Wakhinuddin’s Weblog


BATAS LULUS
Februari 23, 2013, 2:03 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA

BATAS LULUS

(Setting Standard – Cut Off)

Metode dalam menetapkan standar batas kelulusan, yaitu contrasting-groups standard-setting method. Ada 2 versi dalam metode ini yaitu metode yang pertama method-tire versi person-focused dan versi response-focused. Versi respon-focused adalah versi yang lebih baik, hal ini dapat ditingkatkan dengan mengadopsi beberapa praktek metode angoff yang dimodifikasi.

Sudah hampir selama 30 tahun para pendidik sudah menggunakan tes criterion-referenced/tes prestasi untuk membuat pertimbangan tentang pengetahuan dan keterampilan siswa. Hal ini dimulai secara sungguh-sungguh pada tahun 1970-an dengan kemampuan yang minimum untuk melakukan perubahan. Nilai tes kemampuan yang minimum secara khusus digunakan untuk menunjukkan apakah tingkat kelulusan para siswa sekolah menengah ditingkat pengetahuan dan keterampilannya yang telah dicapai bisa diterima. Proses pengetahuan telah digunakan untuk mengelompokkan para siswa yang pintar dan yang tidak pintar. Perubahan penilaian yang berdasarkan standar dimulai pada tahun 1990-an. Banyak daerah mulai menguji para siswanya dibeberapa kelas dengan pengaturan yang baku di kelas tersebut. Standard-setting memberikan contoh penilaian nasional tentang kemajuan pada (NAEP) yang dimulai dengan penggolongan dan melaporkan nilai dengan kategori awal tahun 1990-an.

Standard-setting meliputi pengembangan standar prestasi dan batasan nilai. Standar prestasi itu adalah suatu uraian pengetahuan dan keterampilan bahwa siswa harus mendemonstrasikan untuk menunjukkan bahwa mereka menemukan sebuah tingkatan prestasi yang spesifik di dalam suatu area. Batas nilai adalah tes nilai yang memisahkan siswa yang mencapai standar prestasi dan yang tidak. Standar prestasi itu adalah konsep dan batas nilai adalah defenisi operasional dari konsep tersebut.

Banyak metode standard-setting yang telah dikembangkan, dan telah dikelompokkan baik sebagai metode test-centered atau metode examinee-centered. Metode test-centered memusatkan pada materi sebagai objek pertimbangan. Metode ini merupakan metode yang paling baik dipelajari yang telah dimodifikasi dengan metode angoff. Dengan metode ini standar prestasi dapat dikembangkan dan kemudian penilaian dapat dilakukan oleh seorang pelatih / sekelompok pelatih yang akan mengoreksi jawaban dari setiap item yang ada dalam tes / penilaian pada setiap tingkat prestasi. Penilaian itu dijumlahkan untuk masing-masing item yang dinilai oleh tim penilai dan penjumlahan adalah rata-rata ketercapaian suatu nilai yang mencapai batas nilai.

Sebaliknya metode examinee-centered berpusat pada penempuhan ujian sebagai objek pertimbangan. Metode examinee-centered ini yang paling umum adalah metode contrasting-groups dan metode borderline-group. Metode ini sudah teruji sebelumnya. Metode contrasting-groups biasanya diuraikan sebagai prosedur dimana penilaian pada standard-setting menggolongkan suatu kelompok penempuh ujian/penempuh ujian yang berkemampuan menurut ketercukupan dari pengetahuan mereka berdasarkan pada pokok materi dengan melalui tes. Batas nilai menetapkan titik yang membagi keduanya. Versi metode contrasting-groups adalah suatu prosedur person-focused. Versi metode contrasting-groups memfokuskan pada respon dalam menjawab ujian. Metode ini memusatkan pada keputusan peserta tes dalam menjawab soal. Perbedaan antara versi person-focused dan versi response- focused tidak terdapat dalam artikel sebelumnya.

Langkah-langkah utama metode itu yang telah dilaksanakan dalam set standar adalah: a. Memilih penilai dan peserta tes (penilai untuk studi person-focused atau untuk pengujiannya; b. Pelatihan untuk pengujian; c. Mengembangkan uraian dengan defenisi standar prestasi (konseptual yang membagi garis antara anak yang pintar dan yang tidak pintar; d. Membuat pertimbangan terhadap peserta ujian untuk hail ujian itu; e. Menggunakan hasil pertimbangan untuk mengkalkulasikan batas nilai. Menurut Clauser dan Sceleina. Langkah-langkah yang lain berupa a. evaluasi terhadap; b. perbandingan prosedur dari dalam metode set standar; c. Mengadakan statistik peragaan Studi Cizeky dan Hemat.

Tentang 2 versi group contrasting, versi person-focused telah umum diuraikan dan diterapkan oleh para ahli, sedangkan versi response- focused di terapkan lebih sedikit walaupun pada saat ini sudah diusahakan untuk menjadi populer bila dibandingkan dengan metode angoff yang sudah dimodifikasi. Beberapa studi membandingkan batas nilai yang dihasilkan oleh metode contrasting-groups dan batas nilai yang produksi untuk metode lain. Kita tidak bisa menetapkan suatu yang baku kecuali kita memutuskan apa yang kita inginkan. Kita harus menyediakan satu baris peningkatan, suatu variabel yang menerangkan apa yang kita cari.

siswa

Standar

Gambar 2.

Variabel ini biasanya lahir karena sebuah tes kemudian dikalibrasi dengan materi tes yang menggambarkan baris dan membantu kita untuk memutuskan nilainya, cukup banyak ukuran tes Takers menunjukkan kepada kita siapa yang nilainya bagus dan tidak bagus. Satu hal yang menjadi tolak ukur adalah siswa itu sendiri dan yang lainnya standar kita. Jika tes dimaksudkan untuk menstratifikasi tes takers, kemudian banyak standar yang perlu untuk diseting. Keputusan yang pertama dalam menetapkan standar adalah menempatkan suatu ukuran. Titik variabel perghitungan adalah penambahan. Ini memerlukan pertimbangan oleh ahli yang kualitatif. Keputusan yang kedua adalah memutuskan tingkat penguasaan. Apakah tingkat sukses terpenuh ”penambahan materi diharapkan”. Tingkat penguasaan 100% sukses menyiratkan kemampuan yang sempurna, tetapi itu tidak mungkin. 50% sukses  menunjukkan pada ukuran. 75% sukses. Yang logis di atas 90%.

Gambar 3.

Daerah kepercayaan penempatan baku, ini menandai titik akhir dimana kita dapat mempunyai 95 % kepercayaan dalam menetapkan satu arah dengan cara yang sama dalam menetapkan standar. Sepanjang daerah siswa dan daerah baku tidak tumpang tindih. Satu keputusan harus jelas ketika mereka tumpang tindih pada suatu asimetri alami ketika kita menjamin kemampuan, maka kita dapat menjamin mutu. Kita yakin dengan pengecualian siswa di atas standar, jika kita tidak yakin maka siswa tidak lewat.

