Wakhinuddin’s Weblog


UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Juli 11, 2009, 6:04 am
Filed under: PENELITIAN, PENGUKURAN (MEASUREMENT)

UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Oleh Wakhinuddin S

1. Pengujian Validitas Butir
Untuk menguji validitas butir instrumen (X1) menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson yang rumusnya adalah sebagai berikut:
N XY – (X) (Y)
rxy = ———————————————-
NX2-(X)2 NY2- (Y)2

Keterangan:
rxy= Koefisien korelasi skor butir (X) dengan skor total (Y)
N= Jumlah sampel (responden)

Untuk pengujian validitas butir tes hasil belajar (Y) digunakan rumus Biserial Point, yaitu:

Xi – Xt pi 1/2
rpb(i) = ——— (—-)
st qi

Keterangan:
rpb(i) = koefisien korelasi biserial point antara skor butir dengan skor total
Xi = rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir ke-i
Xt = rata-rata skor total semua responden
St = standar deviasi skor total
pI = proporsi jawaban yang benar butir i
qI = proporsi jawaban salah butir i

2. Pengujian Reliabilitas
Untuk menentukan reliabilitas instrumen (X1) digunakan rumus Alpha Cronbach, yaitu:

k Jumlah varians skor butir
Y = — (1 – ———————— )
k Varians skor total

Keterangan :
kk = Koefisien reliabilitas instrumen
k = Banyaknya butir pernyataan
Si2 = Jumlah varians skor butir
S t2 = Varians skor total

Selanjutnya untuk menetukan reliabilitas tes (Y) digunakan rumus Kuder Richadson (KR-20), yaitu:

k jumlah varians skor butir
r = —— ( 1- ————————- )
k – 1 varians skor total

Keterangan:
r = koefisien reliabilitas
k = cacah butir
St2 = varians skor total
piqi = jumlah varians skor butir
pi = proporsi jawaban yang benar butir i
qI = proporsi jawaban salah butir i

Untuk menentukan diterima tidaknya setiap butir pertanyaan yang dianalisis, diperlukan kriteria analisis, baik kriteria mengenai pengujian validitas maupun reliabilitas.
Dalam pengujian validitas instrumen, taraf nyata yang digunakan adalah  0,05. Butir pernyataan dikatakan valid, jika koefisien korelasi Product Moment (rxy) atau rhitung lebih besar dari pada rtabel, sesuai taraf nyata yang telah ditentukan umpamanya dengan N = 40. Sesuai kriteria di atas, diperoleh besaran r-tabel adalah 0,312.



Strategi Pembelajaran
Juli 10, 2009, 10:21 am
Filed under: PASCASARJANA, Pendidikan

Strategi Pembelajaran
oleh Wakhinuddin S

Dalam setiap proses pembelajaran, strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pelajarannya, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Terkait dengan hakikat strategi pembelajaran tersebut, ada beberapa pendapat para ahli yang menjelaskan tentang strategi pembelajaran, antara lain yaitu:
1. Kazma dalam Gafar (1989), secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran.
2. Gerlach dan Ely (1980 ), menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi dalam lingkungan pembelajaran tertentu, yang meliputi: lingkup, urutan kegiatan dan sifatnya yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
3. Dick and Carey (1990), menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau digunakan oleh pendidik dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Dimana menurut mereka strategi bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar, melainkan juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran.
4. Gropper dalam wiryawan Noorhadi (1990), mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya strategi pembelajaran adalah suatu rencana untuk mencapai tujuan, yang terdiri dari metode, teknik dan prosedur yang mampu menjamin peserta didik untuk benar-benar akan dapat mencapai tujuan akhir suatu pembelajaran yang diikutinya.

Terkait dengan pengertian dari beberapa ahli tersebut di atas, hal pokok yang paling utama adalah bagaimana kita sebagai pendidik maupun pengajar pada suatu lembaga pendidikan mampu dan dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat, sehingga mampu menciptakan suatu iklim belajar yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.

Pemilihan strategi pembelajaran pada dasarnya merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh seorang pendidik atau pengajar dimanapun ia melakukan suatu proses pembelajaran, yang didasari pada 3 (tiga) hal pokok, yaitu: (1) Rumusan tujuan pembelajaran, (2) Analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik, (3) Jenis dan lingkup materi yang akan dikomunikasikan.



PERBEDAAN UMUM ANTARA PENELITIAN DAN EVALUASI
Juli 10, 2009, 10:06 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV, Pendidikan, PENELITIAN

PERBEDAAN UMUM ANTARA PENELITIAN DAN EVALUASI

Oleh Wakhinuddin S

Perbedaan antara Penelitian dan evaluasi secara umum dapat ditinjau dari aspek:
• Tujuan dan Kegunaan investigasi;
• Ruang lingkup investigasi;
• Nilai-nilai dalam investigasi;
• Original studi;
• Manfaat studi;
• Jadwal studi;
• Kriteria penilaian studi;
• Agenda studi.
• Motivasi peneliti;
• Tujuan studi;
• Aturan versus deskripsi;
• Peran eksplanasi;
• Otonomi temuan;
• Sifat fenomena yang dinilai;
• Universalitas fenomena;
• Relevansi nilai-nilai pertanyaan;
• Teknik Investigasi;
• Kriteria aktivitas penilaian;
• Basis disiplin ilmu.



TYPE KEPRIBADIAN KEJURUAN VERSI HOLLAND DAN PEKERJAAN
Juli 10, 2009, 2:33 am
Filed under: Pendidikan Kejuruan

TYPE KEPRIBADIAN KEJURUAN VERSI HOLLAND
DAN PEKERJAAN

Oleh Wakhinuddin S

Menurut John Holland (1985), terdapat enam tipe kepribadian vocational yaitu Realistic (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang bersifat praktis, cepat menangkap masalah dan mencari solusinya), Investigative (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang lebih banyak membutuhkan pemikiran mendalam, mereka juga menyukai bekerja dengan ide dan kekuatan berpikir daripada melakukan aktivitas kerja fisik), Artistic (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang berhubungan dengan sisi artistik dari sesuatu hal/benda/obyek, seperti bentuk, desain, dan pola-pola. Mereka menyukai mengekspresikan diri dalam pekerjaan mereka.), Social (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang berhubungan dengan individu lainnya. Mereka senang membantu dan memajukan orang lain. Selain juga, giat berupaya agar orang tersebut mau mengembangkan diri), enterprising (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang bersifat memulai sesuatu atau membangun dari awal (start-up), Conventional (menyukai aktivitas-aktivitas kerja dengan aturan main yang jelas. Mereka menyukai prosedur dan standar, dan tidak bermasalah dengan rutinitas.
Berdasarkan enam tipe di atas, setiap orang dapat dideskripsikan dengan satu atau gabungan dari enam tipe tersebut, yang seringkali disingkat dengan RIASEC (huruf pertama setiap tipe). Teori ini juga mengemukakan bahwa ada enam tipe lingkungan kerja yang berkaitan dengan tipe di atas – dan setiap individu perlu menemukan tempat kerja yang sesuai dengan profilnya (berdasarkan 6 tipe di atas). Semakin baik tingkat kecocokan antara tempat kerja dan gambaran minat kerjanya, semakin meningkat kepuasan orang tersebut dengan pekerjaannya.



PENERAPAN PSG MELALUI PRAKTEK KERJA INDUSTRI PADA SMK
Juli 9, 2009, 9:37 am
Filed under: Pendidikan, Pendidikan Kejuruan

Penerapan PSG Melalui Praktek Kerja Industri Pada SMK
Oleh Wakhinuddin S

John Oxenham (1984:34) mengatakan bahwa apabila lulusan suatu sekolah tidak dapat dipekerjakan atau memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan jenis dan tingkat pendidikan yang dimilikinya, sekolah atau guru-guru dianggap tidak berhasil dengan tugasnya. Hal ini berarti sekolah dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat atau dunia kerja.
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan kejuruan adalah peningkatan keterkaitan dan keterpaduan (link and match) dalam implementasi Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dalam hal ini, guru¬guru yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan On Job Training (OJT).
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional merupakan suatu sistem pendidikan terpadu yang mencakup semua jenis, satuan, jalur, jenjang, dan kegiatan pendidikan yang bekaitan satu sama lain, ditata secara sistematis sebagui upaya untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional. Salah satu jenis sekolah lanjutan tingkat atas yang sekarang mendapat perhatian khusus dari pemerintah adalah SMK. Isi pendidikan sekolah kejuruan itu berkaitan langsung dengan proses industrialisasi atau dunia usaha, terutama jika dikaitkan dengan fungsinya sebagai produsen tenaga kerja menengah.
Finch, C.R. & John. R.C. (1979:8) menyatakan perlunya melakukan identifikasi dan seleksi kurikulum, pengembangan materi kurikulum, dan pengembangan paket-paket yang didasarkan atas kompetensi dan pengajaran individual. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan kurikulum SMK yang berorientasi kepada sistem ganda, perlu dilakukan identifikasi dan pemilihan materi pengajaran yang relevan dengan dunia kerja atau dunia industri. Selain itu, harus dilakukan pengembangan materi secara terpadu yang disesuaikan dengan tuntutan dunia usaha utau dunia industri melalui pengembangan paket-¬paket belajar atau modul.
Penerapan kebijaksanaan link and match pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Hal ini sebagai usaha untuk mencari titik temu antara dunia pendidikan sebagai produsen dan dunia kerja/industri sebagai konsumen. Menurut Pakpahan (1994:7), tujuan gerakan link and march adalah untuk mendekatkan pemasok (supplier) dengan mutu sumber daya manusia, terutama yang berhuhungan dengan kualitas ketenagakerjaan. Sedangkan konsep dasar penerpan pendidikan sistem ganda itu sendiri adalah penyelenggaraan pendidikan yang mengintegrasikan secara tersistem kegiatan pendidikan di sekolah dengan kegiatan pendidikan (praktek) di dunia industri.
Praktek kerja industri pada dasarnya merupakan suatu bentuk pendidikan yang melibatkan siswa langsung bekerja di dunia usaha/industri agar siswa memiliki kompetensi yang sesuai dengan harapan dan tuntutan usaha/industri. Disamping itu juga agar diperoleh pengalaman kerja sebagai salah satu hal untuk meningkatkan keahlian profesional. Hal ini cukup beralasan mengingat dunia industri memerlukan tenaga kerja yang berkualitas dan ahli di bidangnya untuk mengoperasikan peralatan dan teknologi canggih.
Upaya pemerintah dalam hal ini Direktorat Menengah dan Kejuruan (Dikmenjur) sebagai upaya mendekatkan pendidikan kejuruan dengan dunia kerja, telah dilakukan dengan adanya kebijakan link and match. Sebagai realisasi dari kebijakan tersebut, maka telah dicanangkan konsep pendidikan dengan sistem ganda (PSG/Dual Base System). Pendidikan Sistem Ganda adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan pendidikan sekolah dengan penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja (Depdikbud,1994). Realisasi dari Pendidikan Sistem Ganda tersebut adalah dilasanakannya praktek kerja industri (Prakerin). Pelaksanaan Prakerin dimaksudkan agar program pendidikan di sekolah mengacu pada pencapaian kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan beralasan mengingat dunia industri memerlukan tenaga kerja yang berkualitas dan ahli di bidangnya untuk mengoperasikan peralatan dan teknologi canggih.upaya pemerintah dalam hal ini Direktorat Menengah dan Kejuruan (Dikmenjur) sebagai upaya mendekatkan pendidikan kejuruan dengan dunia kerja, telah dilakukan dengan adanya kebijakan link and match. Sebagai realisasi dari kebijakan tersebut, maka telah dicanangkan konsep pendidikan dengan sistem ganda (PSG/Dual Base System). PSG adalah bentuk penyelenggaraan lapangan kerja.
Strategi pengembangan yang ditempuh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan pada tahap awal pelaksanaan Prakerin adalah menunjuk sejumlah SMK tertentu untuk melaksanakan uji coba. Program Prakerin disusun dan bersumber dari kurikulum SMK, yang mengacu pada profil kemampuan tamatan dan garis-garis besar program pengajaran (GBPP) (Depdikbud,1995). Salah satu upaya yang dilakukan dalam merancang program pengajaran adalah melakukan pemetaan profil kemampuan tamatan terhadap bahan kajian komponen pendidikan yang meliputi komponen pendidikan adaptif; teori kejuruan, praktek dasar profesi dan praktek keahlian profesi.
Pelaksanaan program pcngajaran komponen pendidikan adaptif dan teori kejuruan dilaksanakan di sekolah. Komponen pendidikan praktek dasar profesi dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan antara sekolah dengan industri pasangannya. Sedangkan komponen pendidikan praktek keahlian profesi mcnjadi tanggung jawab dunia usaha/dunia industri pasangan masing¬-masing sekolah.
Adapun manfaat dari praktek industri adalah:
1. Menumbuhkan sikap kerja yang tinggi.
2. Siswa mendapatkan kompetensi yang tidak didapatkan di sekolah.
3. Siswa dapat memberikan konstribusi tenaga kerja di perusahaan.
4. Memberi motivasi dan meningkatkan etos kerja siswa.
5. Mempererat hubungan kerjasama antara sekolah dengan institusi pasangan.
6. Memungkinkan untuk industri memberikan bantuan kepada sekolah, misal magang guru, bantuan praktek. dan sebagainya.
7. Sebagai promosi tamatan SMK.



