Wakhinuddin’s Weblog


DEFINISI EVALUASI

DEFINISI EVALUASI
(Dalam Konteks Program dan Pendidikan)Oleh

Wakhinuddin S

Kata evaluasi berasal dari Bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran, edangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Evaluasi mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Tujuan evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya. Dalam proses penilaian, dilakukan perbandingan antara informasi-informasi yang telah berhasil dihimpun dengan kriteria tertentu, untuk kemudian diambil keputusan atau dirumuskan kebijakan tertentu. Kriteria atau tolak ukur yang dipegang tidak lain adalah tujuan yang sudah ditentukan terlebih dahulu sebelum kegiatan pendidikan itu dilaksanakan.
Dari aspek pelaksanaan, Evaluasi adalah keseluruhan kegiatan pengumpulan data dan informasi, pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan. Evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk mengukur dan selanjutnya menilai sampai dimanakah tujuan yang telah dirumuskan sudah dapat dilaksanakan. Evaluasi adalah proses memahami atau memberi arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi petunjuk pihak-pihak pengambil keputusan. Secara rinci dapat disampaikan.
1) Evaluasi ialah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kababilitas siswa, guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar.
2) Dalam rangka pengembangan sistem instruksional, evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menilai seberapa jauh program telah telah berjalan seperti yang telah direncanakan.
3) Evaluasi sebagai suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan apakah proses dalam pengembangan ilmu telah berada dijalan yang diharapkan.
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang direncanakan dengan cermat dan merupakan bagian yang integral dari kegiatan program/pendidikan. Evaluasi merupakan proses yang sistematis mulai dari menentukan tujuan (objektif) sampai menentukan keputusan, dimana prosesnya diawali dengan menentukan sasaran (objek) yang akan dievaluasi, menentukan instrumen (alat ukur), cara mengukur, mencatat data, menganalisis, menginterpretasi hasil analisis, mengambil kesimpulan dan menetapkan keputusan.
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian evaluasi adalah:
1) Merupakan suatu kegiatan yang direncanakan dengan cermat.
2) Kegiatan yang dimaksud merupakan bagian yang integral dari pendidikan, sehingga arah dan tujuan evaluasi harus sejalan dengan tujuan pendidikan.
3) Evaluasi harus memiliki dan berdasarkan kriteria keberhasilan yaitu keberhasilan dari: a) Belajar murid, b) Mengajar guru, dan c) Program pengajaran.
4) Evaluasi merupakan suatu tes maka evaluasi dilaksanakan sepanjang kegiatan program pendidikan dan pengajaran.
5) Evaluasi bernilai positif, yaitu mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar siswa, kemampuan mengajar guru serta menyempurnakan program pengajaran.
6) Evaluasi merupakan alat (the means) bukan tujuan (the end) yang digunakan untuk menilai apakah proses perkembangan telah berjalan semestinya?
7) Evaluasi adalah bagian yang sangat penting dalam suatu sistem yaitu sistem pengajaran untuk mengetahui apakah sistem itu baik / tidak.
Berdasarkan beberapa rumusan di atas dapat didefinisikan bahwa evaluasi merupakan serangkaian kegiatan yang sistematis yang dilakukan dalam rangka untuk mengetahui apakah suatu kegiatm pendidikan telah berjalan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau belum. Teknis pelaksanaan evaluasi meliputi penetapan objek yang akan dievaluasi, menentukan instrumen yang cocok dengan apa yang akan dievaluasi, melakukakn pengukuran terhadap objek evaluasi, mengumpulkan data hasil pengukuran data mengolah data yang didapatkan dari basil pengukuran. Berdasarkakn data pengukuran dapat dijadikan babagai rekomendasi yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menentukan keputusan.



MEMBANDINGKAN EMPAT TAKSONOMI TUJUAN PEMBELAJARAN

MEMBANDINGKAN EMPAT TAKSONOMI
TUJUAN PEMBELAJARAN

Oleh Wakhinuddin S

A. Perbandingan Empat Taksonomi
Taksonomi Bloom dijadikan referensi membuat tujuan dan evaluasi pendidikan. Taksonomi Bloom disusun dalam wujud perilaku kognitif, memiliki enam hirarki kategori utama. Taksonomi Bloom bukan hanya merupakan hirarki, tapi juga kumulatif. Karena keberhasilan siswa tidak hanya disebab-kan satu hirarki, tapi juga kumulatif dari beberapa hirarki. Ada beberapa taksonomi tujuan pembelajaran lain dalam literatur, namun kurang populer. Perbandingan antar taksonomi dapat ditampilkan sebagai berikut.