 

 

 

 



PESERTA SM-3T-PPG3T KABUPATEN ACEH SELATAN 2011
Januari 4, 2013, 3:45 pm
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV

 

DAFTAR NAMA PESERTA SM-3T-PPG3T 2011
DAERAH SASARAN  KABUPATEN ACEH SELATAN
No. Nomor Peserta Nama JK Program Studi Daerah Sasaran
1 317 Maradona L Bimb. Konseling Aceh Selatan
2 415 Kurnia Sapartia P Bimb. Konseling Aceh Selatan
3 526 Yusmawati P Bimb. Konseling Aceh Selatan
4 538 Milla Amir P Bimb. Konseling Aceh Selatan
5 540 Surlina P Bimb. Konseling Aceh Selatan
6 592 Palin Nur Rahmadi Eff L Bimb. Konseling Aceh Selatan
7 028 Syinta Dewi Mustika P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
8 041 Rina Surya Asmayetti P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
9 079 Jasmiati Putri P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
10 146 Vivi Afriani Putri P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
11 390 Adib Arifin L Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
12 528 Nur Febriani P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
13 198 Afriyuna P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
14 205 Citra Lia Maharani P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
15 215 Fitri Gusnila P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
16 366 Sri Laila Madina P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
17 379 Khairatul Arifah P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
18 425 Safrun Jamil L Pend. B. Inggris Aceh Selatan
19 451 Yesi Mariana P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
20 469 Guslia Rahma P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
21 485 Mike Okmawati P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
22 525 Ulviza Harika P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
23 576 Martin Fauza L Pend. B. Inggris Aceh Selatan
24 587 Fety Diana Sari P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
25 083 Shintya Effendi P Pend. Biologi Aceh Selatan
26 454 Irfan Dani L Pend. Biologi Aceh Selatan
27 391 Robi Jasman L Pend. Biologi Aceh Selatan
28 048 Widyatul Ulya P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
29 087 Ariesmen Rahmat Yunis L Pend. Ekonomi Aceh Selatan
30 144 Yolastri P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
31 185 Destia Rahma Putri P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
32 278 Ani Neswati P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
33 567 Lisa Mulya P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
34 584 Rahmawati P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
35 051 Aliyah Edi Putri P Pend. Fisika Aceh Selatan
36 269 Neli Sriwahyuni P Pend. Fisika Aceh Selatan
37 167 Silvia Abusta P Pend. Fisika Aceh Selatan
38 188 Erin Rahmi Pratiwi P Pend. Fisika Aceh Selatan
39 374 Alil Triwahyu Sakti L Pend. Fisika Aceh Selatan
40 579 Weni Surya Ningsih P Pend. Fisika Aceh Selatan
41 595 Friska Agustya P Pend. Fisika Aceh Selatan
42 040 Iramadhona P Pend. Geografi Aceh Selatan
43 056 Elika Marfina P Pend. Geografi Aceh Selatan
44 094 Yosse Ardi L Pend. Geografi Aceh Selatan
45 193 Windi Pratama L Pend. Geografi Aceh Selatan
46 224 Vera Lusiana P Pend. Geografi Aceh Selatan
47 418 Riri Oktaria P Pend. Geografi Aceh Selatan
48 492 Rusdy Saleh L Pend. Geografi Aceh Selatan
49 539 Ika Puspita Sari P Pend. Geografi Aceh Selatan
50 126 Andrias Kasman L Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
51 154 Firmansyah L Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
52 234 Devi Azmi P Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
53 304 Santy Mairezky P Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
54 480 Reni Eka Putri P Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
55 003 Santi Syafiana P Pend. Kimia Aceh Selatan
56 223 Rivo Juita Sudirman P Pend. Kimia Aceh Selatan
57 275 Liza Asriana P Pend. Kimia Aceh Selatan
58 386 Andrico Pratama L Pend. Kimia Aceh Selatan
59 399 Ria Syafeny P Pend. Kimia Aceh Selatan
60 017 Mutiara Pertiwi P Pend. Matematika Aceh Selatan
61 068 Rizki Illahi L Pend. Matematika Aceh Selatan
62 070 Restu Wardi L Pend. Matematika Aceh Selatan
63 071 Khairur Rahmi P Pend. Matematika Aceh Selatan
64 177 Rahmi Safitri P Pend. Matematika Aceh Selatan
65 274 Bambang Irawan L Pend. Matematika Aceh Selatan
66 285 Yuyu Wahyuni P Pend. Matematika Aceh Selatan
67 312 Fitrah Hanifa P Pend. Matematika Aceh Selatan
68 461 Afri Yeli P Pend. Matematika Aceh Selatan
69 498 Devi Febri Susanti P Pend. Matematika Aceh Selatan
70 524 Ade Suryani Syafitri P Pend. Matematika Aceh Selatan
71 020 Nina Wati P Pend. Sejarah Aceh Selatan
72 027 Elisya Sovia P Pend. Sejarah Aceh Selatan
73 057 Zetpi Ardi L Pend. Sejarah Aceh Selatan
74 300 Srinola Putri P Pend. Sejarah Aceh Selatan
75 301 Rinal Zulharni L Pend. Sejarah Aceh Selatan
76 371 Roma Mulyani P Pend. Sejarah Aceh Selatan
77 382 Mailani Kurniawati P Pend. Sejarah Aceh Selatan
78 474 Yeni Delmi Elmala P Pend. Sejarah Aceh Selatan
79 518 Rani Afrinalita P Pend. Sejarah Aceh Selatan
80 565 Zilmi N. P Pend. Sejarah Aceh Selatan
81 152 Ivone Febridede P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
82 190 Lenvitrinal L Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
83 245 Yessy Marlin P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
84 282 Leny Amanda Wahyuni P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
85 325 Rian Scorpiando L Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
86 483 Ahmad Syarif L Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
87 564 Three Nanda Juwita P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
88 050 Yuni Atdri L Pend. TIK Aceh Selatan
89 228 Najmi Laila Sari P Pend. TIK Aceh Selatan
90 472 Dini Can Musni P Pend. TIK Aceh Selatan
91 272 Weni Aprilina P Pend. TIK Aceh Selatan
92 321 Zulfan Akbar L Pend. TIK Aceh Selatan
93 332 Silvi Yulanda P Pend. TIK Aceh Selatan
94 358 Erik Ariwa L Pend. TIK Aceh Selatan
95 389 Cheneron Wincy L Pend. TIK Aceh Selatan
96 402 Mur Irrahmah P Pend. TIK Aceh Selatan
97 558 Henny P Pend. TIK Aceh Selatan
98 559 Rini Kharmila Sari P Pend. TIK Aceh Selatan
99 001 Yunadil Fitra L Penjas Aceh Selatan
100 006 Haolongan L Penjas Aceh Selatan
101 034 Efren Doni L Penjas Aceh Selatan
102 035 Beni Deprio Suwandi L Penjas Aceh Selatan
103 047 Marno L Penjas Aceh Selatan
104 072 Fandi Lata Putra L Penjas Aceh Selatan
105 074 Elda Hustiano L Penjas Aceh Selatan
106 077 Yadi Putra L Penjas Aceh Selatan
107 078 Safe’i L Penjas Aceh Selatan
108 093 Ferawati P Penjas Aceh Selatan
109 496 Raymon Frangky L Penjas Aceh Selatan
110 102 Irvan Noris L Penjas Aceh Selatan
111 111 Retnawati P Penjas Aceh Selatan
112 123 Rezki Hari Karya L Penjas Aceh Selatan
113 153 Rismen Aroza L Penjas Aceh Selatan
114 199 Halal Hamdi L Penjas Aceh Selatan
115 214 Melzawati P Penjas Aceh Selatan
116 216 Juliana P Penjas Aceh Selatan
117 249 Santi P Penjas Aceh Selatan
118 257 Messa Fitra L Penjas Aceh Selatan
119 276 Kiki Kurniawan L Penjas Aceh Selatan
120 296 Afrialdi L Penjas Aceh Selatan
121 297 Evil Aqwinaldo L Penjas Aceh Selatan
122 334 Yulihandi L Penjas Aceh Selatan
123 337 Afrizen L Penjas Aceh Selatan
124 340 Roni Bay L Penjas Aceh Selatan
125 381 Zulpahmiri L Penjas Aceh Selatan
126 398 Zelfy Endri L Penjas Aceh Selatan
127 408 Eko Fernanda Irsa L Penjas Aceh Selatan
128 437 Nova Yulanda P Penjas Aceh Selatan
129 459 Alwi Surya L Penjas Aceh Selatan
130 467 Masykur L Penjas Aceh Selatan
131 493 Rusilawati P Penjas Aceh Selatan
132 494 Rizki Miswandi L Penjas Aceh Selatan
133 495 Darmis P Penjas Aceh Selatan
134 497 Septi Annisa P Penjas Aceh Selatan
135 506 Tomi Japaris L Penjas Aceh Selatan
136 176 Eko Junia Putra L Penjas Aceh Selatan
137 203 Arja Mulia L Penjas Aceh Selatan
138 127 Didi Rosdianto L Penjas Aceh Selatan
139 042 Desti Novita P PG-PAUD Aceh Selatan
140 043 Yeza Piti Tola P PG-PAUD Aceh Selatan
141 119 Riva Zeodora P PG-PAUD Aceh Selatan
142 380 Maya Oktafarina P PG-PAUD Aceh Selatan
143 508 Dewi Rahmainingsih P PG-PAUD Aceh Selatan
144 562 Ice Purnawanti P PG-PAUD Aceh Selatan
145 002 Emilia P PGSD Aceh Selatan
146 026 Netrianti P PGSD Aceh Selatan
147 037 Septoadi L PGSD Aceh Selatan
148 038 Edi Marta L PGSD Aceh Selatan
149 061 Doni Prayogi L PGSD Aceh Selatan
150 062 Neti Eva Susanti P PGSD Aceh Selatan
151 064 Yori Erwandi L PGSD Aceh Selatan
152 065 Firma Rinofan L PGSD Aceh Selatan
153 066 Afrilla Sari P PGSD Aceh Selatan
154 251 Afrinaldi L PGSD Aceh Selatan
155 252 Ira Febriani P PGSD Aceh Selatan
156 263 Ilham Dani L PGSD Aceh Selatan
157 491 Emilia Meisisri P PGSD Aceh Selatan
158 482 Syofia Winda P Pend. B. Indonesia Aceh Singkil
159 149 Harmon L Pend. Kimia Aceh Singkil
160 186 Acep Andri Jayamukti L Pend. TIK Aceh Singkil
161 183 Ade Yatma L PGSD Aceh Singkil
Padang, 25 November 2011
Pembantu Rektor I,
Prof. Dr. Phil. Yanuar Kiram
NIP. 19570101 198403 1 004