SEKILAS MENILAI SOAL UJIAN SNMPTN
Juli 6, 2009, 6:12 am
Filed under: Pendidikan, PENGUKURAN (MEASUREMENT)

SEKILAS MENILAI SOAL UJIAN SNMPTN TAHUN 2009
Oleh Wakhinuddin S

Sulitnya membuat soal yang identik atau kembar membuat soal SNMPTN miskin kreasi, kreasi dalam hal ini menyangkut tes/soal yang cenderung sama.

Bermula dari naskah soal, naskah soal diberi nomor kode berbeda bertujuan agar peserta SNMPTN tidak dapat saling mencontek atau kerjasama. Untuk mencapai tujuan ini pihak Panitia SNMPTN membuat soal yang variatif, seharusnya soal tersebut identik atau ‘sama tapi tak serupa’. Sama dalam hal materi ajar, indikator, dan tingkat kesukarannya. Jika demikian ada soalnya, maka pengujian reliabilitas tes dengan desain ‘Belah dua (split half) dapat digunakan dengan mudah.

Tapi kenyataan tidaklah begitu, soal yang ada pada Tes bidang studi IPS, antara naskah 367 dan 369 adalah sama persis, yang membedahkannya cuma letak soal atau penomoran saja, itupun tidak jauh sekitar 2 atau 4 nomor ke atas atau ke bawah soal-soal tersebut.

Dari analisis tata letak naskah soal kode 367 dan 369 ditemukan 33 dari 60 butir soal yang sama persis berada pada nomor yang sama, dan 10 dari 60 butir soal yang sama persis hanya berubah posisi nomor. Ini menunjukkan soal-soal SNMPTN tidaklah terlalu ketat mencegah adanya saling mencontoh antar peserta SNMPTN. Implikasinya mempermudah Joki bekerja, reliabilitas rendah dan validitas criteria antar soal rendah pula.



PENILAIAN PROSES MENGGAMBAR

LEMBARAN OBSERVASI PENILAIAN PROSES
MENGGAMBAR MESIN OTOMOTIF

OLEH WAKHINUDDIN S

PENILAIAN GAMBAR

PENILAIAN GAMBAR

Kriteria penskoran :
4 (Sangat baik) = secara lengkap ( 81-100%) menggambarkan kelancaran, kecepatan, ketepatan*
3 (Baik) = sebagian besar (66 – 80 % ) menggambarkan kelancaran, kecepatan, ketepatan*
2 (Cukup) = setengah (56 – 65 %) menggambarkan kelancaran, kecepatan, ketepatan*
1 (Kurang) = sebagian kecil ( < 55 %) menggambarkan kelancaran, kecepatan, ketepatan*

* Saat menilai pilih salah satu kata cetak miring.



PENELITIAN TINDAKAN KELAS (BAB I PENDAHULUAN)
Juli 3, 2009, 5:28 am
Filed under: Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Minat adalah variabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya prestasi atau cita-cita yang diharapkan, seperti yang dikemukakan Effendi (1995) bahwa belajar dengan minat akan lebih baik dari pada belajar tanpa minat.
Rendahnya minat belajar siswa di SMK Negeri 1 Bangkinang terhadap mata pelajaran pengecatan bodi otomotif selama ini menandakan bahwa pembelajaran pengecatan bodi otomotif kurang menarik. Hal ini terbukti dari setiap hasil analisis pada setiap ulangan harian daya serap siswa di bawah 65% (tidak tuntas).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk dapat meningkatkan minat serta prestasi belajar siswa, antara lain dengan pemberian pelajaran tambahan pada kelas 3, penyediaan LKS yang dilengkapi dengan sejumlah soal-soal latihan pada kelas 1 dan 2, tetapi hasilnya masih belum memuaskan.
Dari kenyataan tersebut dapat diduga penyebab mengapa prestasi belajar siswa rendah pada setiap ulangan pengecatan otomotif, antara lain:
Siswa kurang memahami konsep pengajaran pengecatan bodi otomotif. Jam pelajaran pengecatan bodi otomotif berada pada waktu sore hari. Siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas-tugas di rumah. Minat baca siswa terhadap buku teks pengecatan body otomotif rendah. Siswa jarang berani bertanya pada saat proses belajar mengajar.
Dari sejumlah permasalahan tersebut di atas sebenarnya ada satu masalah utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu yang berkaitan dengan minat siswa pada pelajaran pengecatan bodi otomotif. Sebagian besar siswa kurang berminat dalam belajar pengecatan bodi otomotif disebabkan guru yang masih menggunakan metode ceramah sehingga materi yang diajarkan menjadi verbal/hafalan. Kita menyadari bahwa salah satu kelemahan metode ceramah jika diterapkan secara murni adalah tidak melibatkan anak didik secara aktif dalam proses pembelajaran akibatnya materi tersebut menjadi kurang menarik.
Upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan minat siswa pada pelajaran pengecatan bodi otomotif adalah dengan menerapkan metode kerja kelompok dengan pemberian tugas pada siswa. Peran guru disini adalah sebagai motivator, artinya guru sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif, kreatif dan akrab dengan lingkungaan. Metode kerja kelompok pada pengajaran pengecatan bodi otomotif menjadi sarana memupuk kreatifitas inisiatif kemandirian, kerjasama atau gotong royong dan meningkatkan minat pada pengecatan bodi otomotif. Dengan demikian diharapkan metode kerja kelompok dalam pengajaran pengecatan bodi otomotif dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas X SMK Negeri 1 Bangkinang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah
1. Bagaimanakah cara meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pengecatan bodi otomotif siswa kelas X SMK Negeri 1 Bangkinang dengan metode kerja kelompok.
2. Apakah melalui metode pembelajaran kerja kelompok dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pengecatan bodi otomotif siswa kelas X SMK Negeri 1 Bangkinang.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang di teliti serta informasi yang diharapkan, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pengecatan bodi otomotif siswa kelas X SMK Negeri 1 Bangkinang dengan Metode Kerja Kelompok.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini di harapkan bermanfaat bagi:
1. Guru-guru SMK Negeri 1 Bangkinang, khususnya guru-guru Pengecatan Bodi Otomotif, dalam rangka membina dan merangsang siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran.
2. Bagi siswa, merupakan salah satu cara belajar untuk meningkatkan hasil belajar terutama dalam mata pelajaran pengecatan body otomotif.
3. Bagi sekolah, tindakan yang dilakukan pada penelitian ini dapat dijadikan salah satu bahan masukan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran
4. Bagi penulis, dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan penulis dalam bidang penelitian ilmiah.

