SPT.

3) Membuat silabus sesuai GBPP

4) Membuat media pembelajaran.

 

b. Proses melakukan tindakan dalam siklus I, meliputi:

1) mengadakan pre tes (tes awal) tentang pemahaman ilmu yang berkaitan dengan masalah Pemindah Tenaga dan Chasis. Siswa menjawab soal.

2) Memberikan pretes berupa tes praktek untuk melihat kemampuan awal siswa tentang topik kopling, transmisi, poros propeller, difrensial, dan poros belakang. Siswa mempraktekan salah satu topik tersebut dan membuat laporan untuk penyusunan portofolio.

c. Proses mengamati dalam siklus pertama meliputi: mengamati siswa saat  berpraktek di dalam kelas memonitoring dengan cara memberi umpan balik secara langsung diantaranya membetulkan isi laporan, memberi perbaikan yang benar, mengingatkan jika yang yang dibuat salah atau kurang betul dan menegur mahasiswa yang tidak serius.

d. Proses Refleksi dalam siklus pertama mengikuti :

Refleksi atau perenungan yang mencakup penilaian terhadap hasil pengamatan pada materi ajar yang sudah ditetapkan, melalui refleksi ini diambil tindakan dengan memperbaiki pembelajaran baik dari Silabus (RPP), cara mengajar dan media untuk materi selanjutnya sehingga pada akhirnya siswa dapat menyusun laporan dalam bentuk portofolio.

Selanjutnya dilihat dan dievaluasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu memonitor kegiatan mereka apakah sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan jika tidak maka dilakukan rencana kegiatan siklus II, yaitu melaksanakan Pembelajaran berbasis masalah, memonitor hasil dari tugas-tugas yang diberikan, memberikan tindakan sehubungan dengan kuantitas dan kualitas tugas serta latihan-latihan yang telah dicapai siswa dengan berpedoman pada sinopsis dan silabus mata pelajaran, selanjutnya apakah perlu modifikasi atau merencanakan kemungkinan-kemungkinan lain, jika peneliti belum melihat ada keberhasilan pada siswa, siklus berikutnya adalah ke tiga (III) dapat dilanjutkan yaitu dengan kombinasi metode Pembelajaran dan penilaian portofolio.

 

Siklus II dan III

Siklus penelitian mengikuti model yang dikemukakan Kemmis dan Taggart (Hopkins, 1993: 48)

Siklus II

a. Proses merencana dalam siklus II, meliputi :

Memperbaiki RPP dan media agar dalam menjelaskan sub pokok bahasan selanjutnya lebih baik lagi.

b. Proses melakukan tindakan dalam siklus II, meliputi:

Memberikan materi ajar dengan menggunakan model pembelajaran Berbasis Masalah, untuk siklus pertama. Siswa mengerjakan difrensial, gigi matahari, gigi planet, gigi samping, dan beban yang sudah di buat sebelumnya untuk membuat laporan dalam penyusunan portofolio.

c. Proses mengamati dalam siklus II, meliputi:

Mengamati siswa pada saat berpraktek di bengkel memonitoring dengan cara memberi umpan balik secara langsung, diantaranya: membetulkan isi laporan, memberi tahu kesalahan dan kebenaran materi ajar, mengingatkan jika laporan yang dibuat salah atau kurang betul dengan penegasan.

d. Proses refleksi dalam siklus ke II, meliputi:

Refleksi atau perenungan yang mencakup penilaian terhadap hasil pengamatan pada tugas membuat laporan yang sudah dibuat sebelumnya. Melalui refleksi ini dapat diambil tindakan dengan memperbaiki pembelajaran   baik dari RPP, metode pembelajaran dan media  untuk materi selanjutnya sehingga pada akhirnya siswa dapat menyusun laporan dalam bentuk portofolio.

Semoga ada manfaatnya buat Bapak/Ibu guru, terutama bagi pada Nanang.

Diskusi lebih lanjut akan saya tanggapi, bila Bapak/ibu merespon via WordPress ini.

 

Thank U,

Wakhinuddin

Iklan


Ada apa dengan NASKAH SOAL Bindo UN 2009

Mungkinkah naskah soal UN antar paket, butir soalnya sama secara terstruktur dan sistematis (copy paste)??? Ato Kode Paket Soal yang sama berbeda butir soal?

Perhatikanlah P… dan P… terutama untuk wilayah sumatera

Yang korban siapa???  Sisssswa.

terus, pemeriksaannya gimana? pengolahannya bagaimana? kunci soal pada scanner/komputer, Apa sudah disetting ulang??

Bagaimana tentang Bank soal, master soal, repro?

Kasihan dan prihatin!!!



HUBUNGAN TES, PENGUKURAN, EVALUASI DAN ASESMEN

c1



RATING SCALE

SKALA PENGUKURAN 

(Rating Scale)

Sering responden mempertanyakan arti dari pilihan mereka pada skala tersebut. Ada yang menggunakan 3 (tiga), 4 (empat), 5 (lima) atau lebih kategori tergantung pada pertanyaan.  Ada kalanya  perbedaan yang mungkin terjadi yang tidak diinginkan responden dalam arti kapasitas jawaban.