 

 



LAPORAN MONEV SM3T (Lengkap)
Mei 18, 2012, 8:20 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV

LAPORAN MONEV SM3T

(SARJANA MENDIDIK DI DAERAH

TERDEPAN, TERLUAR DAN TERTINGGAL (SM-3T)

 

TAHUN  2011/ 2012

 

 

 

 

KABUPATEN                        : ACEH SINGKIL

KECAMATAN                      : PULAU BANYAK

 

 

DISUSUN OLEH

 

WAKHINUDDIN S.

 

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

 

PADANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.   Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan wilayah yang luas dan secara geografis maupun sosiokultural sangat heterogen, pada beberapa wilayah penyelenggara pendidikan masih terdapat berbagai permasalahan, terutama pada daerah yang tergolong terdepan, terluar, dan tertinggal (daerah 3T).

Beberapa permasalahan penyenggara pendidikan, utama di daerah 3T antara lain adalah permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah (shortage), distribusi tidak seimbang (unbalanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competencies), serta ketidak sesuaian anatara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang mampu (mismatched). Permasalahan lain dalam penyenggara pendidikan adalah angka putus sekolah juga masih relatif tinggi, sementara angka partisipasi sekolah masih rendah.

Sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia peningkatan mutu pendidikan di daerah 3T perlu dikelola seacara khusus dengan sungguh-sungguh, utamanya dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, agar daerah 3T dapat segera maju sejajar dengn daerah lain. Hal ini menjadi perhatian khusus Kementerian Pendidikan Nasional, mengingat daerah 3T memiliki peran strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka mempercepat pembangunan pendidikan di daerah 3T, adalah Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia . Program meliputi (1) Program Pendidikan Profesi Guru Terntegrasi dengan Kewenangan Tambahan (PPGT), (2) Program Sarjana Mendidik  di Daerah 3T (SM-3T), (3) Program Kuliah Kerja Nyata di Daerah 3T dan PPGT (KKN-3T PPGT), (4) Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Kolaboratif (PPGT Kolaboaratif), (5) Program S-1 Kependidikan Dengan Kewenangan Tambahan (S-1 KKT). Program-program tersebut merupakan jawaban untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di daerah 3T.

Program SM-3T sebagi salah satu Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia ditujukan kepada para Sarjana Pendidik yang belum bertugas sebagai guru, untuk ditugaskan selam satu tahun pada daerah 3T. Program SM-3T dimaksudkan untuk membantu mengatasi kekurangan guru, sekaligus mempersiapkan calon guru profesional yang tangguh, mandiri, dan memiliki sikap peduli terhadap sesama, serta memiliki jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa, agar dapat maju bersama mencapai cita-cita luhur seperti yang diamanahkan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

  1. B.   Pengertian

Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidik untuk berpatisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.

