Wakhinuddin’s Weblog


ASPEK EVALUASI
Maret 22, 2014, 2:30 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA

ASPEK EVALUASI
Wakhinuddin S

Ada beberapa aspek evaluasi yang didasarkan pada 3W1H

Siapa (Who) ?
(Target- audiens)
Siapakah yang dievaluasi?

Apa (What) ?
(Area- apa yang dievaluasi)
Proses ( Efisiensi)
Hasil ( Efektivitas)
Kombinasi kedua-duanya ( Keterkaitan)
Capaian Tujuan
Kapan (When) ?
(Waktu- jangan dilaksanakan jika belum siap)
Pertanyaan dibatasi
Ada dampaknya
Membandingkan dua atau lebih program biaya pelaksanaan

Bagaimana?
(Teknik – apa yang paling sesuai)
Daftar pertanyaan
Wawancara
Pengamatan
Jurnal
Profil Siswa
Pre-test dan post tes
Inventori.



STANDAR EVALUASI PROGRAM
September 14, 2013, 3:48 pm
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA

STANDAR EVALUASI PROGRAM
Dr. Wakhinuddin

Tiga (3) unsur Feasibility:
1. Prosedur praktis
2. Mungkin dan dapat dilaksanakan (secara political viability)
3. Mempunyai nilai sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan

Delapan (8) unsur Propriety:
1. Perjanjian formal
2. Memperhatikan kemungkinan ada konflik kepentingan.
3. Terbuka, tidak bohong dalam memaparkan hasil evaluasi (full and frank disclose)
4. Hak masyarakt untuk tahu (public’s right to know)
5. Hak subyek dilindungi
6. Interaksi manusiawi
7. Pelaporan seimbang (melaporkan keunggulan dan kelemahan)
8. Pertanggung jawaban keuangan

Delapan (8) unsur Utility:
1. Identifikasi audien
2. Kredibilitas evaluator
3. Ruang lingkup informasi dan pemilihannya
4. Interpretasi hasil (prosedur dan rasional)
5. Kejelasan laporan
6. Disseminasi laporan
7. Ketepatan waktu laporan

Sebelas (11) unsur Accuracy:
1. Identifikasi objek
2. Analisis konteks
3. Deskripsi/monitoring tujuan/prosedur
4. Deskripsi sumber informasi
5. Pengukuran yang valid
6. Pengukuran yang reliabel
7. Kontrol data yang sistematis
8. Analisis informasi kualitatif
9. Analisis informasi kuantitatif
10. Keputusan pertimbangan
11. Pelaporan yang objektif .



MONEV SM3 T KABAS (MID TERM REPORT SM3T KABUPATEN ACEH SELATAN / BAB 2)
Juni 12, 2013, 8:29 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV

BAB II.
KONDISI OBJEKTIF DAERAH SASARAN

A. Kondisi Geografis

1. Aceh selatan
Aceh Selatan, sebuah kabupaten pantai di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan panorama alam mempesona. Perbukitan yang sambung-menyambung dalam gugusan bukit barisan, teluk dan lautnya yang biru. Kaya akan sumber daya, dengan keragaman kesenian tradisional dan memiliki legenda yang menarik.

Gambar 1. Lambang Kabupaten Aceh Selatan Gambar 2. Peta lokasi Kabupaten Aceh Selatan

Aceh Selatan sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Aceh. Letaknya berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara di sebelah utara dan Kabupaten Aceh Barat Daya di sebelah barat. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia dan di sebelah timur berbatasan dengan Kota subulussalam dan Kabupaten Singkil. Letak astronomisnya antara 20 dan 40 Lintang Utara dan antara 960 dan 980 Bujur Timur. Luas wilayah Aceh Selatan sebesar 6,91 persen dari total luas daratan Provinsi Aceh.

Kabupaten Aceh Selatan terdiri dari 16 Kecamatan dan 248 desa. Kecamatan yang berbatasan dengan Kota Subulussalam di sisi selatan yaitu Kecamatan Trumon Timur dan Kecamatan Labuhan Haji barat yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Barat Daya di sisi utara.

Suhu udara di Aceh Selatan berkisar antara 28-340C pada tahun 2009. Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara yang relatif tinggi Sementara tingkat curah hujan di Aceh Selatan berkisar antara 200-370 mm/tahun. Kecepatan angin di Aceh Selatan berkisar antara 90-140 knot

2) Batas Administrasi

Garis Bujur : 95 00′ – 95 08′ BT
Garis Lintang : 05 02′ – 05 08′ LS

Gambar 3. Peta Kabupaten Aceh Selatan

Perbatasan Utara : Selat Malaka / Kota Banda Aceh
Perbatasan Selatan : Kabupaten Aceh Jaya
Perbatasan Timur : Kabupaten Pidie
Perbatasan Barat : Samudra Hindia

1) Pemerintahan
Nama Bupati : Tgk. Husin Yusuf, A.Ma
Nama Ibukota : Tapaktuan
Luas Wilayah : 4.1350 Km
Jumlah Penduduk : 296.305 jiwa
Jumlah Desa : 364 Desa
Jumlah Kelurahan : 11 Kelurahan
Jumlah Kecamatan : 16 Kecamatan

2) Kecamatan
1) Labuhan Haji Barat
2) Labuhan Haji
3) Labuhan Haji Timur
4) Meukek
5) Sawang
6) Sama Dua
7) Tapak Tuan
8) Pasie Raja
9) Kluet Utara
10) Kluet Tengah
11) Kluet Timur
12) Kluet Selatan
13) Trumon
14) Trumon Timur
15) Trumon Tengah
16) Bakongan
17) Bakongan Timur

2. SMP N 3 TRUMON TIMUR
SMP N 3 TRUMON TIMUR terletak di Gampong atau desa Kapa seusak Kecamatan Trumon Timur, Aceh Selatan. Sekolah ini merupakan sekolah baru dibangun tahun 2002 sesuai dengan SK Depdiknas Kanwail Propinsi Daerah istimewa Aceh tertangga 5 september Tahun 2002 akan tetapi seiring dengan perkembangan daerah yang mana kecamatan trumon timur
Dilihat dari lokasi/letak Geografis SMPN 3 TRUMON TIMUR termasuk sekolah yang strategis karena berada ditengah desa desa yang ada di kecamatan trumon timur dan terletak ± 150 m dari jalan raya Tapaktuan-Medan, Sehingga peserta didik yang ada di kecamatan ini dapat menjangkau sekolah dengan berjalan kaki dan juga menggunakan kendaraan roda dua maupun Bus sekolah yang telah disediakan Pemda setempat.
Disamping itu, karena Posisi gedung sekolah yang berada agak jauh dari pemukiman rumah penduduk juga sangat membantu menciptakan suasana yang nyaman dalam melakukan proses belajar mengajar karena suara bising dari aktifitas keseharian penduduk tidak dapat didengar di lingkungan sekolah.

Adapun Batas-batas geografis sekolah tersebut adalah sebagai berikut:
Sebelah Timur : Berbatas dengan jalan Gampong menuju ke perkebunan sawit penduduk.
Sebelah Barat : Berbatas denga Perkebunan Sawit penduduk
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Perkebunan sawit penduduk
Selatan : Berbatas dengan Perkebunan kakao Penduduk

Rute perjalanan menuju lokasi sekolah ini tidak sulit karena terlatak dipusat kota kecamatan. Keadaan jalanan disekitar sekolah sudah beraspal. Transportasi yang digunakan siswa yang rumahnya jauh dari sekolah biasanya pada pagi hari menaiki Bus Sekolah milik PEMDA dan sebagian lagi memakai kendaraan bermotor pribadi dan juga bersepeda Angin. Hal ini disebabkan karna didaerah ini tidak ada kendaraan angkutan umum seperti angkot ataupun ojek.

B. Kondisi Demografis
1. Aceh Selatan

Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu wilayah yang didiami oleh masyarakat Asli Aceh dan Juga para perantau yang sudah menjadi warga dan penduduk aceh sendri, sebutan untuk para perantau tersebut dikenal dengan Aneuk jame dengan Bahasa pengantar Aneuk Jame seperti bahasa Minangkabau, hal itu diakui oleh para Aneuk Jame bahwasanya Mereka merupakan para perantau yang telah bermukim di daerah ini sejak abad ke-15. Walau sudah tidak lagi menggunakan sistem adat matrilineal, namun mereka masih menggunakan Bahasa Minangkabau dialek Aceh (Bahasa Aneuk Jamee) dalam percakapan sehari-hari.
Komposisi penduduk Aceh Selatan didominasi oleh penduduk usia sekolah (7-19 tahun). Dari piramida penduduk tersebut dapat dilihat bahwa penduduk usia 0-4 tahun lebih kecil dari penduduk usia 5-9 tahun yang berarti tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih rendah dibanding sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2009 pemerintah berhasil menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk.

Jumlah penduduk Aceh Selatan mencapai 188.909 jiwa pada tahun 2005. Angka ini terus meningkat sampai pada pertengahan tahun 2009 yang mencapai 211.564 jiwa. Tingkat pertumbuhan penduduk yang paling pesat terjadi tahun 2005 ke 2006 yang mencapai 7,91 persen. Pada kurun waktu 2004-2005 tingkat pertumbuhan penduduk bernilai negatif, ini artinya bahwa pada kurun waktu tersebut jumlah penduduknya mengalami penurunan.

Dengan luas wilayah sekitar 4005,10 km2, setiap km2 ditempati penduduk sebanyak 53 orang pada tahun 2009. Dari tahun ke tahun kepadatan penduduk di Aceh Selatan mengalami peningkatan yaitu dari 47 jiwa per km2 pada 2005 menjadi 53 jiwa per km2 pada 2009. Secara umum jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Hal ini dapat ditunjukkan oleh sex ratio yang nilainya lebih kecil dari 100 pada tahun 2009, artinya untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 96 penduduk laki-laki.

C. Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya
1) Kondisi Sosial dan Budaya
Persebaran dan asal penduduk asli Aceh Selatan dari mana asalnya tidak pernah diketahui secara pasti. menurut legenda di masyarakat di Aceh Selatan ada makhluk yang di sebut dengan Manteu. Ciri-ciri makhluk ini mirip dengan manusia tanpa busana dengan tubuh ditutupi bulu tebal. Makhluk ini memiliki bentuk tubuh kecil. Besar kemungkinan makhluk ini adalah penghuni tua wilayah Aceh Selatan dan merupakan suku terasing yang menghuni rimba Aceh Selatan sampai ke pelosok Aceh Tenggara. Sumber lain menyatakan bahwa suku Manteu ini memeluk agama Islam dan menetap di hutan belantara hampir ke perbatasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.
Tentang Manteu juga di singgung oleh seorang penulis Belanda bernama Van Langen dalam bukunya Atjehsch Staatsbestuur dan dikomentari oleh Prof. Dr.C. Snock Hurgronje (1857-1936) dalam bukunya De Atjehers. Menurut Snock bahwa kata Manteu atau mantra beliau menyamakan dengan suku Dayak yang hidup di daerah pedalaman Kalimantan, letak penduduk suku Dayak sangat jauh ke pelosok dan sangat sulit di jangkau dalam perjalanan sehari oleh orang luar.
Menurut cerita dari orang tua pernah suatu waktu sepasang suami isteri dari suku Manteu ini ditangkap oleh masyarakat dan dibawa ke hadapan Sultan Aceh. Dengan berbagai cara, makhluk ini diajak bicara tetapi mereka tidak bersedia memberikan informasi tentang keberadaan mereka. Selain penduduk asli yang disebutkan di atas wilayah Aceh Selatan juga di datangi oleh orang-orang migran dari luar. Menurut literatur yang ada para migran dari luar tersebut tiba di Aceh Selatan sudah memeluk satu agama yaitu Islam. Mereka datang dari berbagai daerah yang ada di Aceh sendiri dan dari daerah lain di Nusantara, yakni orang Aceh, Melayu, Gayo, Alas, Minangkabau, Batak, dan Nias.
Umumnya masyarakat Aceh Selatan lebih dikenal dengan istilah etnik Aneuk Jamee dalam bahasa Indonesia bermakna etnik tetamu pendatang karena masyarakat Aceh Selatan bukan penduduk asli.
Pada masa sebelum kemerdekaaan Indonesia, golongan Datuk dan kerabatnya adalah golongan tertinggi dalam lapisan masyarakat kemudian golongan Uleebbalang dan kaum Ulama berada pada lapisan kedua sedangkan lapiasan paling bawah adalah rakyat biasa. Pada masa setlah kemerdekaan Indonesia pola pelapisan status sosial berubah, golongan sosial masyarakat berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan, kekuasaan tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan.
Pola pelapisan sosial ini berubah seiring dengan perkembangan zaman seiring dengan masyarakat telah memperoleh pendidikan dan sistem yang berlaku dalam masyarakat bukan pelapisan sosial tertutup sehingga masyarakat dapat dengan mudah untuk mengubah status sosial mereka. Golongan yang berada diatas adalah mereka yang patut untuk dijadikan sebagai pemimpin dan pemikiran berdasarkan keturunan tetapi tidak mampu memegang amanat yang diembannya ditakutkan oleh masyarakat akan membawa kehancuran bagi Bentuk kesatuan hidup masyarakat terkecil bagi penduduk aneuk jamee disebut kampung. Tiap kampung ditandai dengan sebuah surau atau meunasah, jika disitu tidak terdapat mesjid. Surau menjadi sarana beribadah disamping sebagai pusat kegiatan kampung seperti tempat bermusyawarah dan penyelesaian masalah yang dihadapi oleh kampung tersebut.
Setelah Indonesia merdeka setiap kampung dikepalai oleh seorang kepala desa dalam bahasa aceh dikenal dengan nama “kechik”. Selain itu seorang “kechik” juga berfungsi sebagai pemimpin adat, juga terdapat pemimpin lain dalam masyarakat yang bertugas mendampingi “kechik” dalam kegiatan sehari-hari. Pemimpin tersebut antara lain “Teungku Meunasah” dan ”Ketua Pemuda”. Teungku Meunasah selain bertugas sebagai imam mesjid, kadangkala juga bertindak sebagai qadhi yang mendampingi kantor urusan agama kecamatan (kuakec). Ketuda pemuda adalah seorang yang memimpin para pemuda kampung dan menggerakkan para pemuda untuk bergotong-royong ketika ada acara kepemudaan, pesta perkawinan dan kematian.

2) Kondisi Ekonomi
a) Pertanian
Produksi padi di Kabupaten Aceh Selatan selama periode 2007-2009, terus mengalami penurunan. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2008 yang semula mencapai 94.252,26 ton menjadi 69.783,91. Kemudian mengalami penurunan kembali di tahun berikutnya menjadi 67.426,61 ton pada tahun 2009. Hal ini terjadi karena berkurangnya luas panen padi dalam tiga tahun tersebut. Penurunan produksi padi tersebut tidak mempengaruhi produktivitas padi di Aceh Selatan sebab selama tiga tahun tersebut nilai produktivitas padi relatif tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Produktivitas tanaman palawija yang perkembangannya sangat pesat selama kurun waktu 2007-2009 di Kabupaten Aceh Selatan adalah ubi kayu. Peningkatan yang sangat pesat terjadi pada tahun 2008 menuju tahun 2009 yaitu mengalami kenaikan sebesar 7,46. Sementara untuk tanaman palawija yang lainnya yang ada di Aceh Selatan juga rata-rata mengalami peningkatan nilai produktivitas selama periode 2007-2009, namun peningkatannya tidak terlalu signifikan.
b) Perikanan
a. Darat : Tambak 18,82 ha,Kolam 24,83 ha,Sawah 0,70 ha.
b. Laut/Danau/Sungai : 30.000 ton (potensi ikan Laut Aceh Selatan) Potensi laut tomborial (12 mil), Potensi ZEE s/d 200.000 ton, Jumlah Nelayan 16.173, Jumlah Armada penangkapan 3.031 unit (besar dan kecil).
c) Potensi Alam
Perkebunan : Pala 8.507 ha, Kelapa sawit 20.363,8 ha, Karet 7.529,5 ha, Nilam1.910 ha, Kopi 2.381 ha, Kelapa 2.432 ha
Pertanian & Holtikultura : Tehnis 7.822 ha, Semi Tehnis 6.251 ha, Non Tehnis 19.084
Kehutanan : Hutan Produksi,119.500 ha, Hutan Lindung 101.650 ha

d) Pariwisata
1. Air Terjun Tujuh Tingkat dengan keajaiban alamnya
2. Pantai Air Dingin
3. Pantai Batu Berlayar

e) Wisata Spiritual
1. Kuburan Tpk.Tuan
2. Gunung Lampu
3. Perkuburan Raja Trumon
4. Kuburan Tgk. Syech

D. Kondisi Pendidikan
1. Gambaran Umum Pendidikan Di Aceh Selatan
Secara umum kondisi pendidikan terutama pendidikan dasar dan menengah di Aceh selatan sudah mendapat perhatian dari pemda setempat hal ini dapat dilihat dari bangunan pisik dan juga bantuan beasiswa untuk siswa miskin dan anak yatim yang terus diberikan demi kelanjutan pendidikan siswa yang kurang mampu atau yatim tersebut. Akan tetapi yang menjadi permasalahan barangkali dari sisi tenaga guru yang menurut pengamatan kami masih sangat kurang sekali kalaupun ada tenaga honorer maka itupun belum dapat mengatasi kekurangan tersebut, disamping kualifikasinya yang belum memadai dan distribusi yang tidak seimbang (unbalanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competencies), serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang diampu (mismatched) membuat hasil pendidikan belum sepenuhnya menjalankan standar Proses.
Hal tersebut diatas tambah diperburuk lagi dengan kurangnya motivasi dari orang tua/wali siswa untuk menyokong pelaksanaan pendidikan tersebut tentunya dengan berbagai macam alasan yang yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Hal ini penulis amati dari adanya fenomena 1) rendahnya kemampuan siswa dalam menyerap materi yang telah disampaikan sebelumnya sehingga setiap diadakan ulangan harian lebih dari 50% siswa belum bisa mencapai kriteria Ketuntasan Minimal KD yang di ujikan , 2) masih ada siswa yang kehadiranya dalam mengikuti PBM kurang dari 80% dari jam tatap muka yang direncanakan.
Disamping itu tradisi atau kebiasaan masyarakat yang penuh dengan jiwa persatuan dan sosial yang tinggi dalam komunitasnya terkandang dapat mempengaruhi kegiatan PBM disekolah, misalnya kegiatan perayaan Keagamaan yang melibatkan siswa pada saat jam efektif PBM harus diikuti siswa tersebut dan berakibat meninggalkan bangku pelajaran.

2. Profil Lengkap Sekolah
1. Nama Sekolah
2. Alamat Sekolah

3. Nama Kepala Sekolah
4. Tahun didirikan/Th.Beroperasi
5. Kepemilikan Tanah/Bangunan
: SMP N 3 Trumon Timur
: Jalan Tapaktuan- Medan
: desa kappa seusak
: (Kabupaten) Aceh Selatan
: (Propinsi) Aceh
: Hamdi Razak, S.Pd
: 2001
: Milik Pemerintah/ yang dibeli oleh warga kappa seusak

3. Data Jumlah Guru SMP N 2 TRUMON TIMUR
NO NAMA GURU STATUS T.P JABATAN GURU
1 HAMDI RAZAK, S.Pd PNS SI Kepsek

3 ZULFAHNUR, S.Pd.i PNS SI Guru bidang studi IPA dan w.k Kurikulum
4 ISWADI, S.Pd PNS SI Bidang Studi Matematika dan B.Aceh, Pembina Osis dan Wali kelas
5 ASMARA HASYIMI Honorer Diploma Guru bidang studi bahasa inggris dan Wali Kelas
6 ZAJULI, S.Pd.i Honorer S1 Guru bidang studi agama islam dan Wali Kelas
7 LEVY ARI PRAMANA,S.Pd SM3T SI Guru bidang studi penjaskes, kesenian, bahasa Indonesia dan wali kelas VIIIb
8 RAHMI NOVERIA.S.Pd SM3T SI Guru bidang studi IPS dan Wali Kelas
9 SAFARUL JAMAL PNS. TU Diploma Tata usaha dan Bendahara Sekolah

Tujuh orang guru bidang dan satu tata usaha. Masing- masing guru bidang studi ada yang merangkap bidang studi lain dan jabatan Wakil kurikulum,Wali kelas. Jumlah dewan guru dan kepala sekolah berjumlah sembilan orang diantaranya : satu kepala sekolah sekolah, tujuh guru kelas dan satu tata usaha.