ALASAN PEMAKAIAN PENILAIAN PERFORMANSI
Juli 11, 2009, 7:33 am
Filed under: EVALUASI HASIL BELAJAR, Pendidikan, Pendidikan Kejuruan, PENELITIAN

ALASAN PEMAKAIAN PENILAIAN PERFORMANSI
Oleh Wakhinuddin S

Untuk justifikasi kenapa memakai Penilaian performansi, ada beberapa alasan, yaitu:
1. Ketidakpuasan pada jenis tes respon-seleksi (kertas-pensil). Pendukung penilaian performansi menurigai bahwa tes pilihan ganda dan pilihan binary (benar-salah) hanya berkisar pada. menyebut pengenalan (recognition), tes jenis ini tidak mengukur dan menyediakan fasliitas untuk keterampilan berpikir tinggi seperti : apakah siswa dapat memecahkan masalah, sintesis, berpikir bebas. Bahkan tes respon -seleksi memiliki bias ketidakadilan dari domain isi.
2. Pengaruh psikologi kognitif. Psikologi kognitif mempercayai bahwa siswa dalam belajar mesti mendapatkan pengetahuan dan prosedur. Psikolog beralasan bahwa semua tugas kognitif menuntut kedua jenis itu, tetapi untuk jenis tugas tertentu, ada perbedaan penekanan pada ke-duanya. Jenis utama, seperti prosedur tidak dapat diungkapkankan melalui tes respon-seleksi.
Beberapa pakar psikolog kognitif menyatakan, untuk meningkatkan kualitas penggunaan penilaian performansi dalam pendidikan, hendaklah pembelajaran menekankan pada kemahiran siswa mengurai langkah-langkah (prosedur).
3. Kesukaran menggunakan tes respon-seleksi (paper and pencil test). Pada tes respon-seleksi jenis, guru suka memakainya karena mudah memeriksa. Namun, pada Pembelajaran yang didominasi keterampilan seperti SMK, skor siswa harus diungkapkan melalui unjuk kerja, untuk ini dipakai penilaian performansi (peformance test).



UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Juli 11, 2009, 6:04 am
Filed under: PENELITIAN, PENGUKURAN (MEASUREMENT)

UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Oleh Wakhinuddin S

1. Pengujian Validitas Butir
Untuk menguji validitas butir instrumen (X1) menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson yang rumusnya adalah sebagai berikut:
N XY – (X) (Y)
rxy = ———————————————-
NX2-(X)2 NY2- (Y)2

Keterangan:
rxy= Koefisien korelasi skor butir (X) dengan skor total (Y)
N= Jumlah sampel (responden)

Untuk pengujian validitas butir tes hasil belajar (Y) digunakan rumus Biserial Point, yaitu:

Xi – Xt pi 1/2
rpb(i) = ——— (—-)
st qi

Keterangan:
rpb(i) = koefisien korelasi biserial point antara skor butir dengan skor total
Xi = rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir ke-i
Xt = rata-rata skor total semua responden
St = standar deviasi skor total
pI = proporsi jawaban yang benar butir i
qI = proporsi jawaban salah butir i

2. Pengujian Reliabilitas
Untuk menentukan reliabilitas instrumen (X1) digunakan rumus Alpha Cronbach, yaitu:

k Jumlah varians skor butir
Y = — (1 – ———————— )
k Varians skor total

Keterangan :
kk = Koefisien reliabilitas instrumen
k = Banyaknya butir pernyataan
Si2 = Jumlah varians skor butir
S t2 = Varians skor total

Selanjutnya untuk menetukan reliabilitas tes (Y) digunakan rumus Kuder Richadson (KR-20), yaitu:

k jumlah varians skor butir
r = —— ( 1- ————————- )
k – 1 varians skor total

Keterangan:
r = koefisien reliabilitas
k = cacah butir
St2 = varians skor total
piqi = jumlah varians skor butir
pi = proporsi jawaban yang benar butir i
qI = proporsi jawaban salah butir i

Untuk menentukan diterima tidaknya setiap butir pertanyaan yang dianalisis, diperlukan kriteria analisis, baik kriteria mengenai pengujian validitas maupun reliabilitas.
Dalam pengujian validitas instrumen, taraf nyata yang digunakan adalah  0,05. Butir pernyataan dikatakan valid, jika koefisien korelasi Product Moment (rxy) atau rhitung lebih besar dari pada rtabel, sesuai taraf nyata yang telah ditentukan umpamanya dengan N = 40. Sesuai kriteria di atas, diperoleh besaran r-tabel adalah 0,312.