  1. C.   Tujuan
    1. Membantu daerah 3T dalam mengatasi permasalahan pendidikan terutama kekurangan tenaga pendidik.
    2. Memberikan pengalam pengabdian kepada sarjana pendidik sehingga terbentuk sikap profesional ,cinta tanah air, bela negara, peduli, empati, terampil memecahkan masalah kependidikan, dan tanggung jawab terhadap kemajuan bangsa, serta memiliki jiwa ketahan malangan dalam mengembangkan pendidikan pada daerah-daerah tergolong 3T.
    3. Menyiapkan calon pendidik yang memiliki jiwa keterpanggilan untuk mengabdikan dirinya sebagi pendidik profesional pada daerah 3T.
    4. Mempersiapkan calon pendidik profesional sebelum mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
  2. D.   Ruang Lingkup SM-3T
    1. Melaksanakan tugas pembelajaran pada satuan pendidikan sesuai dengan bidang keahlian dan tuntunan kondisi setempat.
    2. Mendorong kegiatan inovasi pembelajaran di sekolah.
    3. Melakukan kegiatan ekstra kulikuler.
    4. Membantu tugas-tugas yang terkait dengan menajemen pendidikan di sekolah.
    5. Melakukan pembedayaan masyarakat untuk mendukung program pembangunan pendidikan di daerah 3T.
    6. Melaksanakan tugas sosial kemasyarakatan.
  3. E.   Landasan Yuridis
    1. UU Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
    2. UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
    3. PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
    4. PP Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru.
    5. Pemendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
    6. Pemendiknas nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.
    7. Pemendiknas nomor 8 tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan.
    8. Pemendiknas nomor 9 tahun 2010 tentang Program Pendidikan Profesi Guru bagi Guru Dalam Jabatan.
    9. Kepmendiknas nomor 126/2010 tentang Penepatan LPTK Penyelenggara PPG bagi Guru Dalam Jabatan.
    10. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 64/DIKTI/Kep/2011 tentang Penepatan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara Rintisan Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (Berkewenangan Ganda).
    11. Keputusan Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 2788/E4.6/2011 tentang Penempatan Lembaga Pendididkan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T).
  4. F.    Waktu Pelaksanaan

Program SM-3T merupaka program pengabdian sarjana pendidikan untuk melaksanakan tugas mendidik selama satu tahun di daerah 3T, dilanjutkan dengan program PPG selama satu sampai dua semester di LPTK penyelenggara.

Implementasi Program SM-3T pada tahun 2011, direncanakan dimulai Nopember 2011 sampai dengan Oktober 2012, sedangkan unntuk pelaksanaan Program PPG direncanakan dimulai Januari 2013.


BAB II

KONDISI OBJEKTIF DAERAH SASARAN

  1. A.     Kondisi Gografis

Secara geografis luas wilayah desa pulau balai lebih kurang ± 206,5 Ha, Dengan kondisi desa yang dikelilingi lautan sehingga cukup strategis untuk nelayan. Adapun secara geografis batas-batas pulau balai  adalah sebagai berikut:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan pulau Teluk Nibung
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan pulau Panjang
    1.  Sebelah Barat berbatasan dengan pulau Haloban
    2. Sebelah Timur berbatasan dengan kepulauan Tapus-Tapus

 

  1. B.       Jumlah Penduduk

Tabel I

DATA LUAS WILAYAH DESA PULAU BALAI dan JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN JENIS KELAMIN

N0

Luas wilayah

Jumlah KK

Jumlah Penduduk

LK

PR

Jumlah

1

1000 Ha

385

930

803

1733

Sumber: Kantor Kepala Desa Pulau Balai

Di desa Pulau Balai jumlah populasi penduduk adalah 1733 jiwa, jumlah laki-laki sebanyak 930  jiwa, jumlah perempuan sebanyak 803 jiwa yang dikepalai oleh 385 Kepala Keluarga, maka berdasarkan hasil tabel di atas maka jumlah penduduk desa Pulau Balai yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak atau dominan dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan. Namun, setiap kali program yang dilaksanakan oleh peserta PESERTA GURU SM3T di Desa Pulau Balai ,warga desa Pulau Balai turut membantu kegiatan yang di laksanakan oleh peserta PESERTA GURU SM3T.

Tabel II

JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL

 TAHUN 2011

No

Tingkat Pendidikan

Volume

Satuan

1

Tidak Sekolah

5

Jiwa

2

Tidak Tamat SD

15

Jiwa

3

Tamat SD

50

Jiwa

4

Tamat SMP

880

Jiwa

5

Tamat SMA

750

Jiwa

6

Tamat D-1

5

Jiwa

7

Tamat D-2

4

Jiwa

8

Tamat D-3

4

Jiwa

9

Tamat S-1

20

Jiwa

Jumlah

1733

Jiwa

Sumber : Sensus Penduduk Pulau Balai

            Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di desa Pulau Balai  lebih banyak yang selesai hanya di bangku SD, dan hanya 20 jiwa yang  dapat menjadi sarjana, oleh sebab itu, maka hampir sebagian besar masyarakat di desa tersebut yang pekerjaan setiap harinya bertani atau menjadi buruh tani, dan ada juga yang bekerja sebagai tukang.

Tabel III

JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN PENYERAPAN TENAGA KERJA

TAHUN 2011

No

Tingkat Pendidikan

Volume

Satuan

1

Pegawai Negeri Sipil/Polri

45

Jiwa

2

Nelayan

993

Jiwa

3

Tani

36

Jiwa

4

Buruh

550

Jiwa

5

Janda Duda

54

Jiwa

6

Anak Yatim

55

Jiwa

Jumlah

1733

Jiwa

         

Sumber : Sensus Penduduk desa Pulau Balai

            Kebanyakan penduduk yang tinggal di desa Pulau Balai berprofesi sebagai nelayan.dan buruh. Daerah sasaran Program SM-3T untuk daerah Aceh Singkil berada di Pulau Banyak. Pulau Banyak adalah gugusan pulau yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil yang terdapat dua kecamatan di daerah tersebut. Adapun kecamatan yang dimaksud adalah Kecamatan Pulau Banyak dan Kecamatan Pulau Banyak Barat. Kecamatan Pulau Banyak terdiri dari tiga desa yaitu Pulau Balai, Pulau Baguk, dan Teluk Nibung, sedangkan Pulau Panyak Barat terdiri atas tiga desa juga yang meliputi Haloban, Ujung Sialit dan Suka Makmur. Berdasarkan judul laporan yang dibuat maka daerah sasaran SM-3T untuk daerah Aceh Singkil terletak di SekolahPulau Balai Kecamatan Pulau Banyak.

Desa Pulau Balai merupakan daerah teluk yang terdiri atas satu desa berdekatan dengan desa pulau baguk. Di daerah ini dikelilingi oleh lautan. Jarak yang ditempuh untuk menuju singkil yaitu lebih kurang 5 jam perjalan dengan menggunakan alat transfortasi laut yakni perahu.

  1. C.    Kondisi Demografis

Penduduk asli desa pulau balai sebagian besar berasal dari Melayu jameh walaupun ada sebagian kecil yang berasal dari masyarakat pendatang seperti Aceh, pakpak, nias, Sibolga dan lain-lain. Masyarakat desa Pulau Balai lebih kurang terdiri dari 385 kepala keluarga yang menepati setiap rumah. Walaupun demikian pelaksanaan Program Keluarga Berencana belum berjalan sebagai mana mestinya. Hal ini terlihat dalam setiap kepala keluarga yang mampunyai anak lebih dari dua dan pernikahan dini merupakan faktor pedukung lain sehingga tidak terlaksananya program tersebut. Kepulauan banyak berada sebelah barat kota Singkil, dengan jarak tempuh boat sekitar 4 jam. Sesuai dengan namanya kecamatan ini adalah terdiri dari beberapa pulau, yang terbesar adalah pulau Haloban.

  1. D.    Kondisi Sosial, Ekonomi, Dan Budaya

Kehidupan sosial masyarakat Pulau Balai tumbuh dengan kekompakan dan semangat gotong royong. Hal ini dapat terlihat dari kegiatan gotong royong warga setiap pagi  jum’at, sekaligus diadakannya ronda malam secara bergiliran. Kemudian dalam hal penegakan peraturan desa dapat dilihat dari tidak dibolehkannya kegiatan melaut pada malam jum’at sampai selesai salat jum’at sekaligus kalau ada yang meninggal dunia di desa tersebut. Apabila hal tersebut dilanggar maka dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku di desa tersebut.

Kondisi ekonomi masyarakat pulau balai sebagian  besar bekerja sebagai nelayan. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena Pulau Balai dikelilingi oleh lautan sehingga melaut merupakan mata pencarian utama. Kemudian masyarakat  Pulau Balai juga keramba ikan  merupaka pilihan kedua. Kemudian kegiatan berdagang kecil-kecilan di setiap rumah merupakan pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang banyak dilakukan.

Penduduk Pulau Balai mayoritas beragama islam walaupun ada yang beragama kristen tetapi dalam skala yang kecil. Dalam ajaran islam tersebut di Pulau Balai terdapat dua pandangan atau organisasi islam yaitu Muhammadiyah dan Tarbiyah. Walaupun demikian kehidupan masyarakat tetap hidup rukun dan damai.

Kondisi budaya  di desa Pulau Balai sudah bercampur baur dengan kata lain bervariasi. Hal ini disebabkan karena pengaruh pendatang yang menempati desa tersebut sejak dahulu. Dapat dilihat dari Budaya Nias, Budaya Aceh, dan Budaya Padang. Contohnya Tari Mahena  merupakan tarian yang berasal dari Nias, kemudian Adat Aceh yang di gunakan pada pesta pernikahan dan bahasa jamu dan kesenian yang sebagian berasal dari padang (Sumatera Barat).

 

 

 

 

 


BAB III

KEGIATAN KERJA

  1. A.    MAHASISWA
    1. a.      Bidang Kependidikan
    2. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
    3. Menyusun bahan ajar.
    4. Menyusun alat dan media pembelajaran.
    5. Menyusun perangkat evaluasi.
    6. Melaksanakan tugas mengajar.
    7. Melaksanakan layanan bimbingan bagi siswa yang membutuhkan.
    8. Membantu administrasi pendidikan di sekolah.
    9. Melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler.
    10. Melakukan pendampingan belajar siswa di luar jam pelajaran.
    11. b.      Bidang Kemasyarakatan
      1. Pemberdayaan masyarakat dan keluarga yang diintergrasikan dengan program POSDAYA.
      2. Membina kegiatan pendidikan non formal (pemberantasan buta huruf).
      3. Pembinaan kepemudaan (olahraga dan kesenian).
      4. Peningkatan kesadaran kebersihan dan pengelolaan lingkungan.
      5. Pemberian penyuluhan masalah NAPZA dan pelatihan KOGAMI untuk penanggulangan bencana gempa dan tsunami.
      6. B.     DOSEN
        1. Mengantar mahasiswa
        2. Melaksana Monev

BAB IV

PELAKSANAAN MONEV

  1. A.      Penempatan Guru SM3T

No.

Nama

Penempatan

Keterangan

1

Catur Triwahyuningsih

SDN Teluk Nibung

 

2

Ade Yatma

SDN Suka Makmur

Pindah ke SMP SATAP Teluk Nibung

3

Marsimin

SMAN 1 Pulau Banyak

 

4

Acep Jaya Indramukti

SMAN 1 Pulau Banyak

 

5

Sri Ayu

SMPN 1 Pulau banyak

 

6

Aprima Siska Riski Amalia

SMPN 1 Pulau banyak

 

7

Yasri Wahyuni

SMPN 3 SATAP T. Nibung

 

8

Ernawati Berutu

SMPN 2 Pulau banyak

 

9

Syofia Winda

SMPN 2 Pulau banyak

 

10

Harmon

SMPN 2 Pulau banyak

 

 

Pelaksanaan program SM3T pada Kabupaten Singkil, guru program SM3T di tempatkan pada kecamatan Pulau Banyak, diikuti oleh 10 guru SM3T. Ke-sepuluh guru tersebut sampai pertengahan pelaksanaan program SM3T masih tetap mereka terlibat dengan baik. Ada satu guru yang penempatan awalnya pada SDN Suka Makmur pindah ke SMP SATAP Teluk Nibung. Alasan pindah saudara Ade Yatma adalah karena sakit malaria.

  1. B.       Kondisi Sekolah
    1. a.      SDN Teluk Nibung

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

12 (PNS 8)

2.

Jumlah Kelas

6

3.

Jumlah Siswa

169

 

  1. b.      SDN Suka Makmur*

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

Tidak ada data

2.

Jumlah Kelas

Tidak ada data

3.

Jumlah Siswa

Tidak ada data

* Guru SM3T pindah ke SMP SATAP Teluk Nibung.

  1. c.       SMAN 1 Pulau Banyak

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

13 (yang PNS 3)

2.

Jumlah Kelas

9 (rusak/tidak dipakai 2 kls)

3.

Jumlah Siswa

217

 

  1. d.      SMPN 3 Satap Teluk Nibung

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

5

2.

Jumlah Kelas

3

3.

Jumlah Siswa

55

 


 

  1. e.       SMPN 2 Pulau Banyak

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

11

2.