            Contoh:

1.      Apakah saudara setuju atau tidak setuju memperluas program ini ke daerah lainnya di Indonesia? (Centang salah satu)

(a)    Sangat setuju

(b)   Setuju

(c)    Cukup setuju

(d)   Kurang setuju

(e)    Sangat kurang setuju

2.      Bila di desa ini dibangun fasilitas umum menurut saudara apa yang penting. (Centang salah satu dari setiap butir berikut).

No.

Program

Kurang penting

 

 

 

 

 

Sangat penting

1

2

3

4

5

6

7

1

Sanitasi

 

 

 

 

 

 

 

2

Turbin listrik mikro hidro

 

 

 

 

 

 

 

3

Jalan/tras

 

 

 

 

 

 

 

4

Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

5

Puskermas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Dalam kasus perbedaan tertentu, gunakan skala penomoran mulai dari 0 atau 1 untuk beberapa penomoran, perhatikan contoh 2 di atas, ada 5 (lima) pilihan berseri (series) ingin mengungkapkan sikap; boleh juga dengan 4 (empat) pilihan berseri, yaitu: Sangat bagus, Bagus, Cukup, Kurang. Kadang kala ada juga sampai 10 (sepuluh) pilihan berseri, cuma akan kesulitan dalam hal memaknai angka-angka tersebut. Pada umumnya banyak dipakai 5 (lima) atau 4 (empat) pilihan berseri.

 

          Hal lain yang diperhatikan, apakah butir kuesioner memakai pilihan genap (4) atau ganjil (5). Kalau pilihan ganjil berarti  ada pilihan posisi netral (tengah) untuk responden, dan berbeda pada pilihan genap, responden dipaksa memilih salah satu sisi (arah pilihan posisitf atau negatif). Di bawah ini diberi beberapa contoh kategori tingkatan respon.

1) Kategori pilihan genap

Sangat tidak puas

Semua tidak dibantu

Kurang puas

Ada sedikit bantuan

Puas

Ada cukup bantuan

Sangat puas

Sangat membantu

 

2) Kategori pilihan ganjil

Sangat tidak suka

Sangat tidak setuju

Umumnya tidak suka

Beberapa tidak setuju

Tidak tentu

Tidak jelas

Umumnya suka

Beberapa setuju

Sangat suka

Sangat setuju

  

Lima kategori pilihan lebih lengkap, daripada empat kategori. Perlu diperhatikan keseimbangan pilihan antara positif dan negatif.

 



PENILAI (Juri)

PENILAI

(JURI)

Oleh : Dr. Wakhinuddin S, MPd

Spesialis : Evaluasi Program

Dosen : FT dan PPs UNP

——————————————————————————-

Orang yang memberi penilaian terhadap suatu kegiatan disebut Penilai (Juri).  Penilai dalam istilah bahasa Inggris lainnya dikenal dengan sebutan assessor, rater, marker  dan judge. Kesemua istilah dapat saling dipertukarkan pemakaiannya, Steven Barrett pada suatu artikel dia menyebut  penguji sebagai marker[1] dan pada artikel lain beliau menyebut rater.[2] 

Dalam Penilaian (assessmen) sistem pendidikan, ada istilah yang sama artinya, tapi berbeda peran dan otoritasnya, yaitu Verifier dan assessor.  Verifier adalah individu atau kelompok yang terlibat menilai sistem pendidikan (sekolah) secara keseluruhan, sedangkan assessor adalah penilai (juri) internal yang  terlibat langsung dalam suatu proses penilaian yang dilakukan secara berkala. Secara nasional sesuai dengan Undang-undang, suatu negara membentuk badan mandiri, seperti: Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) untuk Indonesia. Dengan demikian ada yang disebut penilai internal dan eksternal.

Perkembangan di masyarakat terutama pada penilaian perlombaan, kompetensi dan apresiasi telah banyak memakai penilai; masyarakat umum lebih banyak menyebutnya sebagai juri, seperti pada kegiatan: ujian kecakapan mekanik otomotif, lomba fisika, lomba matematika, lomba lari, musyabaqa tilawatil Al-Quran, kontes kecantikan, lomba lawak, festival film, lomba nyanyi, sejenis Idol dan seterusnya.  Penilai (juri) pada kegiatan itu sangat berperan dalam menentukan sekor peserta. Biasanya penilai diambil dari profesi selingkup kegiatan tersebut, dan umumnya adalah orang-orang yang telah senior pada bidang profesi itu.

Penilai secara organisasi dapat dibagi atas penilai internal dan penilai eksternal. Seorang penilai internal (insider) adalah individu atau kelompok yang merupakan kesatuan dari pelaksanaan program, sedangkan penilai eksternal (outsider) individu atau kelompok di luar program yang dengan suatu alasan tertentu ikut memberi perhatian pada pelaksanaan program.[3]

Pada ujian praktek kompetensi di SMK penilai eksternal, adalah orang yang memiliki kepakaran di bidangnya, dapat berasal dari Asosiasi profesi, Majelis sekolah, DU/DI, BLK, PPPG kejuruan, Perguruan tinggi, dan pihak lain yang relevan, sedangkan unsur internal adalah guru kejuruan yang memiliki bidang keahlian yang sesuai[4].

Secara teoritis, konfigurasi dari kombinasi kedua jenis penilai dapat  berupa: internal untuk internal, internal untuk eksternal, eksternal untuk internal, dan eksternal dan eksternal. Untuk ujian praktek, konfigurasi yang dipakai adalah eksternal untuk internal, yaitu penilai eksternal diminta menilai suatu program dengan siswa sekolah setempat. Keberadaan penilai eksternal pada sistem pendidikan tidak lepas dari peran dan fungsinya, yaitu untuk menjamin obyekvitas materi ajar dan penilaian[5].

Teori bias dapat dipakai dalam mengungkapkan obyektivitas atau ketidakadilan penilaian seseorang penilai. Bias adalah kesalahan umum sistematik dalam suatu proses pengukuran dibuktikan dengan hasil berbeda suatu pengujian pada dua atau lebih kelompok atau individu[6]. Bias ada dalam bentuk bias performansi dan bias isi.

Bias performansi banyak terjadi pada karyawan, suatu tes digunakan untuk memprediksi seberapa bagus seorang karyawan melakukan pekerjaan untuk menentukan besar gajinya. Yang terjadi satu atau lebih kelompok secara konsisten salah dalam menggambarkan apasaja yang diukurnya, biasanya menaksir terlalu tinggi atau sebaliknya menaksir terlalu rendah. Dalam hal pemakaian Penilai eksternal pada ujian parktek di sekolah kejuruan, kebanyakkan memberi sekor sangat variatif mulai nilai rendah (underestimating) sampai nilai tertinggi (overestimating), seiring dengan itu sulit diramal hasil penilainnya.

Bias isi adalah ketidakproporsionalan representasi atau stereotip dari kelompok tertentu pada suatu butir tes. Ketidakproporsionalan keterwakilan kelompok seperti pria dan wanita, sedangkan bias stereotip dapat dalam bentuk rasialis dan sexualis. Kedua jenis bias isi menimbulkan ketidakakuratan dalam melakukan pengukuran. Dalam pengukuran kompetensi mekanik otomotif bias isi dapat dikatakan tidak ada, pada umumnya yang ada bias performansi.

Konsep bias dapat dijelaskan melalui skaterplot berikut,        Y

          

                                                           A       ………..

                                                           ……………

                                   D               ……………

                                               ……………..

           Yc                    

                                   . ……………..

                       ………….………….

                       ………………..

                       …………… C          B

                                                                                   X

                                                 Xc     

Gambar 1 : Ilustratif nilai berdasarkan pada sekor (X) dan sekor

                       Kriteria (Y)[7].

Kuadran A berisi kejadian positif benar (siswa yang lulus); kuadran B berisi kejadian positif salah (siswa yang gagal), kuadran C berisi kejadian negatif benar (menolak siswa yang gagal), dan kuadran D berisi kejadian negatif salah (menolak siswa yang lulus). Y adalah sekor rata-rata nilai siswa dan Yc adalah nilai sukses di sekolah sama atau lebih, X adalah komposit nilai digunakan memprediksi dan Xc adalah sekor batas lulus. Beberapa pakar dalam membahas validiti, mengatakan positif kesalahan dan negatif kesalahan sebagai dua galat (errors)[8].


[1] Barrett, S. Hecs Lotto: Does Marker Variability Make Examinations A Lottery? (http: www.aare.edu.au/99pap/bar 99789.htm)

[2] Barrett, S. The Impact of Training on rater Variability. International Education Journal Vol 2, No. 1, 2001. (http: iej.cjb.net).

[3] J.M. Owen, Program Evaluation : Form and Approaches (Sydney: Alen & Unwin. 1993). pp. 33-41,

[4] Depdiknas. Panduan Ujian Nasional dan Uji Kompetensi SMK 2002/20003 (Jakarta: Depdiknas). p.26

[5] David Warren Piper. Are Professors Professional?. Journal Higher  Education Policy Series; Vol.25). (London: Jessica Kingsley Publishers. 1994). p.28.

[6] William Wiersma dan Stephen G Jurs, Educational Measurement and Testing (Boston: Allyn and Bacon. 1990).

[7] Linda Crocker; James Algina. Introduction to Classical and Modern Test Theory (Chicago: Holt, Rinehart and Winston, Inc. 1986). p. 268.

[8] W. A. Mehren, dan Lehmann, I.J. Standardized Test in Educational (New York: Holt, Rinehart and Winston. 1980). p.76.