MENGGUNAKAN DIAGRAM BATANG UNTUK ANALISIS GAP
Wakhinuddin
Pelaksanaan program dapat menggunakan analisis gap mengidentifikasi prioritas untuk perbaikan. Kesenjangan antara kepentingan dan kepuasan, di mana diagram kepuasan (satisfaction) lebih pendek dari diagram penting (importance). Diagram batang, seperti yang diilustrasikan di bawah ini adalah kesederhanaannya. Peneliti dapat melihat, memahami dan menarik kesimpulan yang tepat.
Gambar : Gap analisis menggunakan bar chart
Pada contoh diilustrasikan oleh Gambar, kesenjangan terbesar adalah aspek pelayanan cepat. Kecepatan pelayanan menerima skor pentingnya 4.5 dari 5, namun skor kepuasan hanya 2,5 dari 5, berarti aspek ini perlu diperhatikan.
TEORI RESPONS BUTIR
Wakhinuddin
Teori respons butir (TRB) menggunakan distribusi probabilitas dalam bentuk kumulatif, dan secara empiris menunjukkan bahwa probabilitas jawaban betul pada butir ke–i berhubungan dengan kemampuan siswa, andaikata data-data hubungan keduanya digambarkan akan terbentuk grafik ojaif normal. Dari data probabilitas jawaban betul dan kemampuan responden dapat membuat bentuk grafik ojaif beraneka, ada yang landai dan adapula yang curam. Setiap grafik (kurva) menggambarkan bagaimana keadaan nilai parameter butir (b, а, c) dan parameter kemampuan (θ) responden.
Model ideal atau skala sempurna suatu variabel terpendam ada dalam kondisi Θ < bi dimana Pi(Θ) = 0 dan Θ ≥ dimana Pi (Θ) = 1, digambarkan
P (θ)
1,00
Probabilitas respons positif
0,00
bi
(Karakteristik latent )
Gambar: Kaitan antara probabilitas respons positif dan
karakteristik terpendam dengan model sempurna.
Gambar di atas merupakan model sempurna pengukuran variabel terpendam, sangat jarang hasil pengukuran memenuhi persyaratan model ideal. Gambar di atas merupakan tampilan penskalaan Guttman yang mengukur variabel latent sikap. Secara empirik (data siswa dan data butir) sesuai dengan teori respons butir modern. Karakter skala Guttman adalah penskalaan teknik kumulatif, pengukuran tunggal-matra (unidimensional), menggunakan sekor individu dan sekor total.
ASSESSMENT FISIK GEDUNG SEKOLAH
(Scoring Data Hasil Survai)
Wakhinuddin S
Tim AMP (Dinas Dikdas-Jakarta dan PT. Kogas)
Data yang didapat oleh surveyor dibawa ke base camp untuk diolah dan dianalisis oleh tenaga ahli yang berkompeten kemudian ditentukan ambang kerusakan dari setiap bangunan sekolah dan prioritas didalam pembangunannya. Penentuan ambang kerusakan dan prioritas ini dapat dilakukan dengan menggunakan metodologi analisis dengan indikator dan faktor-faktor yang sudah disepakati dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Ada beberapa bagian dari obyek dalam pekerjaan yang akan disurvai dan dinilai yaitu :
- Assesment Kondisi Gedung Sekolah
Assesment kondisi gedung sekolah merupakan kajian yang dilakukan berkaitan dengan pekerjaan sipil, Arsitektur dan Landscape. Kriteria penilaian terhadap kondisi gedung inipun harus mengacu pada kriteria teknis (sipil, arsitektur dan lanscape) sebuah bangunan gedung yang berlaku di Indonesia.
- Assesment Ambang Kerusakan
Penilaian dilakukan untuk menilai secara ekonomi perhitungan tertentu pada saat tertentu. Hasil yang diperoleh berupa data data kerusakan untuk dilanjutkan ke perencanaan perbaikan secara tepat. Dari data yang telah dikumpulkan surveyor dapat ditentukan skala prioritas pada masing masing elemen dan gedung sekolah serta fasilitas penunjang lainnya yang menghasilkan indeks prioritas. Semakin tinggi indek prioritas maka semakin tinggi pula kebutuhan untuk segera memperbaiki.
Yang dimaksud dengan ambang kerusakan disini adalah melakukan kategorisasi terhadap kondisi eksisting sekolah. Kategorisasi dibagi atas :
- Kategori Rehabilitasi Ringan
- Kategori Rehabilitasi Berat
- Kategori Rehabilitasi Total.
Assesment Ambang kerusakan ini merupakan kegiatan yang dilakukan setelah adanya kegiatan Pendataan Kondisi Gedung Sekolah, karena kajian ini merupakan kajian terhadap data-data hasil survey lapangan. Sedangkan untuk menentukan sebuah sekolah masuk dalam kategori Rehabilitasi Ringan, Berat, Total indikator yang akan dipergunakan adalah :
- Kondisi eksisting sekolah (tingkat kerusakan)
Tingkat kerusakan bangunan di bagi atas kriteria :
- Rusak Ringan adalah kerusakan dengan perbaikan gedung sekolah pada bagian bagian tertentu dalam rangka perawatan untuk memperpanjang usia pemakaian, menjaga keandalan gedung beserta prasarana dan sarananya agar selalu laik fungsi. Dengan tingkat kerusakan kurang dari 30 %.
- Rusak Sedang adalah kerusakan dengan perbaikan gedung sekolah pada bagian bagian tertentu dalam rangka menjaga keandalan gedung beserta prasarana dan sarananya agar selalu laik fungsi. Dengan tingkat kerusakan berkisar 30 ~ 50 %.
- Rusak Berat adalah kerusakan dengan perbaikan gedung sekolah secara menyeluruh dalam rangka memperpanjang usia pemakaian. Dalam kegiatan ini memperbaiki dan atau mengganti bagian bangunan gedung, komponen, bahan bangunan serta sarana prasarana agar bangunan gedung tetap laik fungsi. Dengan tingkat kerusakan berkisar > 50 ~ 65 %.
- Rusak Total adalah kerusakan yang terjadi yang perbaikannya dengan membongkar gedung sekolah yang lama dan membangun kembali gedung baru standart didalam lahan tanah yang ada. Dengan tingkat kerusakan jika melampaui 65 %.
Kriteria gedung sekolah yang harus direhab total adalah :
- Selalu tergenang banjir baik air pasang maupun waktu hujan.
- Tingkat kerusakan gedung tersebut sangat parah, rawan ambruk.
- Gedung sekolah tersebut merupakan bangunan tua dan belum standart.
- Untuk standarisasi gedung dan bangunan bertingkat untuk pemerataan.
- Daya tampung murid sudah jauh dibawah kapasitas yang diijinkan.
- Rasio jumlah ruangan dengan kebutuhan, rasio jumlah murid dengan guru, rasio lainnya yang berhubungan standart minimal sebuah sekolah. Pengambilan standart dan rasio ini harus merujuk pada peraturan yang berlaku di Indonesia atau aturan lainnya yang dipergunakan oleh Dinas Pendidikan Nasional dan DKI Jakarta. Selain itu dapat dipergunakan, juga teori yang berhubungan dalam pengkategorian sebuah hasil pendataan / survey yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.
- Assesment Prioritas
Assessment Prioritas merupakan Analisa data final dan Proses penentuan Prioritas yang mana disini adalah melakukan tingkat prioritas sebuah sekolah untuk dilakukan perbaikan / rehabilitasi atau pembangunannya, kategorisasi ini dibagi atas 4 (empat) tingkat kategori yaitu :
- Prioritas -1 : mendesak dan segera (urgent), usulan penanganan tahun 2006.
- Prioritas -2 : perlu dikerjakan dalam kurun waktu 2 tahun mendatang (esensial), usulan penanganan tahun 2007.
- Prioritas -3 : perlu dikerjakan dalam kurun waktu 3 – 5 tahun mendatang (derasibel), usulan penanganan tahun 2008, 2009, 2010, berdasarkan urutan bobot terbesar yang didahulukan.
- Prioritas -4 : pekerjaan jangka panjang diatas 5 tahun mendatang. Bangunan gedung yang masuk prioritas 4 ini adalah diluar rencana 500 gedung yang akan diprogramkan pada tahun anggaran 2006 ~ 2010.
Adapun dalam menentukan sebuah sekolah masuk dalam sebuah prioritas 1, 2, 3, atau 4 akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor seperti :
- Faktor ambang kerusakan yang telah ditentukan (sekolah masuk kategori A : Rusak Ringan, B : Rusak Sedang, C : Rusak Berat atau kategori D : Rusak Total).
- Faktor non teknis (bidang pendidikan, kebijakan). Dalam bidang pendidikan ini penilaian yang akan dilakukan melihat kondisi sekolah dalam : rasio jumlah murid dengan guru, rasio jumlah kelas dengan jumlah murid, rasio kelengkapan alat pendukung sekolah, dan kelengkapan lainnya dala menunjang kegiatan pendidikan.
- Faktor non teknis (bidang ekonomi). Dalam bidang ekonomi penilaian yang akan dilakukan adalah nilai ekonomi bangunan dalam kondisi sekarang dan perkiraan untuk beberapa tahun ke depan.
- Faktor keterkaitan lokasi sekolah dengan Rencana Tata Ruang yang ada. Dalam bidang hukum penilaian lebih difokuskan pada legal aspek dan status hukum bangunan dan lahan sekolah. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah peruntukan lahan sekolah apakah sudah sesuai dengan rencana tata ruang yang ada di DKI Jakarta.
- Dan faktor lain diluar faktor fisik bangunan yang mempengaruhi.
Catatan :
Formulasi nilai untuk tiap faktor penentu sebuah sekolah juga harus mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa.
Konsultan akan memberikan usulan dengan berbagai dukungan landasan teori yang sifatnya ilmiah.
PENGEMBANGAN, IMPLEMENTASI DAN PEMBUATAN PERANGKAT ASESMEN BERBASIS KELAS UNTUK PEMBELAJARAN MATA KULIAH SISTEM PEMINDAH TENAGA
by Wakhinuddin
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengembangkan, mengimplementasikan dan membuat perangkat asesmen berbasis kelas yang valid, praktis, dan efektif untuk menilai pemahaman konsep, kemampuan pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, serta koneksi mahasiswa dalam pembelajaran Sistem Pemindah Tenaga (SPT) di Jurusan Teknik Otomotif FT UNP Padang. Perangkat asesmen dirancang guna menunjang pelaksanaan asesmen di jurusan, sesuai tuntutan kurikulum. Berdasarkan hasil ini dirancang prototipe perangkat asesmen berbasis kelas. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan penelitian pengembangan dan eksperimen. Metode eksperimen digunakan rancangan treatment by design. Dalam eksperimen ini dipilih sampel kelas dan mahasiswa secara random. Di kelas eksperimen digunakan perangkat asesmen berbasis kelas, sedangkan di kelas kontrol dilakukan tes tertulis. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara dengan dosen dan mahasiswa dan tes. Hasil penelitan ditemukan bahwa : kelompok hasil belajar mahasiswa dinilai dengan perangkat asesmen berbasis kelas lebih tinggi daripada kelompok mahasiswa dinilai dengan paper and pencil test. Perangkat asesmen berbasis kelas efektif meningkatkan pemahaman konsep, kemampuan komunikasi, penalaran dan pemecahan masalah mahasiswa.
Kata kunci: Asesmen Berbasis Kelas, Perangkat Penilaian, Validitas, Praktikalitas, dan efektivitas.
Teori Respons Butir
Wakhinuddin
Variabel terpendam (latent) adalah konsep yang mempunyai nilai, namun tidak dapat diukur langsung. Variabel terpendam memiliki konstruk, dan mempunyai parameter-parameter (indikator) yang membangun variabel tersebut. Pengukuran terhadap variabel terpendam dapat dilakukan melalui parameter-parameter ini. Dalam pendidikan, kemampuan (ability) merupakan variabel terpendam. Kemampuan siswa merupakan hasil dari proses-proses pembelajaran di kelas. Dalam pendidikan kejuruan hasil pembelajaran lebih cenderung disebut kompetensi. Lebih jauh dapat dikatakan, hasil pembelajaran pada program keahlian mekanik otomotif SMK adalah kompetensi siswa pada bidang otomotif. Pengukuran kompetensi mekanik otomotif dapat dilakukan melalui tugas-tugas yang membentuk kompetensi.
Para ahli telah banyak menemukan metode dan teknik analisis yang dapat mengungkapkan parameter-parameter dari suatuvariabel terpendam, seperti: analisis komponen utama , model persamaan struktural , Perkembangan teknik analisis multivariat menjanjikan dapat lebih mengungkapkan sekor-sekor parameter dari suatu variabel terpendam.