Jumlah Kelas

9

3.

Jumlah Siswa

109

 

Rasio jumlah guru dengan jumlah siswa dapat dikatakan cukup, tetapi ditinjau dari aspek distribusi tidak seimbang (unblanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competenies), serta tidak kesesuain antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang mampu (mistmatched) jauh dari cukup. Satu lagi aspek penting dalam pelaksanaan pendidikan di Kepulauan Banyak adalah tingkat kehadiran guru dalam mengajar sangat penting diperhatikan pengelola pendidikan; dari info yang didapat guru-guru honorer  (bukan guru SM3T) jarang masuk mengajar di kelas.

Kemungkinan ini disebabkan kebanyakan guru-guru tersebut masih guru honorer, dan banyak diantara mereka bukan penduduk kepulauan Banyak, mereka tinggal di kota Singkil, perjalanan laut yang ditempuh jauh dan cenderung berbahaya. Sebagaimana saya alami, di tengah jalan/laut, setelah 2 jam boat meninggalkan dermaga, kami dihadang badai kuat dan hujan lebat, sehingga nakhoda memutuskan balik kembali ke kota Singkil.

 


  1. C.      Program

No.

Komponen Monev

Sumber informasi

Temuan

PSRT

PEMDA

KS/ GURU

PP SM3T

OBS

DOK

1

Pemda Mitra

 

 

 

 

 

 

 

  1. Keterlibatan Pemda terhadap Program SM3T

 

 

Baik

  1. Kekuatan  hubungan Pemda mitra dengan LPTK dalam keterlibatan langsung SM3T

 

 

 

 

Bagus

  1. Komitmen Pemda mitra terhadap program SM3T

 

 

 

Bagus

2

Penempatan Peserta 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Ketepatan sasaran: lokasi, sekolah, dll

Sangat tepat

  1. Jumlah peserta per kecamatan

 

 

Kurang

 

  1. Jumlah peserta per sekolah

Kurang

 

  1. Kesesuaian kebutuhan sekolah dari aspek : jumlah, mata pelajaran, dll

Kurang

3

Bidang Pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menyusun perangkat pembelajaran: RPP, bahan ajar, alat dan media, dan evaluasi

 

 

 

Ada lengkap dan semua guru SM3T membuat perangkat tersebut

 

  1. b.  Melaksanakan tugas mengajar

 

 

Sangat baik

 

  1. c.   Melaksanakan layanan bimbingan bagi siswa yang membutuhkan

 

 

Ada

 

  1. Membantu admins-trasi pendidikan di sekolah

 

 

Ada

 

  1. Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler

 

 

Banyak

 

  1. Melakukan pendampingan belajar siswa di luar jam pelajaran

 

 

 

Ada

4

Bidang kemasyakatan

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pemberdayaan masyarakat dan keluarga yang diintegrasikan dengan program POSDAYA

 

 

 

Semua Guru SM3T ada melaksana dan berjalan dengan baik

 

  1. Membina kegiatan pendidikan non formal (pemberan-tasan buta huruf)

 

 

 

Ada

 

  1. Pembinaan kepemudaan (olah raga dan kesenian)

 

 

 

Ada dan Sering

 

  1. Peningkatan kesadaran kebersihan dan pengelolaan lingkungan

 

 

 

Ada

 

5

Profil Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Siswa: Jumlah siswa, jumlah rombel, jumlah rata-rata per rombel, jumlah siswa miskin, dll

 

 

 

Kurang; banyak yang DO. APK sangat rendah.

 

  1. Guru : Jumlah guru, status guru, kualifi-kasi, kepangkatan/ gol, jenis kelamin, yang sudah sertifikasi, dll

 

 

 

Cukup, apa bila semua guru honorer (tidak tetap) terlibat penuh mengajar. Dalam kenyataanya, berbeda, kebanyakan dan sering guru honorer absen mengajar. Dengan demikian dapat dikatakan keca-matan Kepulauan banyak masih kurang guru.

 

  1. Sarana sekolah : jumlah ruang kelas, ruang guru, ruang laboratorium, MCK, dll.

 

 

Kurang

6

Kendala yang dihadapi

  1. Secara umum dapat dikatakan tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan program SM3T
  2. Secara spesifik, kendala dalam pelaksanaan pendidikan di kepulauan Banyak berupa:
  3. Guru status PNS sangat kurang
  4. Guru honorer (tidak tetap) sering absen mengajar; ini disebabkan, guru-guru honorer tersebut umumnya berdomisili di kota Singkil, bukan di kepulauan Banyak.
  5. Sarana dan prasarana yang kurang lengkap
  6. Belum ada bahan ajar  dan media pembelajaran yang relevan
  7. Kurang minat siswa dalam belajar
  8. Buku paket yang masih kurang
  9. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kurang (tidak lengkap)
    1. Transportasi laut lama dan kurang baik (ada kapal feri, tetapi tidak setiap hari ada jadwalnya).

7

Rekomendasi tindak lanjut

  1. Program SM3T masih perlu dilanjutkan pelaksanaannya di Kep. Banyak.
  2. Pengangkat guru negeri, terutama bagi putra daerah
  3. Perbaikan sarana-prasarana
  4. Melengkapi bahan ajar.
  5. Bea siswa perguruan tinggi (LPTK) buat putra daerah yang berminat jadi guru, seperti Bidik Misi.

 

            Pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah-sekolah Pulau Banyak kendala yang dihadapi meliputi :

  1. Sarana dan prasarana yang kurang lengkap
  2. Guru masih kurang, baik dari aspek kuantitas, relevansi, maupun kualitas.
  3. Belum ada silabus yang relevan
  4. Belum ada bahan ajar  dan media pembelajaran yang relevan
  5. Kurang minat siswa dalam belajar
  6. Buku paket yang masih kurang
  7. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
  8. D.      Solusi yang ditempuh

Berdasarkan kendala yang dihadapi solusi yang dapat di tempuh adalah:

  1. Meneruskan program SM3T
  2. Memberi peluang putra daerah lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke LPTK melalui program khusus, seperti Bidik Misi dan Bea siswa lainnya.
  3. Guru-guru yang mismatch diberi peluang mengikuti program KKT dengan penanganan khusus. 
  4. Melakukan pelatihan guru, baik dalam profesionalisme maupun pedagogik.
  5. Meningkatkan pengawasan sekolah oleh dinas
  6. Menyusun silabus pembelajaran
  7. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
  8. Menyusun bahan ajar dan media pembelajaran
  9. Memberi masukan kepada wali siswa bersangkutan terhadap pentingnya pendidikan
  10. Menyesusaikan buku paket dengan RPP dalam proses pembelajaran
  11. Memanfaatkan lingkungan alam (contextual learning)
  12. E.       Nilai-Nilai positif
    1. Lingkungan keluarga merupakan pendukung terbesar dalam pendidik anak
    2. Adanya kerjasama dan kekompakan dalam masyarakat merupakan langkah menuju desa maju ke depan
    3. Belajar bukan dapat dari buku saja tetapi belajar bisa juga di dapat dari alam
    4. Pendidikan bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi perubahan sikap/perilaku harus  diimbang


BAB V

PENUTUP

  1. A.      KESIMPULAN

              Program SM-3T adalah program pengabdian sarjana pendidikan untuk berpatisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan daerah 3T selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan di lanjutkan dengan program pendidikan profesi guru.