4. Data keadaan Peserta Didik T.P 2011/2012
Berdasarkan data resmi di buku induk dan mutasi siswa SMP N 3 TRUMON TIMUR jumlah peserta didik yang saat ini terdaftar dan aktif mengikuti PBM adalah sebanyak 121 orang dari kelas VII s.d kelas IX dengan jumlah Rombangan Belajar (Rombel) sebanyak 5 Rombel. Berikut ini merupakan rincian jumlah siswa dan pesebarannya menurut

No Kelas Rombel Jmlh Siswa Total Jumlah
lk Pr
1. VII 2 Rombel dengan rincian:

Rombel 1
Rombel 2

27 orang
25 orang

2 VIII 2 Rombel
Dengan rincian:

Rombel 1
Rombel 2

23 orang
20 orang

3 IX 1 Rombel
Dengan rincian:

Rombel 1

26 orang

Total Jumlah Keseluruhan 121 orang
kelas dan jenis kelaminnya:

5. Data Ruangan Belajar
No Nama Ruang Jumlah Rombel Jumlah Ruang Belajar Ket
1 Ruang Belajar Kelas VII 2 2
2 Ruang Belajar Kelas VIII 2 2
3 Ruang Belajar Kelas IX 1 1
Jumlah Total 5 5

Jumlah ruang belajar yang bisa di katakan layak hanya dua lokal saja yaitu lokal kelas satu yang terdiri dari dua lokal, sementara kelas 2 dan kelas tiga kelasnya kurang layak, karena lantainya cuman baru sekedar semen kasar dan lotengnya sudah mulai lapuk.

6. Data Ruang Lainnya
No Jenis Ruang Jumlah Ukuran Kondisi
1 Perpustakaan -1 - Kurang layak
2 Lab. IPA – - -
3 Lab. Komputer - - -
4 Keterampilan – - -
5 Mushalla - - -
6 Ruang osis - - -
7 UKS - - -
8 Aula - - -
9 Gudang -1 - Kurang layak-
10 Asrama guru -2 – Cukup layak
11 WC Guru -1 - -Tidak layak
12 WC Siswa - - -

7. Alat dan Media Pembelajaran
No Nama Alat/media Jumlah/jenis keadaan Keterangan
1 Komputer 1 komputer Baik
2 LCD Proyektor 1 buah Baik
3 Alat Kesenian 10 buah Baik
4 Alat/media Pembelajaran Penjas Cukup lengkap Baik
5 Alat/Media Pembelajaran IPA Cukup lengkap: Kit IPA, Media gambar dan CD Pembelajaran Cukup baik
6 Alat/Media Pembelajaran IPS Cukup lengkap,globe dan CD Pembelajaran Cukup Baik
7 Alat/Media Pembelajaran MTK Cukup Lengkap Cukup Baik
8. Koleksi Buku Perpustakaan :
No Jenis Buku Keadaan
1 Buku Pelajaran Cukup Lengkap
2 Buku Pengetahuan umum Cukup Lengkap

9. Fasilitas Ruang Laboratorium dan Rung guru :
No Jenis ruang jumlah Keadaan
C CB KB TB
1 Lab. IPA 1 CB
2 Lab. Bahasa
3 Lab. Komputer
4 Lab. Audio Visual
5 Ruang Kelas 5 KB
6 Ruang keteramPilan
7 Ruang Perpustakaan 1 KB
8 Ruang Kepala Sekolah 1 KB
9 Ruang Wakil Kepala
10 Ruang Guru 1 KB
11 Ruang tata Usaha 1 KB
12 Kamar Kecil Siswa -
L3 Kamar Kecil Guru 1 TB
14 Kamar Kecil Kepsek -

C : Cukup
CB : Cukup Baik
KB : Kurang Baik
TB : Tidak Baik

Dapat diambil kesimpulan bahwa keadaan fasilitas ruang sekolah dapat di katakan cukup baik, namun masih bany ak kekurangan fasilitas dan ruangan lainnya belum ada.
10. Cerita Monumental Waktu Mengabdi
Selama mengajar di daerah Sasaran SMPN 3 Trumon Timur, banyak pengalaman dan hal-hal baru yang di dapat diperoleh oleh penulis. Pengalaman itu ada suka maupun duka serta mengharukan yang dialami penulis selama ini. Namun semua itu adalah pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan oleh penulis
Awal penulis datang ke sekolah sasaran rabu 17 oktober 2012 ke SMPN 3 Trumon Timur, kesan pertama yang penulis rasakan adalah tempat dan lokasi sekolah yang tidak terawat, sepi dan minim fasilitas, terutama lapangan di sekolah yang sangat pokok dalam proses kegiatan di sekolah, terutama untuk olahraga, upacara bendera dan kegiatan lainya, namun lapangan tersebut tidak seperti lapangan yang layaknya yang di miliki sekolah-sekolah pada umumnya. Keadaan Lapangan tersebutkan sangat menyedihkan, seperti melihat padang rumput yang luas dan di tumbuhi ilalang dan tempat penduduk mengembalakan kambingnya.Dalam hal ini penulis bersama kepala sekolah, guru-guru dan rekan penulis dari SM3T juga, mengusulkan untuk membenahi keadaan lapangan di sekolah, dan hasilnya lapangan itu sekarang sudah layak untuk di gunakan terutama untuk olahraga dan upacara bendera, walaupun belum sebagus dibanding dengan sekolah yang berada di pusat kecamatan.
Selain itu banyak hal- hal yang terjadi yang penulis alami, pada saat penulis pergi mandi pukul 6 pagi, dimana lokasi tempat mandi agak jauh dari pemukiman, dan harus melewati kebun sawit yang lumayan luas milik penduduk setempat, dan pada saat itu,ada segerombolan babi yang persis lewat di depan penulis, sehingga timbullah pada saat itu reaksi ketakutan dan kaget. Hal itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan dan sekaligus menakutkan bagi penulis.
Dalam proses Belajar Mengajar Siswa SMPN 3 Trumon timur, masing-masing siswa menggunakan bahasa yang berbeda-beda diantaranya : bahasa Aceh, Bahasa Singkil, Bahasa Batak dan Bahasa jame ( bahasa pendatang dari daerah sumbar). Sehingga sering terjadi Miss Comunication dan susah menyatukan mereka dalam satu kelompok diskusi, karena mereka lebih cendrung menggunakan bahasa mereka sendiri. Dalam hal ini penulis berusaha menyatukan mereka dalam bahasa Indonesia.
Siswa- siswi SMPN 3 Trumon timur mereka lebih mempunyai kemampuna dalam bidang seni budaya dan Olahraga. Dalam bidang Olahraga yang telah diasuh secara maksimal yang telah menghasilkan prestasi yang membanggakan dalam seni bela diri yaitu Pencak silat, yang menjadi pemenang dan juara umum Se Aceh Selatan, dalam ajang O2SN tahun lalu. Dalam bidang Seni budaya yang penulis asuh sendiri, Penulis lebih melihat dan mengembangkan Kemampuan siswa dalam seni Tari. Penulis mengajarkan Tari dari Sumbar, dan siswa sangat cepat menguasai gerakan tari tersebut. Semua itu merupakan hal-hal yang mengesankan bagi penulis dan menjadi pengalaman yang menarik dan terlupakan oleh penulis selama bertugas di daerah sasaran SMPN 3 Trumon Timur Aceh Selatan.



FOKUS EVALUASI (Apa yang akan dinilai?)
Juni 8, 2013, 2:54 pm
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV

FOKUS EVELUASI
(Apa yang akan dinilai?)

Oleh
Dr. Wakhinuddin S

Batasan apa yang akan maksud dinilai. Ini tidak mudah tergantung atas bagaimana kejelasan batasan suatu program. Untuk contoh, anda berkeinginan mengevaluasi suatu program manajemen keuangan. Pikirkan tentang tujuan dan konten program. Apakah anda ingin menilai keseluruhan program atau hanya komponen utama program? Ringkasnya uraikan apa yang ingin dinilai – tujuan, hasil yang diharapkan (expected outcomes), ingin manfaat dan aktivitas. Apa yang direncanakan berkaitan antara ekstensi input dan keinginan hasil?
Usaha evaluasi seharusnya sesuai usaha program. Dalam beberapa hal, anda kemungkinan hanya berkeinginan mengungkapkan bagaimana komunitas merespon gaya mengajar, atau bagaimana kepuasan mereka dengan kejadian istimewa. Dalam hal lain, anda ingin mendokumentasikan perubahan tingkah laku atau pengaruh yang meminta lebih komprehensif dan tingkat usaha. Intinya mengikat evaluasi anda sesuai progran. Jangan berharap mengukur pengaruh dari bengkel atau perubahan perilaku dari usaha medium terbatas.
Ingat, tidak semua pekerjaan ekstensi membutuhkan evaluasi formal. Evaluasi formal membutuhkan waktu, keuangan, dan sumber daya. Kadang-kadang program kurang layak materi untuk dijamin suatu evaluasi formal, atau itu mungkin terlalu mahal untuk membuktikan kebutuhan pengaruh demonatrasi. Itu mungkin saja tidak salah ketertarikan dalam penemuan.
Kami juga membutuhkan pertimbangan mitra (clientele). Masyarakat dapat letih mengisi format isian (kuesioner) sampai ahkir sesi atau jawaban survey. Selektivitas, mempertimbangkan atau berpikir tentang apa dibutuhkan dan apa yang dibutuhkan dan apa akan digunakan.



BATAS LULUS
Februari 23, 2013, 2:03 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA

BATAS LULUS

(Setting Standard – Cut Off)

Metode dalam menetapkan standar batas kelulusan, yaitu contrasting-groups standard-setting method. Ada 2 versi dalam metode ini yaitu metode yang pertama method-tire versi person-focused dan versi response-focused. Versi respon-focused adalah versi yang lebih baik, hal ini dapat ditingkatkan dengan mengadopsi beberapa praktek metode angoff yang dimodifikasi.

Sudah hampir selama 30 tahun para pendidik sudah menggunakan tes criterion-referenced/tes prestasi untuk membuat pertimbangan tentang pengetahuan dan keterampilan siswa. Hal ini dimulai secara sungguh-sungguh pada tahun 1970-an dengan kemampuan yang minimum untuk melakukan perubahan. Nilai tes kemampuan yang minimum secara khusus digunakan untuk menunjukkan apakah tingkat kelulusan para siswa sekolah menengah ditingkat pengetahuan dan keterampilannya yang telah dicapai bisa diterima. Proses pengetahuan telah digunakan untuk mengelompokkan para siswa yang pintar dan yang tidak pintar. Perubahan penilaian yang berdasarkan standar dimulai pada tahun 1990-an. Banyak daerah mulai menguji para siswanya dibeberapa kelas dengan pengaturan yang baku di kelas tersebut. Standard-setting memberikan contoh penilaian nasional tentang kemajuan pada (NAEP) yang dimulai dengan penggolongan dan melaporkan nilai dengan kategori awal tahun 1990-an.

Standard-setting meliputi pengembangan standar prestasi dan batasan nilai. Standar prestasi itu adalah suatu uraian pengetahuan dan keterampilan bahwa siswa harus mendemonstrasikan untuk menunjukkan bahwa mereka menemukan sebuah tingkatan prestasi yang spesifik di dalam suatu area. Batas nilai adalah tes nilai yang memisahkan siswa yang mencapai standar prestasi dan yang tidak. Standar prestasi itu adalah konsep dan batas nilai adalah defenisi operasional dari konsep tersebut.

Banyak metode standard-setting yang telah dikembangkan, dan telah dikelompokkan baik sebagai metode test-centered atau metode examinee-centered. Metode test-centered memusatkan pada materi sebagai objek pertimbangan. Metode ini merupakan metode yang paling baik dipelajari yang telah dimodifikasi dengan metode angoff. Dengan metode ini standar prestasi dapat dikembangkan dan kemudian penilaian dapat dilakukan oleh seorang pelatih / sekelompok pelatih yang akan mengoreksi jawaban dari setiap item yang ada dalam tes / penilaian pada setiap tingkat prestasi. Penilaian itu dijumlahkan untuk masing-masing item yang dinilai oleh tim penilai dan penjumlahan adalah rata-rata ketercapaian suatu nilai yang mencapai batas nilai.

Sebaliknya metode examinee-centered berpusat pada penempuhan ujian sebagai objek pertimbangan. Metode examinee-centered ini yang paling umum adalah metode contrasting-groups dan metode borderline-group. Metode ini sudah teruji sebelumnya. Metode contrasting-groups biasanya diuraikan sebagai prosedur dimana penilaian pada standard-setting menggolongkan suatu kelompok penempuh ujian/penempuh ujian yang berkemampuan menurut ketercukupan dari pengetahuan mereka berdasarkan pada pokok materi dengan melalui tes. Batas nilai menetapkan titik yang membagi keduanya. Versi metode contrasting-groups adalah suatu prosedur person-focused. Versi metode contrasting-groups memfokuskan pada respon dalam menjawab ujian. Metode ini memusatkan pada keputusan peserta tes dalam menjawab soal. Perbedaan antara versi person-focused dan versi response- focused tidak terdapat dalam artikel sebelumnya.

Langkah-langkah utama metode itu yang telah dilaksanakan dalam set standar adalah: a. Memilih penilai dan peserta tes (penilai untuk studi person-focused atau untuk pengujiannya; b. Pelatihan untuk pengujian; c. Mengembangkan uraian dengan defenisi standar prestasi (konseptual yang membagi garis antara anak yang pintar dan yang tidak pintar; d. Membuat pertimbangan terhadap peserta ujian untuk hail ujian itu; e. Menggunakan hasil pertimbangan untuk mengkalkulasikan batas nilai. Menurut Clauser dan Sceleina. Langkah-langkah yang lain berupa a. evaluasi terhadap; b. perbandingan prosedur dari dalam metode set standar; c. Mengadakan statistik peragaan Studi Cizeky dan Hemat.

Tentang 2 versi group contrasting, versi person-focused telah umum diuraikan dan diterapkan oleh para ahli, sedangkan versi response- focused di terapkan lebih sedikit walaupun pada saat ini sudah diusahakan untuk menjadi populer bila dibandingkan dengan metode angoff yang sudah dimodifikasi. Beberapa studi membandingkan batas nilai yang dihasilkan oleh metode contrasting-groups dan batas nilai yang produksi untuk metode lain. Kita tidak bisa menetapkan suatu yang baku kecuali kita memutuskan apa yang kita inginkan. Kita harus menyediakan satu baris peningkatan, suatu variabel yang menerangkan apa yang kita cari.

siswa

Standar

Gambar 2.

Variabel ini biasanya lahir karena sebuah tes kemudian dikalibrasi dengan materi tes yang menggambarkan baris dan membantu kita untuk memutuskan nilainya, cukup banyak ukuran tes Takers menunjukkan kepada kita siapa yang nilainya bagus dan tidak bagus. Satu hal yang menjadi tolak ukur adalah siswa itu sendiri dan yang lainnya standar kita. Jika tes dimaksudkan untuk menstratifikasi tes takers, kemudian banyak standar yang perlu untuk diseting. Keputusan yang pertama dalam menetapkan standar adalah menempatkan suatu ukuran. Titik variabel perghitungan adalah penambahan. Ini memerlukan pertimbangan oleh ahli yang kualitatif. Keputusan yang kedua adalah memutuskan tingkat penguasaan. Apakah tingkat sukses terpenuh ”penambahan materi diharapkan”. Tingkat penguasaan 100% sukses menyiratkan kemampuan yang sempurna, tetapi itu tidak mungkin. 50% sukses  menunjukkan pada ukuran. 75% sukses. Yang logis di atas 90%.

Gambar 3.

Daerah kepercayaan penempatan baku, ini menandai titik akhir dimana kita dapat mempunyai 95 % kepercayaan dalam menetapkan satu arah dengan cara yang sama dalam menetapkan standar. Sepanjang daerah siswa dan daerah baku tidak tumpang tindih. Satu keputusan harus jelas ketika mereka tumpang tindih pada suatu asimetri alami ketika kita menjamin kemampuan, maka kita dapat menjamin mutu. Kita yakin dengan pengecualian siswa di atas standar, jika kita tidak yakin maka siswa tidak lewat.

 

 

 

 



PESERTA SM-3T-PPG3T KABUPATEN ACEH SELATAN 2011
Januari 4, 2013, 3:45 pm
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV

 

DAFTAR NAMA PESERTA SM-3T-PPG3T 2011
DAERAH SASARAN  KABUPATEN ACEH SELATAN
No. Nomor Peserta Nama JK Program Studi Daerah Sasaran
1 317 Maradona L Bimb. Konseling Aceh Selatan
2 415 Kurnia Sapartia P Bimb. Konseling Aceh Selatan
3 526 Yusmawati P Bimb. Konseling Aceh Selatan
4 538 Milla Amir P Bimb. Konseling Aceh Selatan
5 540 Surlina P Bimb. Konseling Aceh Selatan
6 592 Palin Nur Rahmadi Eff L Bimb. Konseling Aceh Selatan
7 028 Syinta Dewi Mustika P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
8 041 Rina Surya Asmayetti P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
9 079 Jasmiati Putri P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
10 146 Vivi Afriani Putri P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
11 390 Adib Arifin L Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
12 528 Nur Febriani P Pend. B. Indonesia Aceh Selatan
13 198 Afriyuna P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
14 205 Citra Lia Maharani P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
15 215 Fitri Gusnila P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
16 366 Sri Laila Madina P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
17 379 Khairatul Arifah P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
18 425 Safrun Jamil L Pend. B. Inggris Aceh Selatan
19 451 Yesi Mariana P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
20 469 Guslia Rahma P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
21 485 Mike Okmawati P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
22 525 Ulviza Harika P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
23 576 Martin Fauza L Pend. B. Inggris Aceh Selatan
24 587 Fety Diana Sari P Pend. B. Inggris Aceh Selatan
25 083 Shintya Effendi P Pend. Biologi Aceh Selatan
26 454 Irfan Dani L Pend. Biologi Aceh Selatan
27 391 Robi Jasman L Pend. Biologi Aceh Selatan
28 048 Widyatul Ulya P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
29 087 Ariesmen Rahmat Yunis L Pend. Ekonomi Aceh Selatan
30 144 Yolastri P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
31 185 Destia Rahma Putri P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
32 278 Ani Neswati P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
33 567 Lisa Mulya P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
34 584 Rahmawati P Pend. Ekonomi Aceh Selatan
35 051 Aliyah Edi Putri P Pend. Fisika Aceh Selatan
36 269 Neli Sriwahyuni P Pend. Fisika Aceh Selatan
37 167 Silvia Abusta P Pend. Fisika Aceh Selatan
38 188 Erin Rahmi Pratiwi P Pend. Fisika Aceh Selatan
39 374 Alil Triwahyu Sakti L Pend. Fisika Aceh Selatan
40 579 Weni Surya Ningsih P Pend. Fisika Aceh Selatan
41 595 Friska Agustya P Pend. Fisika Aceh Selatan
42 040 Iramadhona P Pend. Geografi Aceh Selatan
43 056 Elika Marfina P Pend. Geografi Aceh Selatan
44 094 Yosse Ardi L Pend. Geografi Aceh Selatan
45 193 Windi Pratama L Pend. Geografi Aceh Selatan
46 224 Vera Lusiana P Pend. Geografi Aceh Selatan
47 418 Riri Oktaria P Pend. Geografi Aceh Selatan
48 492 Rusdy Saleh L Pend. Geografi Aceh Selatan
49 539 Ika Puspita Sari P Pend. Geografi Aceh Selatan
50 126 Andrias Kasman L Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
51 154 Firmansyah L Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
52 234 Devi Azmi P Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
53 304 Santy Mairezky P Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
54 480 Reni Eka Putri P Pend. Kewarganegaraan Aceh Selatan
55 003 Santi Syafiana P Pend. Kimia Aceh Selatan
56 223 Rivo Juita Sudirman P Pend. Kimia Aceh Selatan
57 275 Liza Asriana P Pend. Kimia Aceh Selatan
58 386 Andrico Pratama L Pend. Kimia Aceh Selatan
59 399 Ria Syafeny P Pend. Kimia Aceh Selatan
60 017 Mutiara Pertiwi P Pend. Matematika Aceh Selatan
61 068 Rizki Illahi L Pend. Matematika Aceh Selatan
62 070 Restu Wardi L Pend. Matematika Aceh Selatan
63 071 Khairur Rahmi P Pend. Matematika Aceh Selatan
64 177 Rahmi Safitri P Pend. Matematika Aceh Selatan
65 274 Bambang Irawan L Pend. Matematika Aceh Selatan
66 285 Yuyu Wahyuni P Pend. Matematika Aceh Selatan
67 312 Fitrah Hanifa P Pend. Matematika Aceh Selatan
68 461 Afri Yeli P Pend. Matematika Aceh Selatan
69 498 Devi Febri Susanti P Pend. Matematika Aceh Selatan
70 524 Ade Suryani Syafitri P Pend. Matematika Aceh Selatan
71 020 Nina Wati P Pend. Sejarah Aceh Selatan
72 027 Elisya Sovia P Pend. Sejarah Aceh Selatan
73 057 Zetpi Ardi L Pend. Sejarah Aceh Selatan
74 300 Srinola Putri P Pend. Sejarah Aceh Selatan
75 301 Rinal Zulharni L Pend. Sejarah Aceh Selatan
76 371 Roma Mulyani P Pend. Sejarah Aceh Selatan
77 382 Mailani Kurniawati P Pend. Sejarah Aceh Selatan
78 474 Yeni Delmi Elmala P Pend. Sejarah Aceh Selatan
79 518 Rani Afrinalita P Pend. Sejarah Aceh Selatan
80 565 Zilmi N. P Pend. Sejarah Aceh Selatan
81 152 Ivone Febridede P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
82 190 Lenvitrinal L Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
83 245 Yessy Marlin P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
84 282 Leny Amanda Wahyuni P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
85 325 Rian Scorpiando L Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
86 483 Ahmad Syarif L Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
87 564 Three Nanda Juwita P Pend. Seni Budaya Aceh Selatan
88 050 Yuni Atdri L Pend. TIK Aceh Selatan
89 228 Najmi Laila Sari P Pend. TIK Aceh Selatan
90 472 Dini Can Musni P Pend. TIK Aceh Selatan
91 272 Weni Aprilina P Pend. TIK Aceh Selatan
92 321 Zulfan Akbar L Pend. TIK Aceh Selatan
93 332 Silvi Yulanda P Pend. TIK Aceh Selatan
94 358 Erik Ariwa L Pend. TIK Aceh Selatan
95 389 Cheneron Wincy L Pend. TIK Aceh Selatan
96 402 Mur Irrahmah P Pend. TIK Aceh Selatan
97 558 Henny P Pend. TIK Aceh Selatan
98 559 Rini Kharmila Sari P Pend. TIK Aceh Selatan
99 001 Yunadil Fitra L Penjas Aceh Selatan
100 006 Haolongan L Penjas Aceh Selatan
101 034 Efren Doni L Penjas Aceh Selatan
102 035 Beni Deprio Suwandi L Penjas Aceh Selatan
103 047 Marno L Penjas Aceh Selatan
104 072 Fandi Lata Putra L Penjas Aceh Selatan
105 074 Elda Hustiano L Penjas Aceh Selatan
106 077 Yadi Putra L Penjas Aceh Selatan
107 078 Safe’i L Penjas Aceh Selatan
108 093 Ferawati P Penjas Aceh Selatan
109 496 Raymon Frangky L Penjas Aceh Selatan
110 102 Irvan Noris L Penjas Aceh Selatan
111 111 Retnawati P Penjas Aceh Selatan
112 123 Rezki Hari Karya L Penjas Aceh Selatan
113 153 Rismen Aroza L Penjas Aceh Selatan
114 199 Halal Hamdi L Penjas Aceh Selatan
115 214 Melzawati P Penjas Aceh Selatan
116 216 Juliana P Penjas Aceh Selatan
117 249 Santi P Penjas Aceh Selatan
118 257 Messa Fitra L Penjas Aceh Selatan
119 276 Kiki Kurniawan L Penjas Aceh Selatan
120 296 Afrialdi L Penjas Aceh Selatan
121 297 Evil Aqwinaldo L Penjas Aceh Selatan
122 334 Yulihandi L Penjas Aceh Selatan
123 337 Afrizen L Penjas Aceh Selatan
124 340 Roni Bay L Penjas Aceh Selatan
125 381 Zulpahmiri L Penjas Aceh Selatan
126 398 Zelfy Endri L Penjas Aceh Selatan
127 408 Eko Fernanda Irsa L Penjas Aceh Selatan
128 437 Nova Yulanda P Penjas Aceh Selatan
129 459 Alwi Surya L Penjas Aceh Selatan
130 467 Masykur L Penjas Aceh Selatan
131 493 Rusilawati P Penjas Aceh Selatan
132 494 Rizki Miswandi L Penjas Aceh Selatan
133 495 Darmis P Penjas Aceh Selatan
134 497 Septi Annisa P Penjas Aceh Selatan
135 506 Tomi Japaris L Penjas Aceh Selatan
136 176 Eko Junia Putra L Penjas Aceh Selatan
137 203 Arja Mulia L Penjas Aceh Selatan
138 127 Didi Rosdianto L Penjas Aceh Selatan
139 042 Desti Novita P PG-PAUD Aceh Selatan
140 043 Yeza Piti Tola P PG-PAUD Aceh Selatan
141 119 Riva Zeodora P PG-PAUD Aceh Selatan
142 380 Maya Oktafarina P PG-PAUD Aceh Selatan
143 508 Dewi Rahmainingsih P PG-PAUD Aceh Selatan
144 562 Ice Purnawanti P PG-PAUD Aceh Selatan
145 002 Emilia P PGSD Aceh Selatan
146 026 Netrianti P PGSD Aceh Selatan
147 037 Septoadi L PGSD Aceh Selatan
148 038 Edi Marta L PGSD Aceh Selatan
149 061 Doni Prayogi L PGSD Aceh Selatan
150 062 Neti Eva Susanti P PGSD Aceh Selatan
151 064 Yori Erwandi L PGSD Aceh Selatan
152 065 Firma Rinofan L PGSD Aceh Selatan
153 066 Afrilla Sari P PGSD Aceh Selatan
154 251 Afrinaldi L PGSD Aceh Selatan
155 252 Ira Febriani P PGSD Aceh Selatan
156 263 Ilham Dani L PGSD Aceh Selatan
157 491 Emilia Meisisri P PGSD Aceh Selatan
158 482 Syofia Winda P Pend. B. Indonesia Aceh Singkil
159 149 Harmon L Pend. Kimia Aceh Singkil
160 186 Acep Andri Jayamukti L Pend. TIK Aceh Singkil
161 183 Ade Yatma L PGSD Aceh Singkil
Padang, 25 November 2011
Pembantu Rektor I,
Prof. Dr. Phil. Yanuar Kiram
NIP. 19570101 198403 1 004

 

 



LAPORAN MONEV SM3T (Lengkap)
Mei 18, 2012, 8:20 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV

LAPORAN MONEV SM3T

(SARJANA MENDIDIK DI DAERAH

TERDEPAN, TERLUAR DAN TERTINGGAL (SM-3T)

 

TAHUN  2011/ 2012

 

 

 

 

KABUPATEN                        : ACEH SINGKIL

KECAMATAN                      : PULAU BANYAK

 

 

DISUSUN OLEH

 

WAKHINUDDIN S.

 

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

 

PADANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.   Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan wilayah yang luas dan secara geografis maupun sosiokultural sangat heterogen, pada beberapa wilayah penyelenggara pendidikan masih terdapat berbagai permasalahan, terutama pada daerah yang tergolong terdepan, terluar, dan tertinggal (daerah 3T).

Beberapa permasalahan penyenggara pendidikan, utama di daerah 3T antara lain adalah permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah (shortage), distribusi tidak seimbang (unbalanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competencies), serta ketidak sesuaian anatara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang mampu (mismatched). Permasalahan lain dalam penyenggara pendidikan adalah angka putus sekolah juga masih relatif tinggi, sementara angka partisipasi sekolah masih rendah.

Sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia peningkatan mutu pendidikan di daerah 3T perlu dikelola seacara khusus dengan sungguh-sungguh, utamanya dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, agar daerah 3T dapat segera maju sejajar dengn daerah lain. Hal ini menjadi perhatian khusus Kementerian Pendidikan Nasional, mengingat daerah 3T memiliki peran strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka mempercepat pembangunan pendidikan di daerah 3T, adalah Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia . Program meliputi (1) Program Pendidikan Profesi Guru Terntegrasi dengan Kewenangan Tambahan (PPGT), (2) Program Sarjana Mendidik  di Daerah 3T (SM-3T), (3) Program Kuliah Kerja Nyata di Daerah 3T dan PPGT (KKN-3T PPGT), (4) Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Kolaboratif (PPGT Kolaboaratif), (5) Program S-1 Kependidikan Dengan Kewenangan Tambahan (S-1 KKT). Program-program tersebut merupakan jawaban untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di daerah 3T.

Program SM-3T sebagi salah satu Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia ditujukan kepada para Sarjana Pendidik yang belum bertugas sebagai guru, untuk ditugaskan selam satu tahun pada daerah 3T. Program SM-3T dimaksudkan untuk membantu mengatasi kekurangan guru, sekaligus mempersiapkan calon guru profesional yang tangguh, mandiri, dan memiliki sikap peduli terhadap sesama, serta memiliki jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa, agar dapat maju bersama mencapai cita-cita luhur seperti yang diamanahkan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

  1. B.   Pengertian

Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidik untuk berpatisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.

  1. C.   Tujuan
    1. Membantu daerah 3T dalam mengatasi permasalahan pendidikan terutama kekurangan tenaga pendidik.
    2. Memberikan pengalam pengabdian kepada sarjana pendidik sehingga terbentuk sikap profesional ,cinta tanah air, bela negara, peduli, empati, terampil memecahkan masalah kependidikan, dan tanggung jawab terhadap kemajuan bangsa, serta memiliki jiwa ketahan malangan dalam mengembangkan pendidikan pada daerah-daerah tergolong 3T.
    3. Menyiapkan calon pendidik yang memiliki jiwa keterpanggilan untuk mengabdikan dirinya sebagi pendidik profesional pada daerah 3T.
    4. Mempersiapkan calon pendidik profesional sebelum mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
  2. D.   Ruang Lingkup SM-3T
    1. Melaksanakan tugas pembelajaran pada satuan pendidikan sesuai dengan bidang keahlian dan tuntunan kondisi setempat.
    2. Mendorong kegiatan inovasi pembelajaran di sekolah.
    3. Melakukan kegiatan ekstra kulikuler.
    4. Membantu tugas-tugas yang terkait dengan menajemen pendidikan di sekolah.
    5. Melakukan pembedayaan masyarakat untuk mendukung program pembangunan pendidikan di daerah 3T.
    6. Melaksanakan tugas sosial kemasyarakatan.
  3. E.   Landasan Yuridis
    1. UU Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
    2. UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
    3. PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
    4. PP Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru.
    5. Pemendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
    6. Pemendiknas nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.
    7. Pemendiknas nomor 8 tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan.
    8. Pemendiknas nomor 9 tahun 2010 tentang Program Pendidikan Profesi Guru bagi Guru Dalam Jabatan.
    9. Kepmendiknas nomor 126/2010 tentang Penepatan LPTK Penyelenggara PPG bagi Guru Dalam Jabatan.
    10. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 64/DIKTI/Kep/2011 tentang Penepatan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara Rintisan Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (Berkewenangan Ganda).
    11. Keputusan Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 2788/E4.6/2011 tentang Penempatan Lembaga Pendididkan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T).
  4. F.    Waktu Pelaksanaan

Program SM-3T merupaka program pengabdian sarjana pendidikan untuk melaksanakan tugas mendidik selama satu tahun di daerah 3T, dilanjutkan dengan program PPG selama satu sampai dua semester di LPTK penyelenggara.

Implementasi Program SM-3T pada tahun 2011, direncanakan dimulai Nopember 2011 sampai dengan Oktober 2012, sedangkan unntuk pelaksanaan Program PPG direncanakan dimulai Januari 2013.


BAB II

KONDISI OBJEKTIF DAERAH SASARAN

  1. A.     Kondisi Gografis

Secara geografis luas wilayah desa pulau balai lebih kurang ± 206,5 Ha, Dengan kondisi desa yang dikelilingi lautan sehingga cukup strategis untuk nelayan. Adapun secara geografis batas-batas pulau balai  adalah sebagai berikut:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan pulau Teluk Nibung
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan pulau Panjang
    1.  Sebelah Barat berbatasan dengan pulau Haloban
    2. Sebelah Timur berbatasan dengan kepulauan Tapus-Tapus

 

  1. B.       Jumlah Penduduk

Tabel I

DATA LUAS WILAYAH DESA PULAU BALAI dan JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN JENIS KELAMIN

N0

Luas wilayah

Jumlah KK

Jumlah Penduduk

LK

PR

Jumlah

1

1000 Ha

385

930

803

1733

Sumber: Kantor Kepala Desa Pulau Balai

Di desa Pulau Balai jumlah populasi penduduk adalah 1733 jiwa, jumlah laki-laki sebanyak 930  jiwa, jumlah perempuan sebanyak 803 jiwa yang dikepalai oleh 385 Kepala Keluarga, maka berdasarkan hasil tabel di atas maka jumlah penduduk desa Pulau Balai yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak atau dominan dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan. Namun, setiap kali program yang dilaksanakan oleh peserta PESERTA GURU SM3T di Desa Pulau Balai ,warga desa Pulau Balai turut membantu kegiatan yang di laksanakan oleh peserta PESERTA GURU SM3T.

Tabel II

JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL

 TAHUN 2011

No

Tingkat Pendidikan

Volume

Satuan

1

Tidak Sekolah

5

Jiwa

2

Tidak Tamat SD

15

Jiwa

3

Tamat SD

50

Jiwa

4

Tamat SMP

880

Jiwa

5

Tamat SMA

750

Jiwa

6

Tamat D-1

5

Jiwa

7

Tamat D-2

4

Jiwa

8

Tamat D-3

4

Jiwa

9

Tamat S-1

20

Jiwa

Jumlah

1733

Jiwa

Sumber : Sensus Penduduk Pulau Balai

            Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di desa Pulau Balai  lebih banyak yang selesai hanya di bangku SD, dan hanya 20 jiwa yang  dapat menjadi sarjana, oleh sebab itu, maka hampir sebagian besar masyarakat di desa tersebut yang pekerjaan setiap harinya bertani atau menjadi buruh tani, dan ada juga yang bekerja sebagai tukang.

Tabel III

JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN PENYERAPAN TENAGA KERJA

TAHUN 2011

No

Tingkat Pendidikan

Volume

Satuan

1

Pegawai Negeri Sipil/Polri

45

Jiwa

2

Nelayan

993

Jiwa

3

Tani

36

Jiwa

4

Buruh

550

Jiwa

5

Janda Duda

54

Jiwa

6

Anak Yatim

55

Jiwa

Jumlah

1733

Jiwa

         

Sumber : Sensus Penduduk desa Pulau Balai

            Kebanyakan penduduk yang tinggal di desa Pulau Balai berprofesi sebagai nelayan.dan buruh. Daerah sasaran Program SM-3T untuk daerah Aceh Singkil berada di Pulau Banyak. Pulau Banyak adalah gugusan pulau yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil yang terdapat dua kecamatan di daerah tersebut. Adapun kecamatan yang dimaksud adalah Kecamatan Pulau Banyak dan Kecamatan Pulau Banyak Barat. Kecamatan Pulau Banyak terdiri dari tiga desa yaitu Pulau Balai, Pulau Baguk, dan Teluk Nibung, sedangkan Pulau Panyak Barat terdiri atas tiga desa juga yang meliputi Haloban, Ujung Sialit dan Suka Makmur. Berdasarkan judul laporan yang dibuat maka daerah sasaran SM-3T untuk daerah Aceh Singkil terletak di SekolahPulau Balai Kecamatan Pulau Banyak.

Desa Pulau Balai merupakan daerah teluk yang terdiri atas satu desa berdekatan dengan desa pulau baguk. Di daerah ini dikelilingi oleh lautan. Jarak yang ditempuh untuk menuju singkil yaitu lebih kurang 5 jam perjalan dengan menggunakan alat transfortasi laut yakni perahu.

  1. C.    Kondisi Demografis

Penduduk asli desa pulau balai sebagian besar berasal dari Melayu jameh walaupun ada sebagian kecil yang berasal dari masyarakat pendatang seperti Aceh, pakpak, nias, Sibolga dan lain-lain. Masyarakat desa Pulau Balai lebih kurang terdiri dari 385 kepala keluarga yang menepati setiap rumah. Walaupun demikian pelaksanaan Program Keluarga Berencana belum berjalan sebagai mana mestinya. Hal ini terlihat dalam setiap kepala keluarga yang mampunyai anak lebih dari dua dan pernikahan dini merupakan faktor pedukung lain sehingga tidak terlaksananya program tersebut. Kepulauan banyak berada sebelah barat kota Singkil, dengan jarak tempuh boat sekitar 4 jam. Sesuai dengan namanya kecamatan ini adalah terdiri dari beberapa pulau, yang terbesar adalah pulau Haloban.

  1. D.    Kondisi Sosial, Ekonomi, Dan Budaya

Kehidupan sosial masyarakat Pulau Balai tumbuh dengan kekompakan dan semangat gotong royong. Hal ini dapat terlihat dari kegiatan gotong royong warga setiap pagi  jum’at, sekaligus diadakannya ronda malam secara bergiliran. Kemudian dalam hal penegakan peraturan desa dapat dilihat dari tidak dibolehkannya kegiatan melaut pada malam jum’at sampai selesai salat jum’at sekaligus kalau ada yang meninggal dunia di desa tersebut. Apabila hal tersebut dilanggar maka dikenakan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku di desa tersebut.

Kondisi ekonomi masyarakat pulau balai sebagian  besar bekerja sebagai nelayan. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena Pulau Balai dikelilingi oleh lautan sehingga melaut merupakan mata pencarian utama. Kemudian masyarakat  Pulau Balai juga keramba ikan  merupaka pilihan kedua. Kemudian kegiatan berdagang kecil-kecilan di setiap rumah merupakan pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang banyak dilakukan.

Penduduk Pulau Balai mayoritas beragama islam walaupun ada yang beragama kristen tetapi dalam skala yang kecil. Dalam ajaran islam tersebut di Pulau Balai terdapat dua pandangan atau organisasi islam yaitu Muhammadiyah dan Tarbiyah. Walaupun demikian kehidupan masyarakat tetap hidup rukun dan damai.

Kondisi budaya  di desa Pulau Balai sudah bercampur baur dengan kata lain bervariasi. Hal ini disebabkan karena pengaruh pendatang yang menempati desa tersebut sejak dahulu. Dapat dilihat dari Budaya Nias, Budaya Aceh, dan Budaya Padang. Contohnya Tari Mahena  merupakan tarian yang berasal dari Nias, kemudian Adat Aceh yang di gunakan pada pesta pernikahan dan bahasa jamu dan kesenian yang sebagian berasal dari padang (Sumatera Barat).

 

 

 

 

 


BAB III

KEGIATAN KERJA

  1. A.    MAHASISWA
    1. a.      Bidang Kependidikan
    2. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
    3. Menyusun bahan ajar.
    4. Menyusun alat dan media pembelajaran.
    5. Menyusun perangkat evaluasi.
    6. Melaksanakan tugas mengajar.
    7. Melaksanakan layanan bimbingan bagi siswa yang membutuhkan.
    8. Membantu administrasi pendidikan di sekolah.
    9. Melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler.
    10. Melakukan pendampingan belajar siswa di luar jam pelajaran.
    11. b.      Bidang Kemasyarakatan
      1. Pemberdayaan masyarakat dan keluarga yang diintergrasikan dengan program POSDAYA.
      2. Membina kegiatan pendidikan non formal (pemberantasan buta huruf).
      3. Pembinaan kepemudaan (olahraga dan kesenian).
      4. Peningkatan kesadaran kebersihan dan pengelolaan lingkungan.
      5. Pemberian penyuluhan masalah NAPZA dan pelatihan KOGAMI untuk penanggulangan bencana gempa dan tsunami.
      6. B.     DOSEN
        1. Mengantar mahasiswa
        2. Melaksana Monev

BAB IV

PELAKSANAAN MONEV

  1. A.      Penempatan Guru SM3T

No.

Nama

Penempatan

Keterangan

1

Catur Triwahyuningsih

SDN Teluk Nibung

 

2

Ade Yatma

SDN Suka Makmur

Pindah ke SMP SATAP Teluk Nibung

3

Marsimin

SMAN 1 Pulau Banyak

 

4

Acep Jaya Indramukti

SMAN 1 Pulau Banyak

 

5

Sri Ayu

SMPN 1 Pulau banyak

 

6

Aprima Siska Riski Amalia

SMPN 1 Pulau banyak

 

7

Yasri Wahyuni

SMPN 3 SATAP T. Nibung

 

8

Ernawati Berutu

SMPN 2 Pulau banyak

 

9

Syofia Winda

SMPN 2 Pulau banyak

 

10

Harmon

SMPN 2 Pulau banyak

 

 

Pelaksanaan program SM3T pada Kabupaten Singkil, guru program SM3T di tempatkan pada kecamatan Pulau Banyak, diikuti oleh 10 guru SM3T. Ke-sepuluh guru tersebut sampai pertengahan pelaksanaan program SM3T masih tetap mereka terlibat dengan baik. Ada satu guru yang penempatan awalnya pada SDN Suka Makmur pindah ke SMP SATAP Teluk Nibung. Alasan pindah saudara Ade Yatma adalah karena sakit malaria.

  1. B.       Kondisi Sekolah
    1. a.      SDN Teluk Nibung

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

12 (PNS 8)

2.

Jumlah Kelas

6

3.

Jumlah Siswa

169

 

  1. b.      SDN Suka Makmur*

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

Tidak ada data

2.

Jumlah Kelas

Tidak ada data

3.

Jumlah Siswa

Tidak ada data

* Guru SM3T pindah ke SMP SATAP Teluk Nibung.

  1. c.       SMAN 1 Pulau Banyak

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

13 (yang PNS 3)

2.

Jumlah Kelas

9 (rusak/tidak dipakai 2 kls)

3.

Jumlah Siswa

217

 

  1. d.      SMPN 3 Satap Teluk Nibung

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

5

2.

Jumlah Kelas

3

3.

Jumlah Siswa

55

 


 

  1. e.       SMPN 2 Pulau Banyak

No.

Aspek

Jumlah

1

Jumlah Guru

11

2.

Jumlah Kelas

9

3.

Jumlah Siswa

109

 

Rasio jumlah guru dengan jumlah siswa dapat dikatakan cukup, tetapi ditinjau dari aspek distribusi tidak seimbang (unblanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competenies), serta tidak kesesuain antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang mampu (mistmatched) jauh dari cukup. Satu lagi aspek penting dalam pelaksanaan pendidikan di Kepulauan Banyak adalah tingkat kehadiran guru dalam mengajar sangat penting diperhatikan pengelola pendidikan; dari info yang didapat guru-guru honorer  (bukan guru SM3T) jarang masuk mengajar di kelas.

Kemungkinan ini disebabkan kebanyakan guru-guru tersebut masih guru honorer, dan banyak diantara mereka bukan penduduk kepulauan Banyak, mereka tinggal di kota Singkil, perjalanan laut yang ditempuh jauh dan cenderung berbahaya. Sebagaimana saya alami, di tengah jalan/laut, setelah 2 jam boat meninggalkan dermaga, kami dihadang badai kuat dan hujan lebat, sehingga nakhoda memutuskan balik kembali ke kota Singkil.

 


  1. C.      Program

No.

Komponen Monev

Sumber informasi

Temuan

PSRT

PEMDA

KS/ GURU

PP SM3T

OBS

DOK

1

Pemda Mitra

 

 

 

 

 

 

 

  1. Keterlibatan Pemda terhadap Program SM3T

 

 

Baik

  1. Kekuatan  hubungan Pemda mitra dengan LPTK dalam keterlibatan langsung SM3T

 

 

 

 

Bagus

  1. Komitmen Pemda mitra terhadap program SM3T

 

 

 

Bagus

2

Penempatan Peserta 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Ketepatan sasaran: lokasi, sekolah, dll

Sangat tepat

  1. Jumlah peserta per kecamatan

 

 

Kurang

 

  1. Jumlah peserta per sekolah

Kurang

 

  1. Kesesuaian kebutuhan sekolah dari aspek : jumlah, mata pelajaran, dll

Kurang

3

Bidang Pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menyusun perangkat pembelajaran: RPP, bahan ajar, alat dan media, dan evaluasi

 

 

 

Ada lengkap dan semua guru SM3T membuat perangkat tersebut

 

  1. b.  Melaksanakan tugas mengajar

 

 

Sangat baik

 

  1. c.   Melaksanakan layanan bimbingan bagi siswa yang membutuhkan

 

 

Ada

 

  1. Membantu admins-trasi pendidikan di sekolah

 

 

Ada

 

  1. Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler

 

 

Banyak

 

  1. Melakukan pendampingan belajar siswa di luar jam pelajaran

 

 

 

Ada

4

Bidang kemasyakatan

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pemberdayaan masyarakat dan keluarga yang diintegrasikan dengan program POSDAYA

 

 

 

Semua Guru SM3T ada melaksana dan berjalan dengan baik

 

  1. Membina kegiatan pendidikan non formal (pemberan-tasan buta huruf)

 

 

 

Ada

 

  1. Pembinaan kepemudaan (olah raga dan kesenian)

 

 

 

Ada dan Sering

 

  1. Peningkatan kesadaran kebersihan dan pengelolaan lingkungan

 

 

 

Ada

 

5

Profil Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Siswa: Jumlah siswa, jumlah rombel, jumlah rata-rata per rombel, jumlah siswa miskin, dll

 

 

 

Kurang; banyak yang DO. APK sangat rendah.

 

  1. Guru : Jumlah guru, status guru, kualifi-kasi, kepangkatan/ gol, jenis kelamin, yang sudah sertifikasi, dll

 

 

 

Cukup, apa bila semua guru honorer (tidak tetap) terlibat penuh mengajar. Dalam kenyataanya, berbeda, kebanyakan dan sering guru honorer absen mengajar. Dengan demikian dapat dikatakan keca-matan Kepulauan banyak masih kurang guru.

 

  1. Sarana sekolah : jumlah ruang kelas, ruang guru, ruang laboratorium, MCK, dll.

 

 

Kurang

6

Kendala yang dihadapi

  1. Secara umum dapat dikatakan tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan program SM3T
  2. Secara spesifik, kendala dalam pelaksanaan pendidikan di kepulauan Banyak berupa:
  3. Guru status PNS sangat kurang
  4. Guru honorer (tidak tetap) sering absen mengajar; ini disebabkan, guru-guru honorer tersebut umumnya berdomisili di kota Singkil, bukan di kepulauan Banyak.
  5. Sarana dan prasarana yang kurang lengkap
  6. Belum ada bahan ajar  dan media pembelajaran yang relevan
  7. Kurang minat siswa dalam belajar
  8. Buku paket yang masih kurang
  9. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kurang (tidak lengkap)
    1. Transportasi laut lama dan kurang baik (ada kapal feri, tetapi tidak setiap hari ada jadwalnya).

7

Rekomendasi tindak lanjut

  1. Program SM3T masih perlu dilanjutkan pelaksanaannya di Kep. Banyak.
  2. Pengangkat guru negeri, terutama bagi putra daerah
  3. Perbaikan sarana-prasarana
  4. Melengkapi bahan ajar.
  5. Bea siswa perguruan tinggi (LPTK) buat putra daerah yang berminat jadi guru, seperti Bidik Misi.

 

            Pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah-sekolah Pulau Banyak kendala yang dihadapi meliputi :

  1. Sarana dan prasarana yang kurang lengkap
  2. Guru masih kurang, baik dari aspek kuantitas, relevansi, maupun kualitas.
  3. Belum ada silabus yang relevan
  4. Belum ada bahan ajar  dan media pembelajaran yang relevan
  5. Kurang minat siswa dalam belajar
  6. Buku paket yang masih kurang
  7. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
  8. D.      Solusi yang ditempuh

Berdasarkan kendala yang dihadapi solusi yang dapat di tempuh adalah:

  1. Meneruskan program SM3T
  2. Memberi peluang putra daerah lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke LPTK melalui program khusus, seperti Bidik Misi dan Bea siswa lainnya.
  3. Guru-guru yang mismatch diberi peluang mengikuti program KKT dengan penanganan khusus. 
  4. Melakukan pelatihan guru, baik dalam profesionalisme maupun pedagogik.
  5. Meningkatkan pengawasan sekolah oleh dinas
  6. Menyusun silabus pembelajaran
  7. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
  8. Menyusun bahan ajar dan media pembelajaran
  9. Memberi masukan kepada wali siswa bersangkutan terhadap pentingnya pendidikan
  10. Menyesusaikan buku paket dengan RPP dalam proses pembelajaran
  11. Memanfaatkan lingkungan alam (contextual learning)
  12. E.       Nilai-Nilai positif
    1. Lingkungan keluarga merupakan pendukung terbesar dalam pendidik anak
    2. Adanya kerjasama dan kekompakan dalam masyarakat merupakan langkah menuju desa maju ke depan
    3. Belajar bukan dapat dari buku saja tetapi belajar bisa juga di dapat dari alam
    4. Pendidikan bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi perubahan sikap/perilaku harus  diimbang


BAB V

PENUTUP

  1. A.      KESIMPULAN

              Program SM-3T adalah program pengabdian sarjana pendidikan untuk berpatisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan daerah 3T selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan di lanjutkan dengan program pendidikan profesi guru.

              Beberapa kesimpulan yang dapat disampaikan: permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah (shortage), distribusi tidak seimbang (unblanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under qualification), kurang kompeten (low competenies), serta tidak kesesuain antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang mampu (mistmatched).

Permasalahan peserta didik adalah angka putus sekolah relatif tinggi, angka partisipasi masih rendah, dengan demikian perlu peningkatan APK/APM pendidikan di kepulauan Banyak.

Secara umum dapat dikatakan kondisi sarana dan prasarana sekolah-sekolah di Pulau Banyak  rusak.

  1. B.       SARAN        
    1. Diharapkan program SM3T yang sedang berjalan dapat dilanjutkan.
    2. Diharapkan program SM3T dilanjutkan ditahun depan.
    3. Guru dapat mengikuti Pelatihan dalam bidang kompetensi profesional dan pedagogik,
    4.  Guru-guru yang mismatch dapat mengikuti program KKT Kemdikbud.
    5. Sarana dan prasarana sekolah agar diperbaiki, agar terpenuhinya standar sarana dan prasarana, dan standar proses dan standar lainnya.
    6. Hendaknya Pemda propinsi dan kabupaten berusaha meningkatkan APK/APM.
    7. Pengangkatan Guru PNS baru, terutama putra daerah.
    8. Bea siswa melanjutkan ke pendidikan tinggi bagi putra daerah.GambarGambarGambar


UJIAN TENGAH SEMESTER JAN-JUN 2012 MK: Evaluasi Program
April 14, 2012, 8:53 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA

PROGRAM PASCASARJANA
FT – UNP

———————————————————
UJIAN TENGAH SEMESTER JAN-JUN 2012
MK: Evaluasi Program

Penjelasan:
1. Jawab soal berikut sesuai pertanyaan,
2. Take home, kumpul hari Sabtu 21 April 2012,saat kuliah
3. Maksimum 10 halaman folio.
4. Tulisan tangan
5. Tulis pernyataan ini diakhir jawaban: Dengan ini saya bersumpah bahwa soal ini saya kerjakan sendiri, tanpa meniru dan mencontek teman.

Soal:
1. Uraikan (format tabel) perbedaan penelitian dengan evaluasi program!
2. Jelaskan 4 (empat) Standar Untuk menilai saat mengevaluasi suatu program; setiap standar tuliskan minmal 3 (tiga) unsur!
3. Jelaskan dengan membandingkan minimal 2 (dua) model evaluasi program!
4. Pada model CIPP ada 4 (empat) variabel. Jika dianalisis lebh cermat kita akan menemukan beberapa aspek dari variabel tersbut.
a. Jelaskan perbedaan variabel variabel-variabel tersebut
b. Jelaskan hubungan antara variabel tersebut.
c. Jelaskan dan beri contoh dari setiap variabel tersebut.
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fokus evaluasi. Mengapa selain fokus, kita juga harus mendesain evaluasi.
6. Jelaskan perbedaan mendasar antara monitoring dan evaluasi. Hubungkan penjelasan saudara dengan suatu program di sekolah saudara dan berikan contoh.
7. Bantu ke dua peneliti ini:
Judul 1: Evaluasi program prakerin siswa.
Judul 2: Evaluasi program supervisi dialogis dalam meningkatkan kinerja guru SMK, yang meliputi guru bersertifikat dan Guru belum bersertifikat.

a. Tuliskan rumusan masalah dari kedua judul tersebut.
b. Sebutkan variabel dari masing-masing tahapan tersebut (pakai Model CIPP atau Model Stake).
c. Sebutkan unit analisis dari ke dua penelitan tersebut.
d. Sebutkan instrumen dan jenisnya untuk mengukur masing-masing variabel dari kedua evaluasi program tersebut
e. Sebutkan sumber data masing-masing variabel dari ke dua judul evaluasi program tersebut.
f. Gambarkan kerangka berpikir dari ke dua jenis evaluasi program tersebut.

8. Uraikan langkah-langkah melaksanakan evaluasi program.

Selamat bekerja
Good lucky U



Undang-undang Tentang Evaluasi (Pendidikan)

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003, pada bab XVI pasal 57 sampai dengan 59 tentang Evaluasi menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada piha-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyataka bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.



Evaluasi Program Praktik Kerja Industri Luar Negeri Siswa SMK Negeri 6 Padang dengan Model CIPP
Oktober 9, 2011, 3:50 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, Uncategorized

KESIMPULAN
(Evaluasi Program Praktik Kerja Industri Luar Negeri Siswa SMK Negeri 6 Padang dengan Model CIPP by Wakhinuddin S dan Tursina)

Setelah diadakan penelitian tentang pengaruh evaluasi program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang dengan model CIPP maka dapat ditarik kesimpulan :
1. Konteks (context) dalam program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari tujuan program, dan lingkungan program.
Berdasarkan analisis deskriptif terhadap variabel context yang terdiri dari dua indikator tujuan program prakerin dan lingkungan tempat prakerin. Berdasarkan analisis deskriptif indikator tujuan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 93.33% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, tujuan di adakannya program prakerin luar negeri di SMK Negeri 6 Padang: 1) meningkatkan kompetensi siswa sesuai dengan kompetensi keahliannya, 2) membuka wawasan siswa tentang kompetensi keahlian yang dimilikinya, 3) untuk mencetak tenaga-tenaga yang propesional dibidangnya sehingga setelah tamat dapat diterima di dunia industri, 4) memenuhi salah satu persyaratan Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (SRBI). Hal tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh Depdiknas (2005:1).
Berdasarkan analisis deskriptif indikator lingkungan tempat prakerin dengan tingkat capaian sebesar 90.37% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, mengenai lingkungan industri prakerin sesuai dengan kompetensi keahlian siswa dan di tempat prakerin dapat meningkatkan kompetensi produktif siswa. Hal tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh Depdiknas (2005: 8).
2. Masukan (input) dalam program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari SDM siswa, pengelola outlet, guru pembimbing, instruktur, serta sarana prasarana pendukung, sumber dana dan relevansi pelaksanaan program dengan kebutuhan siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM siswa SMK Negeri 6 Padang dengan tingkat capaian sebesar 92.59% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, persyaratan siswa prakerin luar negeri antara lain: a) minimal 17 tahun pada saat pemberangkatan, b) ada izin dari orang tua, c) sehat fisik dan mental, dan disiplin, d) mampu berbahasa inggris, e) memiliki kompetensi dasar dan kejuruan, e) lulus tes dari industri. Hal ini sesuai dengan Depdiknas (2005:3) tentang kriteria siswa yang disiapkan untuk mengikuti prakerin luar negeri.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM pengelola outlet SMK Negeri 6 Padang, dengan tingkat capaian sebesar 77.78% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, kurang optimal manajemen pengelola Outlet melengkapi dokumen prakerin luar negeri antara lain : a) buku jurnal, b) format penilaian kegiatan siswa industri, c) instrument monitoring yang standar untuk guru pembimbing prakerin, d) tidak adanya secara tertulis persyarat dan tugas guru pembimbing, e) jadwal pemberangkatan siswa tidak sesuai dengan program yang ada di sekolah sehingga mempengerahui nilai ketuntasan belajar siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM guru pembimbing SMK Negeri 6 Padang, dengan tingkat capaian sebesar 74.69% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa pengelola outlet SMK Negeri 6 Padang tidak menentukan persyaratan khusus untuk menjadi guru pembimbing prakerin luar negeri. Hal ini kurang sejalan dengan Dikmenjur (dalam tantang, 2000:35) menjelaskan “Guru PSG adalah individu yang memiliki kemampuan kompetensi, profesi keguruan atau pendidik secara dominan tetapi juga harus memiliki kompetensi teknis keahlian tertentu dan memiliki jiwa enterpreneurship). Dalam pelaksanaan PSG guru dipersyaratkan harus memiliki sejumlah kompetensi atau kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk melaksanakan keprofesiannya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru PSG.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator SDM Instruktur (Pembimbingan Prakerin) luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 83.70% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa peranan instruktur di industri memberikan arah dan petunjuk-petunjuk praktis tentang pekerjaan, sesuai dengan perkembangan teknologi. Hal ini sudah sesuai menurut Nolker dalam Tatang (2000 : 35) “Instruktur memberikan bimbingan ahli bagi peserta didik dalam melakukan pekerjaan latihan serta memberikan petunjuk-petunjuk praktis, sesuai dengan perkembangan teknologi mutakhir. Instruktur juga menyiapkan pertemuan pengajaran dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip didaktik dan ia juga memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam penyelenggaraan ujian.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator sarana prasarana pendukung prakerin luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 92.59% dalam kategori sangat baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, sarana prasaran yang ada ditempat prakerin sesuai dengan komptensi keahlian siswa. Hal ini sesuai menurut Depdiknas, (2005:3) tentang klasifikasi industri antara lain : a) memiliki fasilitas sesuai dengan standar kompetensi, b) bidang usaha yang sesuai dengan kompetensi siswa.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator sumber dana prakerin luar negeri dengan tingkat capaian sebesar 77.04% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa: 1) sumber dana prakerin luar negeri dari ortua siswa dan industri, 2) kurang ketrasparan pihak pengelola outlet tentang pengunaan dana prakerin kepada orang tua.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif indikator relevansi program prakerin keluar negeri relevan dengan kebutuhan siswa dengan tingkat capaian sebesar 86.67% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa relevansi program prakerin keluar negeri sudah relevan dengan kebutuhan siswa.
3. Proses (process) pelaksanaan program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari persiapan, pelaksanaan, monitoring dan hambatan pelaksanaan program prakerin.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator persiapan pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 76.85% dalam kategori cukup baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa, tidak adanya pengarahan pengisian buku jurnal karena buku jurnal tidak ada dan tidak di ikut sertakan guru pembimbing dalam pembekalan prakerin. Hal ini kurang sejalan dengan Wahyu, (2008:222) .
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 82.55% dalam kategori baik. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa dalam pelaksanaan program prakerin belum dilengkapi dengan uji kompetensi siswa di industri. Hal ini belum yang sesuai dengan kebijakan Dikmenjur (2005:9) evaluasi pelaksanaan praktik kerja industri dilakukan uji kompetensi di industri. Sebagai bukti bahwa telah terlaksananya evaluasi kompetensi prakerin siswa memperoleh sertifikasi dari industri. Sedangkan menurut Nolker dalam Tatang (2000:35) menyebutkan, bahwa instruktur memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam penyelenggaraan ujian.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator monitoring pelaksanaan program prakeri luar negeri tingkat capaian sebesar 67.26% dalam kategori cukup. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa 1) kegiatan monitoring yang dilakukan oleh guru pembimbing baru sebatas kunjungan dan pengamatan lapangan dan belum menggunakan instrumen monitoring yang standar, 2) evaluasi pelaksanan prakerin luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang hanya sebatas wawancara dengan siswa dan pihak industri dan belum pernah melakukan evaluasi program prakerin luar negeri. Hal ini sesuai dengan kebijakan Depdiknas (2009) program prakerin yang sudah dilakukan peserta didik perlu dievaluasi untuk melihat kesesuaian antara program dengan pelaksanaannya. Hal ini dimaksudkan sebagai dasar untuk penyusunan program tindak lanjut yang harus dilakukan, baik terhadap pencapaian kompetensi peserta didik maupun terhadap program prakerin.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh indikator hambatan pelaksanaan program prakerin dengan tingkat capaian sebesar 53.78% dalam kategori kurang sekali. Hal tersebut di atas di dukung hasil wawancara peneliti bahwa adanya hambatan dalam pelaksanaan program prakerin antara lain: 1) berbeli-belitnya biokrasi dalam melengkapi dan pengurusan dokumen pemberangkatan prakerin luar negeri, 2) jadwal pemberangkatan tidak sesuai dengan program sekolah sehingga sering terjadi masalah dengan nilai ketuntasan siswa.
4. Hasil (product) yang telah dicapai dari program praktik kerja industri luar negeri siswa SMK Negeri 6 Padang, ditinjau dari daya serap siswa di industri.

Berdasarkan data hasil penelurusan terhadap siswa yang telah mengikuti prakerin keluar negeri dapat disimpulkan bahwa daya serap siswa yang mengikuti prakerin luar negeri secara keseluruhan baik yang melanjutkan kuliah maupun bekerja lebih tinggi dibanding dengan siswa yang mengikuti prakerin di dalam negeri.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.