Strategi Pembelajaran
Juli 10, 2009, 10:21 am
Filed under: PASCASARJANA, Pendidikan

Strategi Pembelajaran
oleh Wakhinuddin S

Dalam setiap proses pembelajaran, strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pelajarannya, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Terkait dengan hakikat strategi pembelajaran tersebut, ada beberapa pendapat para ahli yang menjelaskan tentang strategi pembelajaran, antara lain yaitu:
1. Kazma dalam Gafar (1989), secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran.
2. Gerlach dan Ely (1980 ), menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi dalam lingkungan pembelajaran tertentu, yang meliputi: lingkup, urutan kegiatan dan sifatnya yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
3. Dick and Carey (1990), menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau digunakan oleh pendidik dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Dimana menurut mereka strategi bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar, melainkan juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran.
4. Gropper dalam wiryawan Noorhadi (1990), mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya strategi pembelajaran adalah suatu rencana untuk mencapai tujuan, yang terdiri dari metode, teknik dan prosedur yang mampu menjamin peserta didik untuk benar-benar akan dapat mencapai tujuan akhir suatu pembelajaran yang diikutinya.

Terkait dengan pengertian dari beberapa ahli tersebut di atas, hal pokok yang paling utama adalah bagaimana kita sebagai pendidik maupun pengajar pada suatu lembaga pendidikan mampu dan dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat, sehingga mampu menciptakan suatu iklim belajar yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.

Pemilihan strategi pembelajaran pada dasarnya merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh seorang pendidik atau pengajar dimanapun ia melakukan suatu proses pembelajaran, yang didasari pada 3 (tiga) hal pokok, yaitu: (1) Rumusan tujuan pembelajaran, (2) Analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik, (3) Jenis dan lingkup materi yang akan dikomunikasikan.



PERBEDAAN UMUM ANTARA PENELITIAN DAN EVALUASI
Juli 10, 2009, 10:06 am
Filed under: EVALUASI PROGRAM DAN LEMBAGA, MONEV, Pendidikan, PENELITIAN

PERBEDAAN UMUM ANTARA PENELITIAN DAN EVALUASI

Oleh Wakhinuddin S

Perbedaan antara Penelitian dan evaluasi secara umum dapat ditinjau dari aspek:
• Tujuan dan Kegunaan investigasi;
• Ruang lingkup investigasi;
• Nilai-nilai dalam investigasi;
• Original studi;
• Manfaat studi;
• Jadwal studi;
• Kriteria penilaian studi;
• Agenda studi.
• Motivasi peneliti;
• Tujuan studi;
• Aturan versus deskripsi;
• Peran eksplanasi;
• Otonomi temuan;
• Sifat fenomena yang dinilai;
• Universalitas fenomena;
• Relevansi nilai-nilai pertanyaan;
• Teknik Investigasi;
• Kriteria aktivitas penilaian;
• Basis disiplin ilmu.



TYPE KEPRIBADIAN KEJURUAN VERSI HOLLAND DAN PEKERJAAN
Juli 10, 2009, 2:33 am
Filed under: Pendidikan Kejuruan

TYPE KEPRIBADIAN KEJURUAN VERSI HOLLAND
DAN PEKERJAAN

Oleh Wakhinuddin S

Menurut John Holland (1985), terdapat enam tipe kepribadian vocational yaitu Realistic (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang bersifat praktis, cepat menangkap masalah dan mencari solusinya), Investigative (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang lebih banyak membutuhkan pemikiran mendalam, mereka juga menyukai bekerja dengan ide dan kekuatan berpikir daripada melakukan aktivitas kerja fisik), Artistic (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang berhubungan dengan sisi artistik dari sesuatu hal/benda/obyek, seperti bentuk, desain, dan pola-pola. Mereka menyukai mengekspresikan diri dalam pekerjaan mereka.), Social (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang berhubungan dengan individu lainnya. Mereka senang membantu dan memajukan orang lain. Selain juga, giat berupaya agar orang tersebut mau mengembangkan diri), enterprising (menyukai aktivitas-aktivitas kerja yang bersifat memulai sesuatu atau membangun dari awal (start-up), Conventional (menyukai aktivitas-aktivitas kerja dengan aturan main yang jelas. Mereka menyukai prosedur dan standar, dan tidak bermasalah dengan rutinitas.
Berdasarkan enam tipe di atas, setiap orang dapat dideskripsikan dengan satu atau gabungan dari enam tipe tersebut, yang seringkali disingkat dengan RIASEC (huruf pertama setiap tipe). Teori ini juga mengemukakan bahwa ada enam tipe lingkungan kerja yang berkaitan dengan tipe di atas – dan setiap individu perlu menemukan tempat kerja yang sesuai dengan profilnya (berdasarkan 6 tipe di atas). Semakin baik tingkat kecocokan antara tempat kerja dan gambaran minat kerjanya, semakin meningkat kepuasan orang tersebut dengan pekerjaannya.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.