E. HIPOTESIS TINDAKAN
Umumnya dalam proses pembelajaran siswa terlihat pasif dan tidak antusias menanggapi permasalahan yang dipaparkan oleh guru. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kemungkinan kurang menariknya metode pembelajaran, atau kurang dikenalinya materi yang disampaikan, dll.
Dalam rangka meningkatkan ke-aktifan dan hidupnya pembelajaran di dalam kelas memerlukan usaha-usaha yang mendalam. Diantaranya adalah dengan menggunakan metode-metode pembelajaran yang sekiranya dapat mendorong tujuan tersebut.
Dalam hal ini dengan menggunakan metode kerja kelompok yang dilakukan oleh siswa itu sendiri sedangkan guru mengadakan penilaian terhadap seluruh komponen yang terlibat.
Berdasarkan uraian di atas maka diajukan hipotesis tindakan yaitu : “ Metode Pembelajaran Kerja Kelompok dapat meningkatkan Minat dan Hasil Belajar siswa dalam Proses Pembelajaran Pengecatan Bodi Otomotif “.

by Laporan PLK Habibie



PENILAIAN PRODUK

PENILAIAN PRODUK LAS
Oleh Wakhinuddin S

Kompetensi : Melaksanakan Prosedur Pengelasan , Pemotongan Dengan Panas dan Pemanasan
Hasil Belajar :Menyambung dua buah pipa dengan diameter 10 cm dan panjang 100 cm dari bahan besi/baja setebal 1 cm dengan teknik pemotongan, pemasangan dan pengelasan.
Soal :
1. Sambunglah dua buah pipa yang terpotong dengan diameter 10cm dan panjang 100cm dari bahan besi?baja stebal 1cm dengan teknik pemotongan, pemasangan dan pengelasan.
Kunci Jawaban :
2. Siswa berhasil menyambung dua buah pipa dari bahan besi/baja setebal 1cm dengan diameter 10 cm dan panjang 100cm yang bernilai kuat, tidak bocor, rapi, cepat dan indah
Cara Penilaian :
Skor 5 :Hasil penyambungan pipa yang memenuhi kriteria nilai kuat, tidak bocor, kampuh las rapi, bersih, tidak berubah bentuk dan cepat
Skor 4 :Hasil penyambungan pipa yang memenuhi kriteria nilai kuat, tidak bocor, kampuh las rapi, tetapi tidak bersih.
Skor 3 :Hasil penyambungan pipa yang memenuhi kriteria nilai kuat, tidak bocor, kampuh las tidak rapi, tidak bersih .
Skor 2 :Hasil penyambungan pipa yang hanya memenuhi kriteria nilai kuat dan tidak bocor saja.
Skor 1 :Hasil penyambungan pipa yang hanya memenuhi kriteria nilai kuat saja tetapi tidak memenuhi persyaratan dalam pengelasan pipa.

Sekor perolehan
Nilai Tes Praktek = ——————-
Sekor maksimum

Nilai praktek 1… ke n
Nilai Akhir Praktek = ———————–
n




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.