              Beberapa kesimpulan yang dapat disampaikan: permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah (shortage), distribusi tidak seimbang (unblanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competenies), serta tidak kesesuain antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang mampu (mistmatched).

Permasalahan peserta didik adalah angka putus sekolah relatif tinggi, angka partisipasi masih rendah, dengan demikian perlu peningkatan APK/APM pendidikan di kepulauan Banyak.

Secara umum dapat dikatakan kondisi sarana dan prasarana sekolah-sekolah di Pulau Banyak  rusak.

  1. B.       SARAN        
    1. Diharapkan program SM3T yang sedang berjalan dapat dilanjutkan.
    2. Diharapkan program SM3T dilanjutkan ditahun depan.
    3. Guru dapat mengikuti Pelatihan dalam bidang kompetensi profesional dan pedagogik,
    4.  Guru-guru yang mismatch dapat mengikuti program KKT Kemdikbud.
    5. Sarana dan prasarana sekolah agar diperbaiki, agar terpenuhinya standar sarana dan prasarana, dan standar proses dan standar lainnya.
    6. Hendaknya Pemda propinsi dan kabupaten berusaha meningkatkan APK/APM.
    7. Pengangkatan Guru PNS baru, terutama putra daerah.
    8. Bea siswa melanjutkan ke pendidikan tinggi bagi putra daerah.GambarGambarGambar


UJIAN TENGAH SEMESTER JAN-JUN 2012 MK: Evaluasi Program
April 14, 2012, 8:53 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA

PROGRAM PASCASARJANA
FT – UNP

———————————————————
UJIAN TENGAH SEMESTER JAN-JUN 2012
MK: Evaluasi Program

Penjelasan:
1. Jawab soal berikut sesuai pertanyaan,
2. Take home, kumpul hari Sabtu 21 April 2012,saat kuliah
3. Maksimum 10 halaman folio.
4. Tulisan tangan
5. Tulis pernyataan ini diakhir jawaban: Dengan ini saya bersumpah bahwa soal ini saya kerjakan sendiri, tanpa meniru dan mencontek teman.

Soal:
1. Uraikan (format tabel) perbedaan penelitian dengan evaluasi program!
2. Jelaskan 4 (empat) Standar Untuk menilai saat mengevaluasi suatu program; setiap standar tuliskan minmal 3 (tiga) unsur!
3. Jelaskan dengan membandingkan minimal 2 (dua) model evaluasi program!
4. Pada model CIPP ada 4 (empat) variabel. Jika dianalisis lebh cermat kita akan menemukan beberapa aspek dari variabel tersbut.
a. Jelaskan perbedaan variabel variabel-variabel tersebut
b. Jelaskan hubungan antara variabel tersebut.
c. Jelaskan dan beri contoh dari setiap variabel tersebut.
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fokus evaluasi. Mengapa selain fokus, kita juga harus mendesain evaluasi.
6. Jelaskan perbedaan mendasar antara monitoring dan evaluasi. Hubungkan penjelasan saudara dengan suatu program di sekolah saudara dan berikan contoh.
7. Bantu ke dua peneliti ini:
Judul 1: Evaluasi program prakerin siswa.
Judul 2: Evaluasi program supervisi dialogis dalam meningkatkan kinerja guru SMK, yang meliputi guru bersertifikat dan Guru belum bersertifikat.

a. Tuliskan rumusan masalah dari kedua judul tersebut.
b. Sebutkan variabel dari masing-masing tahapan tersebut (pakai Model CIPP atau Model Stake).
c. Sebutkan unit analisis dari ke dua penelitan tersebut.
d. Sebutkan instrumen dan jenisnya untuk mengukur masing-masing variabel dari kedua evaluasi program tersebut
e. Sebutkan sumber data masing-masing variabel dari ke dua judul evaluasi program tersebut.
f. Gambarkan kerangka berpikir dari ke dua jenis evaluasi program tersebut.

8. Uraikan langkah-langkah melaksanakan evaluasi program.

Selamat bekerja
Good lucky U



Undang-undang Tentang Evaluasi (Pendidikan)

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003, pada bab XVI pasal 57 sampai dengan 59 tentang Evaluasi menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada piha-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyataka bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.



Evaluasi Program Praktik Kerja Industri Luar Negeri Siswa SMK Negeri 6 Padang dengan Model CIPP
Oktober 9, 2011, 3:50 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, Uncategorized

KESIMPULAN
(Evaluasi Program Praktik Kerja Industri Luar Negeri Siswa SMK Negeri 6 Padang dengan Model CIPP by Wakhinuddin S dan Tursina)

Setelah diadakan penelitian tentang pengaruh evaluasi program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang dengan model CIPP maka dapat ditarik kesimpulan :
1. Konteks (context) dalam program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari tujuan program, dan lingkungan program.
Berdasarkan analisis deskriptif terhadap variabel context yang terdiri dari dua indikator tujuan program prakerin dan lingkungan tempat prakerin. Berdasarkan analisis deskriptif indikator tujuan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 93.33% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, tujuan di adakannya program prakerin luar negeri di SMK Negeri 6 Padang: 1) meningkatkan kompetensi siswa sesuai dengan kompetensi keahliannya, 2) membuka wawasan siswa tentang kompetensi keahlian yang dimilikinya, 3) untuk mencetak tenaga-tenaga yang propesional dibidangnya sehingga setelah tamat dapat diterima di dunia industri, 4) memenuhi salah satu persyaratan Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (SRBI). Hal tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh Depdiknas (2005:1).
Berdasarkan analisis deskriptif indikator lingkungan tempat prakerin dengan tingkat capaian sebesar 90.37% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, mengenai lingkungan industri prakerin sesuai dengan kompetensi keahlian siswa dan di tempat prakerin dapat meningkatkan kompetensi produktif siswa. Hal tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh Depdiknas (2005: 8).
2. Masukan (input) dalam program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari SDM siswa, pengelola outlet, guru pembimbing, instruktur, serta sarana prasarana pendukung, sumber dana dan relevansi pelaksanaan program dengan kebutuhan siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM siswa SMK Negeri 6 Padang dengan tingkat capaian sebesar 92.59% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, persyaratan siswa prakerin luar negeri antara lain: a) minimal 17 tahun pada saat pemberangkatan, b) ada izin dari orang tua, c) sehat fisik dan mental, dan disiplin, d) mampu berbahasa inggris, e) memiliki kompetensi dasar dan kejuruan, e) lulus tes dari industri. Hal ini sesuai dengan Depdiknas (2005:3) tentang kriteria siswa yang disiapkan untuk mengikuti prakerin luar negeri.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM pengelola outlet SMK Negeri 6 Padang, dengan tingkat capaian sebesar 77.78% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, kurang optimal manajemen pengelola Outlet melengkapi dokumen prakerin luar negeri antara lain : a) buku jurnal, b) format penilaian kegiatan siswa industri, c) instrument monitoring yang standar untuk guru pembimbing prakerin, d) tidak adanya secara tertulis persyarat dan tugas guru pembimbing, e) jadwal pemberangkatan siswa tidak sesuai dengan program yang ada di sekolah sehingga mempengerahui nilai ketuntasan belajar siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM guru pembimbing SMK Negeri 6 Padang, dengan tingkat capaian sebesar 74.69% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa pengelola outlet SMK Negeri 6 Padang tidak menentukan persyaratan khusus untuk menjadi guru pembimbing prakerin luar negeri. Hal ini kurang sejalan dengan Dikmenjur (dalam tantang, 2000:35) menjelaskan “Guru PSG adalah individu yang memiliki kemampuan kompetensi, profesi keguruan atau pendidik secara dominan tetapi juga harus memiliki kompetensi teknis keahlian tertentu dan memiliki jiwa enterpreneurship). Dalam pelaksanaan PSG guru dipersyaratkan harus memiliki sejumlah kompetensi atau kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk melaksanakan keprofesiannya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru PSG.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM Instruktur (Pembimbingan Prakerin) luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 83.70% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa peranan instruktur di industri memberikan arah dan petunjuk-petunjuk praktis tentang pekerjaan, sesuai dengan perkembangan teknologi. Hal ini sudah sesuai menurut Nolker dalam Tatang (2000 : 35) “Instruktur memberikan bimbingan ahli bagi peserta didik dalam melakukan pekerjaan latihan serta memberikan petunjuk-petunjuk praktis, sesuai dengan perkembangan teknologi mutakhir. Instruktur juga menyiapkan pertemuan pengajaran dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip didaktik dan ia juga memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam penyelenggaraan ujian.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator sarana prasarana pendukung prakerin luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 92.59% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, sarana prasaran yang ada ditempat prakerin sesuai dengan komptensi keahlian siswa. Hal ini sesuai menurut Depdiknas, (2005:3) tentang klasifikasi industri antara lain : a) memiliki fasilitas sesuai dengan standar kompetensi, b) bidang usaha yang sesuai dengan kompetensi siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator sumber dana prakerin luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 77.04% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa: 1) sumber dana prakerin luar negeri dari ortua siswa dan industri, 2) kurang ketrasparan pihak pengelola outlet tentang pengunaan dana prakerin kepada orang tua.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator relevansi program prakerin keluar negeri relevan dengan kebutuhan siswa dengan tingkat capaian sebesar 86.67% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa relevansi program prakerin keluar negeri sudah relevan dengan kebutuhan siswa.
3. Proses (process) pelaksanaan program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari persiapan, pelaksanaan, monitoring dan hambatan pelaksanaan program prakerin.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator persiapan pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 76.85% dalam kategori cukup baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, tidak adanya pengarahan pengisian buku jurnal karena buku jurnal tidak ada dan tidak di ikut sertakan guru pembimbing dalam pembekalan prakerin. Hal ini kurang sejalan dengan Wahyu, (2008:222) .
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 82.55% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa dalam pelaksanaan program prakerin belum dilengkapi dengan uji kompetensi siswa di industri. Hal ini belum yang sesuai dengan kebijakan Dikmenjur (2005:9) evaluasi pelaksanaan praktik kerja industri dilakukan uji kompetensi di industri. Sebagai bukti bahwa telah terlaksananya evaluasi kompetensi prakerin siswa memperoleh sertifikasi dari industri. Sedangkan menurut Nolker dalam Tatang (2000:35) menyebutkan, bahwa instruktur memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam penyelenggaraan ujian.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator monitoring pelaksanaan program prakeri luar negeri tingkat capaian sebesar 67.26% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa 1) kegiatan monitoring yang dilakukan oleh guru pembimbing baru sebatas kunjungan dan pengamatan lapangan dan belum menggunakan instrumen monitoring yang standar, 2) evaluasi pelaksanan prakerin luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang hanya sebatas wawancara dengan siswa dan pihak industri dan belum pernah melakukan evaluasi program prakerin luar negeri. Hal ini sesuai dengan kebijakan Depdiknas (2009) program prakerin yang sudah dilakukan peserta didik perlu dievaluasi untuk melihat kesesuaian antara program dengan pelaksanaannya. Hal ini dimaksudkan sebagai dasar untuk penyusunan program tindak lanjut yang harus dilakukan, baik terhadap pencapaian kompetensi peserta didik maupun terhadap program prakerin.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator hambatan pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 53.78% dalam kategori kurang sekali. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa adanya hambatan dalam pelaksanaan program prakerin antara lain: 1) berbeli-belitnya biokrasi dalam melengkapi dan pengurusan dokumen pemberangkatan prakerin luar negeri, 2) jadwal pemberangkatan tidak sesuai dengan program sekolah sehingga sering terjadi masalah dengan nilai ketuntasan siswa.
4. Hasil (product) yang telah dicapai dari program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari daya serap siswa di industri.

Berdasarkan data hasil penelurusan terhadap siswa yang telah mengikuti prakerin keluar negeri dapat disimpulkan bahwa daya serap siswa yang mengikuti prakerin luar negeri secara keseluruhan baik yang melanjutkan kuliah maupun bekerja lebih tinggi dibanding dengan siswa yang mengikuti prakerin di dalam negeri.



Evaluasi Model CIPP
Oktober 4, 2011, 5:37 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV, PENELITIAN

EVALUASI MODEL CIPP
Wakhinuddin

Evaluasi model CIPP merupakan model yang banyak dikenal dan diterapkan oleh para evaluator. Model CIPP dikembangkan oleh Stufflebeam,dkk (1986) di Ohio State University. CIPP merupakan singkatan dari :
Context Evaluation : Evaluasi terhadap konteks
Input Evaluation : Evaluasi terhadap masukan
Process Evaluation : Evaluasi terhadap proses
Product Evaluation : Evaluasi terhadap hasil
Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adala komponen dari proses sebuah program kegiatan. Model CIPP adalah model evaluasi yang memandang program yang dievaluasi sebagai sebuah sistem.