Teori respons butir tergolong teknik analisis yang dapat mengungkapkan variabel terpendam. Teori respons butir (TRB) banyak dipakai dalam evaluasi pembelajaran terutama membahas kaitan butir dengan respons siswa, dan teori respons butir dapat mengukur kombinasi kemampuan siswa dengan kesukaran aktivitas (butir) melalui parameter siswa dan parameter aktivitas.
Ada dua dalil teori respons butir, yaitu: (a) Performansi siswa pada satu aktivitas dapat diprediksi melalui satu kumpulan faktor kemampuan; (b) hubungan antara performansi siswa dan kesukaran aktivitas dapat disampaikan melalui suatu kurva karakteristik aktivitas. Ke-dua dalil ini merupakan suatu alasan untuk membuktikan kebenaran teori respons butir. Kurva karakteristik aktivitas (butir) biasanya diiringi kurva probabilitas, kurva kategorikal, kurva fungsi informasi aktivitas dan kurva fungsi informasi tugas.
Parameter siswa adalah sekor nilai siswa, cerminan kemampuan siswa, makin tinggi kemampuan siswa, seharusnya makin tinggi sekor nilai siswa. Parameter kemampuan siswa (siswa dalam konteks lain disebut responden) dinotasikan (Θ). Parameter aktivitas ada dalam bentuk tingkat kesukaran aktivitas, ada aktivitas yang sukar dan ada aktivitas yang mudah, dan makin tinggi taraf sukar aktivitas diperlukan kemampuan siswa makin tinggi untuk mengerjakan (menjawab) betul. Taraf sukar aktivitas dinotasikan (bi). Kaitan kemampuan siswa dengan taraf sukar butir dapat dirumuskan sebagai berikut, Pi (Θ) = f (Θ – bi), persamaan ini disebut model 1 Parameter
KONSEP PROFIT DAN BENEFIT SUATU PROGRAM
Wakhinuddin S
Penggunaan konsep antara profit dan benefit dalam evaluasi dampak Satuan kerja Program, misalnya peningkatan nilai positif terhadap pengasuhan anak, makin ringannya tugas ibu yang bekerja karena menitipkan anaknya di TPA, peningkatan kualitas kesehatan Ibu dan Anak, dsb. Contoh penggunaan yang dimaksud di atas merupakan keuntungan yang bukan bersifat finansial langsung dan sukar untuk dikuantifikasikan (benefit). Sedangkan pengertian profit merupakan keuntungan finansial yang dapat dihitung secara kuantitatif.
Mengenai dampak langsung pelayanan Program, terutama yang memperoleh manfaat (benefit), maka evalusi dampak secara khusus memperhatikan, sbb:
• Dampak kegiatan Program terhadap kesiapan sekolah
• Dampak peningkatan jangkauan layanan
• Peran guru Program dan kader BKB/Posyandu
• Dampak diseminasi pusat Program di masyarakat
• Pemanfaatan pusat Program secara efektif
• Dampak tingkat kehadiran orang tua dan anak dalam kegiatan BKB/Posyandu
• Keberlangsungan efektif pusat Program
• Partisipasi masyarakat
• Peran pemerintah daerah
VALIDITAS ISI
Wakhinuddin
Validitas isi (content validity) digunakan untuk situasi dimana pemakai tes akan menarik kesimpulan domain butir tes berdasarkan skor tes individu ke domain butir yang lebih besar yang serupa dengan butir-butir yang terdapat dalam tesnya sendiri ( Crocker dan Algina, 1986 : 217 ; Nur, 1987 : 108 ).
Dari keterangan diatas dapat dinyatakan bahwa validitas isi digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana ketepatan isi tes yang disampel dari seluruh domain perilaku yang diwakilinya ( Gronlund, 1982 : 126 ). Dalam hal ini tentu saja digunakan analisis rasional dan ditentukan sendiri oleh individu. Jadi merupakan justifikasi yang bersifat subjektif ( Allen dan Yen, 1979 : 95 – 96 ). Meskipun begitu, validitas isi adalah hal pertama yang harus ditegakkan dalam mengembangkan tes.
Validitas isi merupakan hal yang penting dipertimbangkan guru yang menyusun tes jika isi tes meliputi materi pelajaran dan tujuan instruksional pengajaran yang akan dicapai. Jika tujuan pengajaran dan tujuan kurikuler (TIU dan TIK) sudah terwakili dalam tes maka dapat dinyatakan bahwa tes tersebut sudah memiliki validitas isi ( Karmel dan Karmel, 1978:107 ).
Yang harus dipertimbangkan agar sebuah tes memiliki validitas isi antara lain : tujuan, susunan pemilihan butir, aspek yang di uji oleh butir dan kesimpulan dari hasil tes ( tujuan yang tercapai ) ( Crocker dan Algina, 1986 : 219 -221 ). Untuk ini adalah penting justifikasi para ahli dalam bidangnya untuk menentukan validitas isi tes.
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, PENGUKURAN (MEASUREMENT), TEKNIK OTOMOTIF
PENGUKURAN KOMPETENSI MEKANIK OTOMOTIF
Oleh: Wakhinuddin S
Pengukuran kompetensi mekanik otomotif dapat diungkapkan melalui kata kerja berikut: menyetel (adjust), meluruskan (align), menganalisa (analyze), merakit (assemble/reassemble), menyeimbang (balance), membuang udara (bleed), mengisi (charge), memeriksa (check), membersihkan (clean), memusatkan (concentricity), mengikis (deglaze), menetapkan (determine), mendiagnosa (diagnose), membongkar (disassemble), mengosongkan (discharge), mengevakuasi (evacuate), membersihkan (flush), menghoning (hone), menstar (jump start), melokalisir (locate), mengukur (measure), menampilkan (perform), membuang cairan (purge), melepas (remove), mereperasi (repair), mengganti (replace), memeriksa permukaan (resurface), menservis (service), memakai kunci momen (torque), membuktikan (verify), dan volt jatuh (voltage drop).
Kata-kata kerja ini dapat dipakai mengembangkan aktivitas-aktivitas seorang mekanik, dan digunakan mengukur kompetensi mekanik otomotif. Gunakan penilaian jens lembaran observasi dengan skala 1 – 5 atau lebih, asal ada kata bertingkat kualitas yang terukur, karena setiap angka mempunyai kualitas.
PENGUJIAN VALIDITAS BUTIR
Wakhinuddin S
Untuk menguji validitas butir instrumen (X1) menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson yang rumusnya adalah sebagai berikut:
N sigma XY – (signaX) (sigmaY)
rxy = ———————————————-
VsigmaN sigmaX2-(sigmaX)2) (NsigmaY2- (sigmaY)2)
Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi skor butir (X) dengan skor total (Y)
N = Jumlah sampel (responden)
Untuk pengujian validitas butir tes hasil belajar (Y) digunakan rumus Biserial Point, yaitu:
Xi – Xt pi
rpb(i) = ———– V ———-
st qi
Keterangan:
rpb(i) = koefisien korelasi biserial point antara skor butir dengan skor total
Xi = rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir ke-i
Xt = rata-rata skor total semua responden
St = standar deviasi skor total
pI = proporsi jawaban yang benar butir i
qI = proporsi jawaban salah butir i
RELIABILITAS DENGAN SPSS
Wakhinuddin S
Keterandalan instrumen diperiksa dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach, karena pakai skala interval. Kriteria yang digunakan untuk memeriksa keandalan instrumen adalah sebagai berikut:
a. Bila koefisien keandalan (rtt) lebih besar dari r tabel (taraf signifikansi 0,05), maka instrumen penelitiannya dinayakan andal.
b. Bila koefisien keandalan (rtt) lebih kecil dari r tabel (taraf signifikansi 0,05), maka instrumen penelitian dinyatakan tidak andal.
Hasil analisis keterandalan instrumen dapat dilihat sebagai berikut:
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 25 100.0
Excluded (a) 0 .0
Total 25 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Koefisien reliabilitasnya adalah:
Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha : N of Items
.965 43
Dari data di atas dapat diketahui bahwa koefisien reliabilitasnya sebesar 0,965 yang ditafsirkan bahwa pada tabel di atas dapat dilihat bahwa koefisien keterandalan ketiga variabel lebih besar dari r tabel. Ini menunjukkan bahwa untuk mengumpulkan data untuk mahasiswa ST yang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata sistem PAR tahun ajaran 2007/2008 adalah reliabel.
