Wakhinuddin’s Weblog


PENILAI (Juri)

PENILAI

(JURI)

Oleh : Dr. Wakhinuddin S, MPd

Spesialis : Evaluasi Program

Dosen : FT dan PPs UNP

——————————————————————————-

Orang yang memberi penilaian terhadap suatu kegiatan disebut Penilai (Juri).  Penilai dalam istilah bahasa Inggris lainnya dikenal dengan sebutan assessor, rater, marker  dan judge. Kesemua istilah dapat saling dipertukarkan pemakaiannya, Steven Barrett pada suatu artikel dia menyebut  penguji sebagai marker[1] dan pada artikel lain beliau menyebut rater.[2] 

Dalam Penilaian (assessmen) sistem pendidikan, ada istilah yang sama artinya, tapi berbeda peran dan otoritasnya, yaitu Verifier dan assessor.  Verifier adalah individu atau kelompok yang terlibat menilai sistem pendidikan (sekolah) secara keseluruhan, sedangkan assessor adalah penilai (juri) internal yang  terlibat langsung dalam suatu proses penilaian yang dilakukan secara berkala. Secara nasional sesuai dengan Undang-undang, suatu negara membentuk badan mandiri, seperti: Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) untuk Indonesia. Dengan demikian ada yang disebut penilai internal dan eksternal.

Perkembangan di masyarakat terutama pada penilaian perlombaan, kompetensi dan apresiasi telah banyak memakai penilai; masyarakat umum lebih banyak menyebutnya sebagai juri, seperti pada kegiatan: ujian kecakapan mekanik otomotif, lomba fisika, lomba matematika, lomba lari, musyabaqa tilawatil Al-Quran, kontes kecantikan, lomba lawak, festival film, lomba nyanyi, sejenis Idol dan seterusnya.  Penilai (juri) pada kegiatan itu sangat berperan dalam menentukan sekor peserta. Biasanya penilai diambil dari profesi selingkup kegiatan tersebut, dan umumnya adalah orang-orang yang telah senior pada bidang profesi itu.

Penilai secara organisasi dapat dibagi atas penilai internal dan penilai eksternal. Seorang penilai internal (insider) adalah individu atau kelompok yang merupakan kesatuan dari pelaksanaan program, sedangkan penilai eksternal (outsider) individu atau kelompok di luar program yang dengan suatu alasan tertentu ikut memberi perhatian pada pelaksanaan program.[3]

Pada ujian praktek kompetensi di SMK penilai eksternal, adalah orang yang memiliki kepakaran di bidangnya, dapat berasal dari Asosiasi profesi, Majelis sekolah, DU/DI, BLK, PPPG kejuruan, Perguruan tinggi, dan pihak lain yang relevan, sedangkan unsur internal adalah guru kejuruan yang memiliki bidang keahlian yang sesuai[4].

Secara teoritis, konfigurasi dari kombinasi kedua jenis penilai dapat  berupa: internal untuk internal, internal untuk eksternal, eksternal untuk internal, dan eksternal dan eksternal. Untuk ujian praktek, konfigurasi yang dipakai adalah eksternal untuk internal, yaitu penilai eksternal diminta menilai suatu program dengan siswa sekolah setempat. Keberadaan penilai eksternal pada sistem pendidikan tidak lepas dari peran dan fungsinya, yaitu untuk menjamin obyekvitas materi ajar dan penilaian[5].

Teori bias dapat dipakai dalam mengungkapkan obyektivitas atau ketidakadilan penilaian seseorang penilai. Bias adalah kesalahan umum sistematik dalam suatu proses pengukuran dibuktikan dengan hasil berbeda suatu pengujian pada dua atau lebih kelompok atau individu[6]. Bias ada dalam bentuk bias performansi dan bias isi.

Bias performansi banyak terjadi pada karyawan, suatu tes digunakan untuk memprediksi seberapa bagus seorang karyawan melakukan pekerjaan untuk menentukan besar gajinya. Yang terjadi satu atau lebih kelompok secara konsisten salah dalam menggambarkan apasaja yang diukurnya, biasanya menaksir terlalu tinggi atau sebaliknya menaksir terlalu rendah. Dalam hal pemakaian Penilai eksternal pada ujian parktek di sekolah kejuruan, kebanyakkan memberi sekor sangat variatif mulai nilai rendah (underestimating) sampai nilai tertinggi (overestimating), seiring dengan itu sulit diramal hasil penilainnya.

Bias isi adalah ketidakproporsionalan representasi atau stereotip dari kelompok tertentu pada suatu butir tes. Ketidakproporsionalan keterwakilan kelompok seperti pria dan wanita, sedangkan bias stereotip dapat dalam bentuk rasialis dan sexualis. Kedua jenis bias isi menimbulkan ketidakakuratan dalam melakukan pengukuran. Dalam pengukuran kompetensi mekanik otomotif bias isi dapat dikatakan tidak ada, pada umumnya yang ada bias performansi.

Konsep bias dapat dijelaskan melalui skaterplot berikut,        Y

          

                                                           A       ………..

                                                           ……………

                                   D               ……………

                                               ……………..

           Yc                    

                                   . ……………..

                       ………….………….

                       ………………..

                       …………… C          B

                                                                                   X

                                                 Xc     

Gambar 1 : Ilustratif nilai berdasarkan pada sekor (X) dan sekor

                       Kriteria (Y)[7].

Kuadran A berisi kejadian positif benar (siswa yang lulus); kuadran B berisi kejadian positif salah (siswa yang gagal), kuadran C berisi kejadian negatif benar (menolak siswa yang gagal), dan kuadran D berisi kejadian negatif salah (menolak siswa yang lulus). Y adalah sekor rata-rata nilai siswa dan Yc adalah nilai sukses di sekolah sama atau lebih, X adalah komposit nilai digunakan memprediksi dan Xc adalah sekor batas lulus. Beberapa pakar dalam membahas validiti, mengatakan positif kesalahan dan negatif kesalahan sebagai dua galat (errors)[8].


[1] Barrett, S. Hecs Lotto: Does Marker Variability Make Examinations A Lottery? (http: www.aare.edu.au/99pap/bar 99789.htm)

[2] Barrett, S. The Impact of Training on rater Variability. International Education Journal Vol 2, No. 1, 2001. (http: iej.cjb.net).

[3] J.M. Owen, Program Evaluation : Form and Approaches (Sydney: Alen & Unwin. 1993). pp. 33-41,

[4] Depdiknas. Panduan Ujian Nasional dan Uji Kompetensi SMK 2002/20003 (Jakarta: Depdiknas). p.26

[5] David Warren Piper. Are Professors Professional?. Journal Higher  Education Policy Series; Vol.25). (London: Jessica Kingsley Publishers. 1994). p.28.

[6] William Wiersma dan Stephen G Jurs, Educational Measurement and Testing (Boston: Allyn and Bacon. 1990).

[7] Linda Crocker; James Algina. Introduction to Classical and Modern Test Theory (Chicago: Holt, Rinehart and Winston, Inc. 1986). p. 268.

[8] W. A. Mehren, dan Lehmann, I.J. Standardized Test in Educational (New York: Holt, Rinehart and Winston. 1980). p.76.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

I’m new to this blog. Apologize for asking this though, but to OP…
Do you know if this can be true;
http://www.bluestickers.info/ringtones.php ?
it came off http://ringtonecarrier.com
Thanks🙂

Komentar oleh Weninspiz




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: