Wakhinuddin’s Weblog


ANALISIS SWOT UNTUK ROADMAP IKM
Januari 8, 2010, 2:16 am
Filed under: Konsultan

ANALISIS SWOT UNTUK ROAD MAP IKM
Bagian dari kegiatan
PENYUSUNAN PETA PANDUAN PENGEMBANGAN SENTRA IKM
KERAJINAN SULAMAN BORDIRAN KOTA PAYAKUMBUH (Proyek Roadmap IKM – Deprindag/Tahun 2009

Oleh tim konsultan : Wakhinuddin

Analisis SWOT merupakan identifikasi sistemtis dari faktor dan strategi yang merefleksi keduanya. Berdasarkan analisis SWOT dapat dipilih strategi SO (peluang kekuatan), WO (peluang kelemahan), ST (ancaman kekuatan), WT (ancaman kelemahan).

3.1 Kekuatan (Strength)
• Membordir dan menyulam sudah menjadi budaya masyarakat
• Pangsa pasar besar (ditengah masyarakat Islam dan etnis melayu baik di dalam maupun diluar negeri)
• Citra produk baik (Keunikan dalam produk bordir dan sulaman Nasional, khususnya bordir kerancang dan sulaman terawang Payakumbuh telah dikuasai secara turun temurun).
• Keunikan teknik hias bordir dengan mesin hitam yang memiliki nilai estetis tinggi dan spesifik daerah Sumbar.
• Bermacam jenis produk bordir dan sulaman sudah cukup terkenal di luar negeri (mukena, kebaya, baju kurung, jilbab, baju gunting cina/teluk belanga, lilit songkok haji)
• Tersedianya jumlah tenaga kerja yang cukup memadai dibidang kerajinan bordir dan sulaman (banyak SDM wanita yang menganggur)
• Memiliki peralatan mesin membordir yang memadai (mesin jahit biasa/mesin hitam, mesin puth, mesin yuki).
• Penyebaran unit usaha kerajinan bordir dan sulaman ada disetiap kecamatan
• Tersedianya sumber bahan baku kain alternatif dengan kualitas baik yang bisa dipakai pada kerajinan bordir dan sulaman (seperti: kain tenun Silungkang, tenun Halaban dan tenun Pandai sikek)
• Ditetapkannya sentra IKM kerajinan bordir dan sulaman sebagai salah satu industri prioritas dalam pengembangan industri Nasional (Dukungan pemerintah untuk pengembangan IKM kerajinan bordir dan sulaman)
• Tingginya kemampuan sentra IKM kerajinan bordir dan sulaman dalam penyerapan tenaga kerja dipedesaan.

3.2 Kelemahan (Weakness)
• Kapasitas produksi relatif kecil;
• Penyerapan jumlah tenaga kerja terampil kecil;
• Teknologi produksi relatif sederhana, mengakibatkan tingkat produktivitas rendah dan kapasitas produksi rendah (keterbatasan wawasan dan keterampilan SDM, keterbatasan dana, keterbatasan peralatan dan sarana),
• Teknologi desain dilakukan secara tradisional ( mutu rendah, pemahaman terhadap trend masih lamah, belum menyentuh selera pasar, cendrung menggunakan dan meniru desain yang dibuat pengusaha sejenis, dan masing-masing unit usaha belum memiliki desain yang spesifik);
• Belum adanya standar kualitas ukuran, desain, teknik dan lay-out sistem produksi di sentra IKM kerajinan bordir dan sulaman yang menunjang konsistensi produk dan quality control;
• Sistim produksi dilakukan dengan upah borongan, sehingga tingkat kerapihan terbatas;
• Distribusi bahan baku kain dan benang yang berkualitas baik, kurang lancar (pengadaan bahan baku di pasar Aur Bukitinggi dan Payakumbuh dihadapkan pada harga mahal dan untuk jenis dan kualitas tertentu sulit didapat dipasar lokal);
• Desain, jenis produk bordir dan sulaman monoton (belum menyentuh selera pasar baik untuk luar negeri, regional maupun domestik ).
• Daya saing produk kerajinan bordir dan sulaman Payakumbuh masih rendah dipasar domestik dan regional.
• Diversifikasi produk bordir dan sulaman belum ada dalam bentuk pakaian jadi (pada umumnya dipasarkan masih berupa lembaran meteran);
• Tingkat pendidikan formal rendah, sehingga produk kurang kreativ dan inovatif;
• SDM pengusaha umumnya kurang profesional dalam manajemen (manajemen produksi, pengelolaan usaha, administrasi dan keuangan);
• Keterampilan SDM tenaga kerja masih rendah, sehingga mutu rendah dan produktivitas rendah (kurang terlatih mendesain, teknik membordir, teknik menyulam dan teknik menjahit pakaian jadi);
• Pemasaran terbatas (76% masih mengandalkan pasar lokal dan kurangnya penggarapan pasar potensial terutama negara-negara Islam nilai ekspor rendah);
• Belum berperan lembaga pemasaran: trading house, BDC, otlet, maupun kemitraan berbagai sektor)
• Pelayanan purna jual lemah;
• Lemahnya riset, monitoring dan pengembangan pasar;
• Belum terbentuk sentra, baik sentra formal maupun sentra informal yang dapat mendukung terbentuknya lembaga koperasi, lembaga pemasaran, ataupun kelompok usaha lainnya;
• Dana investasi dan modal kerja terbatas,

3.3 Peluang (Opportunity)
• Permintaan tinggi untuk produk bordir kerancang (mukena, jilbab dan kebaya bagi masyarakat Islam dan etnis melayu luar negeri);
• Kebutuhan tinggi untuk semua jenis produk bordir dan sulaman (terutama pada musim hari-hari besar: lebaran, liburan sekolah);
• Globalisasi (adanya peluang pasar yang sangat luas, baik di dalam negeri maupun di dunia International);
• Tersedianya tenaga terampil yang belum dimanfaatkan secara optimal
• Trend menggunakan busana muslim (peluang meningkatkan produktivitas dan diversifikasi produk);
• Konsumen wanita masa kini lebih cendrung menggunakan pakaian jadi (siap pakai)
• Letak pasar Aur Kuning berdekatan dengan sentra produksi bordir dan sulaman Payakumbuh merupakan peluang peningkatan pemasaran untuk membuka showroom dan promosi. ( pasar konveksi no.2 setelah Tanah Abang);
• Kebijakan pemerintah mendukung;
• Perbankan menyediakan kemudahan kredit yang lebih besar

3.4 Ancaman (Threat)
• Adanya musibah gempa dapat mengurangi daya beli masyarakat domestik;
• Resesi ekonomi dunia, daya beli masyarakat menurun ;
• Mutu desain dan diversifikasi rendah, produk jenuh dipasaran, sehingga tingkat produktivitas menurun dan kapasitas produksi kecil;
• Karena tidak ada kontrak resmi, pasar luar negeri sering tidak jujur (Malaysia: jika tidak laku barang dikembalikan, sering pembayaran macet, keterlambatan pengiriman barang karena keterlambatan kontainer tidak jadi jual beli);
• Saingan produk dari daerah regional (saingan bordir Tasikmalaya dan sulaman Gorontalo);
• Saingan produk dari luar Negeri (produk Cina);
• Munculnya pesaing baru yang potensial, seperti: Malaysia, dan Vietnam
• Jenis produk bordir dan sulaman berupa kebaya, baju kurung dan baju muslim dari Payakumbuh tidak laku dipasaran (karena konsumen wanita masa kini cendrung menyukai bentuk produk siap pakai);
• Dana pemerintah untuk pembinaan bordir dan sulaman terbatas.
Matriks Analisis SWOT pengembangan sentra IKM kerajinan bordir dan sulaman ditunjukan pada Tabel 16 berikut :


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: