Wakhinuddin’s Weblog


PENSKALAAN

PENSKALAAN
Oleh Wakhinuddin S

Skala adalah seperangkat lambang atau angka yang dibuat sehingga melalui aturan lambang atau angka itu dapat ditempatkan posisi individu atau perilaku yang menjadi sasaran penggunaan skala. Selanjutnya, dapat dikatakan penskalaan (scaling) adalah suatu pengukuran kontinum pada suatu objek, person, atau peristiwa. Sehingga, penskalaan adalah prosedur dalam menentukan letak stimulus atau respon pada suatu garis kontinum. Dengan demikian dapat dikatakan, penskalaan merupakan fasilitas yang sengaja dibuat untuk menghasilkan angka pada kontinum, dan ini dapat dijadikan sekor bagi siswa.
Skala mempunyai informasi, semakin besar informasi yang diberikan semakin tinggi level skalanya, level skala terrendah sampai tertinggi dapat diurut sebagai berikut: skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio. Bila ditinjau dari orientasi pengukuran skala dapat dibagi atas pendekatan sitimulus, pendekatan respons, dan pendekatan subjek. Pendekatan orientasi berpusat pada respons sesuai dengan karakteristik penskalaan penelitian. Karakteristik itu adalah jawaban yang disusun bertingkat, dimulai dari butir jawaban rendah hingga ke butir jawaban tinggi. Prosedur yang demikian dikenal dengan penskalaan Guttman (analisis skalogram). Jika siswa dapat mengerjakan salah satu aktivitas, maka aktivitas yang lebih rendah semestinya dapat juga dikerjakannya.
Dalam proses pengukuran menggunakan skala, yang terjadi adalah skala sebagai stimulus dan mengharapkan ada respons (jawaban) dari siswa atau penilai. Respons dari siswa disebut pengukuran langsung (direct), sedangkan respons melalui penilai (juri) disebut pengukuran tidak langsung (indirect).
Skala pada penelitian ini pada awalnya memakai level rasio, karena memakai bilangan nyata (real-number), skala ini sesuai dengan keadaan sesungguh bahwa siswa yang tidak mempunyai kompetensi dinilai dengan angka nol (0). Dalam kondisi demikian, penilai (juri) harus memberhentikan siswa tampil, bila tidak diberhentikan siswa dapat merusak komponen mesin. Secara numerik dapat dikatakan pemakaian angka nol (0) adalah suatu kewajaran, sebab garis kontinum dimana sajapun berada tetap dimulai dari angka nol; bahkan tidak wajar bila dimulai dari angka bukan nol.
Namun Lee J. Cronbach (dalam Randall E. Schumacker), tidak percaya suatu skala pengukuran mempunyai titik nilai absolut. Seiring dengan itu, opini Cronbach tentang model Rasch menyebut data ‘kotor’ (messy) . Kritik ini terutama diarahkan kepada pengukuran unidimensi suatu variabel (faktor), Cronbach mempunyai persepsi bahwa suatu suatu faktor memiliki multidimensi. Peneliti menyolang pendapat Cronbach, karena teknik analisis statistik kecocokan (X2) dan analisis faktor (analisis komponen utama) dapat mendeteksi residu data.
Pada proses pengolahan data, karena mempertimbangkan angka tujuh (7) sebagai kriteria batas lulus pada mata pelajaran produktif di SMK, maka level skala dibuat menjadi ordinal, yang dikategorikan atas empat kelompok kompetensi; kategori pertama siswa tidak kompeten, kategori kedua siswa kurang kompetensi, kategori ketiga siswa mempunyai kompetensi minimal, kategori keempat siswa mempunyai kompetensi bagus.


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

rumus dan kehandalannya mana

Komentar oleh rojhieb

Pakai Alpha Cronbach

Komentar oleh wakhinuddin

Maaf, aplikasi bahasanya gak sama (antara winword dgn wordpress), pada rumus ada simbol statistik yg tidak sinkron dgn wordpress. Atau mungkin saya belum tau cara rendernya ke wordpress. Thank U

Komentar oleh wakhinuddin




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: