Wakhinuddin’s Weblog


Tes Performansi (Unjuk Kerja)
April 21, 2013, 4:28 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, Pendidikan Kejuruan, TES

Tes Performansi
(Unjuk Kerja)

Oleh
Wakhinuddin

Kata ‘perform’ sepadan dengan ‘do’, yang berarti ‘melakukan’, dan performansi dapat diartikan ‘sedang melakukan’ (performing) dinyatakan dalam bentuk kata kerja. Ada beberapa kata terjemahan performance, seperti Kinerja dan Unjuk kerja. Kata ini sering dipakai disiplin manajeman. Istilah performance lebih cocok disebut ‘performansi’ saja. Karena dalam sebutan performansi aspek denotatif tetap terdapat, yaitu mengandung ‘proses atau aktivitas’. Dengan demikian performansi dapat diartikan ‘dapat melaksanakan suatu tugas’.
Ragam tes performansi adalah cara penilaian menuntut siswa melakukan tugas dalam bentuk perbuatan yang dapat diamati guru atau penilai lainnya. Dalam proses performansi akan diketahui siswa yang mengusai materi ajar dan yang tidak mengusai materi. Kemampuan performansi membedakan keadaan siswa ini menunjukkan bahwa performansi memiliki sifat mengukur dan menilai. Sifat inilah yang membuatnya menjadi suatu instrumen penilaian, yang disebut tes performansi. Sifat ini juga membuat tes performansi dikategori sebagai Tes acuan-kriteria.
Ada tiga elemen utama tujuan tes performansi, yaitu: 1. kondisi tugas yang akan ditampilkan; 2. deskripsi tugas; dan 3. kriteria kerja. Elemen-elemen ini menunjukkan, tes performansi tidak dapat dilepaskan dari suatu perbuatan kerja. Beberapa penulis menggandeng kata performansi dengan kata tugas, sehingga dibaca tugas performansi (performance task).
Tugas performansi tidak sekedar yang guru berikan ke siswa di kelas, tetapi juga mencakup banyak keterampilan dan umumnya aplikasi langsung ke tugas nyata di masyarakat sehari-hari. Keadaan ini, realisasi pandangan konstruktivisme mengatakan, pembelajaran adalah proses pembentukan siswa, membentuk pengetahuan dan menginterpretasi pengalaman hidup. Konstruktisme juga berpendapat, pembelajaran itu tidak linier, tidak bebas konteks dan berpikir. Pembelajaran harus membentuk siswa agar siap menghadapi kehidupan di masyarakat.
Pada penelitian ini, ada dua ragam tes performansi berbeda konsep dan teknis pelaksanaan pengukuran kompetensi siswa, yaitu: (1) skala penilaian tapa pembobotan (SPTP); skala penilaian mempunyai sekor tetap 0 sampai 5, karena setiap aktivitas mempunyai sekor sama (tetap) maka disebut skala penilaian tanpa pembobotan, (2) skala penilaian pakai pembobotan (SPPP); pada SPPP skala penilai pada aktivitas mempunyai bobot berbeda, mulai dari sekor 0 – 5, sekor 0 –10, dan sekor 0 –20. Karena skala penilaian aktivitas berbeda bobot, maka disebut skala penilaian pakai pembobotan;
Tes performansi mempunyai beberapa keistimewaan, antara lain: (a) mengatasi beberapa hal (terutama keterampilan) yang tidak dapat dinilai dengan ‘tes kertas-pensil’; (b) lebih alami, langsung, lebih tuntas menilai keterampilan (skill); (c) bermanfaat bagi siswa yang kurang ingin membaca; (d) mendorong aplikasi pembelajaran kepada situasi kehidupan nyata. Namun, ada juga beberapa kelemahan penilaian performansi, yaitu: (a) pemakaian waktu dan usaha yang banyak; (b) pensekoran dan penilaian cenderung subjektif, tidak adil, rendah reliabilitas; (c) penilaian individual daripada kelompok .
Dalam melaksanakan penilaian performansi paling tidak ada tiga hal yang harus diperhatikan, antara lain: (a) Kriteria ganda; (b) Standar kualitas ditetapkan dulu; (c) Penilaian . Respon siswa terhadap tes performansi (tugas) tidak hanya dinilai dari satu aspek saja, tetapi dari beberapa aspek seperti: prosedural, ketelitian, kecepatan, ketepatan. Standar penilaian harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada kurikulum. Siswa dinilai oleh beberapa penilai, penilai adalah ahli dan terampil dibidang materi ujian.
Suatu tes performansi tugas yang diujikan kepada siswa haruslah mempunyai kriteria evaluasi sebagai berikut: (a) Generalizabiliti, (b) Otentik, (c) Penilaian ganda-terurai-otentik; (d) Dapat diajarkan; (e) Jujur; (f) Dapat dilakukan; (g) Dapat disekor . Ketujuh kriteria harus terkandung dalam satu butir tes. Bila salah satu tidak terpenuhi berarti penilaian performansi dapat dikatakan tidak berjalan dengan baik.
Penilaian performansi dapat difokuskan pada prosedur dan produk atau keduanya. Beberapa jenis dari performansi tidak menghasilkan produk nyata, seperti membaca, memainkan instrumen musik, dan bermacam faktor fisik. Kegiatan seperti ini lebih banyak didominasi keterampilan manipulatif dan keterampilan teknis, dan hendaklah dinilai dalam keadaan sedang berkerja (proses). Sebagaimana pendapat Norman E, Gronlund, performansi sering dikaitkan dengan kualitas dari suatu proses. seperti performansi presisi: “dapat mengukur diameter piston dalam mikro meter”.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.