Wakhinuddin’s Weblog


MONITORING DAN PENGUKURANNYA
Agustus 6, 2012, 4:00 pm
Filed under: Konsultan, MONEV

MONITORING DAN PENGUKURANNYA

Wakhinuddin

(Tim Monev PT. AP – Dir. Pembinaan SMP)

Kegiatan monitoring secara umum bertujuan untuk menjamin keberhasilan program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Secara khusus tujuan monitoring adalah untuk :

  1. Mengetahui perkembangan pelaksanaan program dan permasalahannya di lapangan, serta upaya untuk pemecahan/penyelesaian masalah dalam rangka penyempurnaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya.
  2. Melihat kinerja pelaksanaan program dari seluruh aspek (teknis, legalitas/administrasi dan keuangan) sebagai bahan untuk meningkatkan kinerja selanjutnya.

Dalam kegiatan monitoring ini, diperlukan tolok ukur/indikator kinerja yang akan dimonitor yang dikembangklan berdasarkan target-terget pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Dari indikator yang kembangkan tersebut, selanjutnya dalam proses monitoring akan dinilai apakah telah sesuai atau terjadi penyimpangan. Bila terjadi penyimpangan, maka perlu digali informasinya mengapa hal itu terjadi. Dari penilaian inilah kemudian timbul koreksi yang perlu dilakukan oleh para pelaksana dan pengambil kebijakan.

Tolok ukur/indikator kinerja adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Indikator kinerja berperanan sentral didalam proses monitoring pelaksanaan program. Indikator kinerja yang akan dipantau yang dapat bersifat kuantitatif, tetapi bisa juga kualitatif, sehingga indikator mempunyai fungsi untuk :

  1. Memperjelas apa, bagaimana dan dimana yang akan diukur.
  2. Menciptakan kesepakatan/konsensus untuk menghindari interpretasi yang salah dan menghindarkan diskusi selama pelaksanaan kegiatan.
  3. Membangun dasar dalam pelaksanaan kegiatan dan merupakan acuan dalam penyusunan daftar pertanyaan/apa yang akan ditanyakan.

Dengan demikian, maka Indikator kinerja dapat menentukan :

  1. Kuantitas (jumlah dalam satuan ukuran seperti berat, panjang, lebar, isi).
  2. Kualitas (menunjukkan mutu seperti unggul, baik, buruk, dan sebagainya.).
  3. Target/kelompok sasaran (siapa yang akan dinilai, obyek yang akan diukur, biasanya merupakan sumber informasi).
  4. Waktu/periode (kapan dilakukan).
  5. Tempat (dimana akan dilakukan).

Secara khusus, Indikator harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Sesifik dan jelas bagi semua pembaca/tidak ada kemungkinan salah interpretasi.
  2. Dapat diukur secara obyektif, yaitu dua orang yang mengukur indikator mempunyai kesimpulan yang sama.
  3. Dapat dicapai, artinya indikator itu wajar sehingga dapat dicapai oleh kegiatan program dan menjelaskan bagaimana cara mengukurnya.
  4. Relevan/substantive, yaitu harus menangani aspek-aspek obyektif yang relevan.
  5. Harus mampu menangkap perubahan yang terjadi baik yang tangible (nyata, dapat diraba) maupun yang intangible (tidak nyata, abstrak).

Dalam pengembangan indikator kinerja, hal-hal yang harus diperhatikan adalah :

  1. Indikator jangan menjadi output kegiatan, karena indikator hanya merupakan alat ukur.
  2. Indikator harus menentukan penggunaan output kegiatan oleh penerima langsung atau yang dituju.
  3. Setiap indikator harus mengandung fakta, dapat dibuktikan dan berkaitan dengan obyektif yang dimaksud.
  4. Setiap indikator harus bersifat spesifik dalam hal jumlah dan waktu.
  5. Jika dikumpulkan, indikator-indikator harus menguraikan semua aspek yang penting dari tujuan yang akan dicapai.
  6. Pengumpulan data-data indikator harus direncanakan sejak awal pelaksanaan (termasuk data dasar).
  7. Sumber informasi indikator harus dapat diakses dan dipercaya.

TABEL : MATRIK PENGEMBANGAN INDIKATOR KINERJA

PENGUKURAN

APA YANG DIUKUR

INDIKATOR

Keluaran (Output) Usaha Pelaksanaan Kegiatan
Hasil (Outcomes) Efektivitas Penggunaan output, manfaat yang berkelanjutan
Dampak (Impact) Perubahan Perbedaannya dengan masalah awal

Monitoring pelaksanaan program dapat dilaksanakan memalui beberapa metode, antara lain sebagai berikut :

  1. Monitoring melalui laporan kemajuan (progess report). Monitoring dilakukan berdasarkan laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan (monitoring indikator) dan laporan kemajuan penyerapan dana yang berbasis komputer dengan pemanfaatan aplikasi perangkat lunak (software) (secara detail akan dijelaskan dalam pengembangan sistem pelaporan). Komponen utama yang tertuang dalam laporan kemajuan terdiri dari :
    1. Daftar tujuan dan aktivitas pelaksanaan yang telah dilakukan.
    2. Kemajuan kegiatan dalam bentuk persentase dan rupiah.
    3. Identifikasi permasalahan di lapangan, khususnya terhadap kegiatan yang terlambat atau tidak sesuai dengan yang direncanakan.
    4. Rencana kerja pada periode berikuitnya dan usulan perubahannya (jika ada)
    5. Hal-hal yang perlu tindak lanjut, khususnya menyangkut kunjungan berikutnya
    6. Narasi laporan yang menjelaskan variasi yang terjadi terhadap pencapaian target dan tindak lanjut menyelesaian masalah.
  2. Monitoring melalui kunjungan lapangan (field visits). Monitoring dilakukan dengan melakukan kunjungan lapangan secara regular di lokasi kegiatan dalam rangka melihat proses pelaksanaan kegiatan. Kunjungan lapangan akan menyediakan informasi secara kuantitatif dan kualitatif yang tidak dijelaskan dalam laporan kemajuan. Kunjungan lapangan harus direncanakan berdasarkan beberapa pertimbangan :
    1. Elemen-elemen kegiatan dari rencana kerja pediode berjalan.
    2. Identifikasi/isu permasalahan dari kunjungan sebelumnya yang perlu tindak lanjut.
    3. Kunjungan lapangan dipandu dan dilaksanakan oleh Tim Teknis (Counterpart).
  3. Pemanfaatan hasil temuan dan penyediaan umpan balik (feedback). Temuan hasil monitoring akan digunakan dalam membuat kebijakan program. Untuk hal-hal tertentu dapat dugunakan dalam rangka pemberian umpan balik kepada pengelola di tiap tingkatan. Selanjutnya, hasil monitoring (termasuk laporan kunjungan lapangan) harus dibuat ringkasannya dan didiskusikan dalam rangka kaji ulang (review) pelaksanaan kegiatan dan menjadi bahan dalam penyusunan laporan selanjutnya. Rekomendasi terhadap revisi/penyempurnaan pelaksanaan kegiatan harus tertuang dalam rencana kerja (action plan) periode berikutnya.

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: