Wakhinuddin’s Weblog


METODE MENGAJAR
Juni 24, 2009, 9:36 am
Filed under: Pendidikan

METODE MENGAJAR
Oleh Wakhinuddin S

a.Pengertian Metode
Metode dapat diartikan sebagai satu cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai tujuan. Dalam pembelajaran metode merupakan alat yang harus berorientasi pada tujuan yang akan dicapai. Hal ini diungkapkan oleh Alipadie (1984:72).
Cara atau metode mengajar sebagai alat pencapaian tujuan, memerlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri, karena itu perumusan tujuan dengan sejelas-jelasnya merupakan persyaratan penting sebelum seorang guru menentukan dalam memilih metode mengajar yang tepat. Pemilihan metode mengajar yang tepat akan menumbuhkan minat siswa, semakin banyak variasi metode mengajar yang diberikan kepada siswa akan menumbuhkan minat dan motivasi siswa untuk mau belajar, seperti yang diungkapkan oleh Alipadie (1984:72):
“Cara mengajar yang menggunakan teknik berbagai jenis dan dilakukan secara tepat dan penuh perhatian oleh guru, akan memperoleh minat belajar para siswa dan karena itu pula akan mempertinggi hasil belajar pada siswa”.

Menurut Surachman dalam suryosubroto (1997:148), menyatakan bahwa: “metode pengajaran, adalah cara pelaksanaan proses pengajaran atau saat bagaimana atau teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada siswa atau murid-murid di sekolah”.
Berdasarkan pendapat tersebut kemampuan mengajar dengan menggunakan metode yang tepat merupakan tuntunan yang harus dipenuhi guru. Menurut Zuhairini (dalam Nasution, 2001:40), dalam memilih metode mengajar seorang guru harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
1. Kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan kemampuan pelajar.
2. Kemampuan pengajar dalam menggunakan metode tersebut.
3. Kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan fasilitas yang tersedia.
4. Kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan lingkungan pendidikan.
Dalam proses belajar mengajar, penggunaan metode mengajar tidaklah sama untuk setiap mata diklat, seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa metode mengajar tersebut harus sesuai dengan kondisi yang ada. Penggunaan metode yang tidak tepat dalam proses belajar mengajar akan menyebabkan siswa tidak termotivasi untuk belajar atau dapat menyebabkan siswa menjadi pelajar yang pasif, sehingga hasil belajar rendah. Hal ini juga dialami oleh siswa kelas 11 MO di SMK Negeri 1 Pariaman.
b. Kedudukan metode dalam belajar mengajar
1. Metode sebagai alat motivasi eksrinsik, tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode.
2. Metode sebagai strategi pengajaran.
3. Metode sebagai alat sebagai mencapai tujuan. Tujuan belajar mengajar tidak akan pernah tercapai selama komponen lainnya tidak diperlukan, salah satunya adalah komponen metode menurut Djamarah (2002:120).
c. Macam-macam metode mengajar
Menurut Hasan (1994:114), metode pengajaran dapat dibedakan menjadi:
1) Metode mengajar individual
a. Metode ceramah
b. Metode tanya jawab
c. Metode diskusi
d. Metode demonstasi
e. Metode karya wisata
f. Metode driil
2). Metode mengajar kelompok
a. Seminar
b. Simposium
c. Forum
d. Panel
e. Musyawarah kerja
Ada bermacam-macam metode, seperti metode mengajar individual dan metode belajar kelompok. Metode tersebut dapat dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Tinjauan Tentang Metode Diskusi
Suryosubroto (1996:179), menyatakan bahwa metode diskusi merupakan suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada siswa (kelompok-kelompok siswa), untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun alternatif pemecahan atau suatu masalah.
Ciri-ciri diskusi, adalah:
a. Berlangsung dua orang atau lebih.
b. Berlangsung dalam interaksi tatap muka dengan mengemukakan media bahasa, semua anggota memperoleh kesempatan mendengarkan dan mengeluarkan pendapat secara bebas langsung.
c. Mempunyai tujuan atau sasaran yang akan dicapai melalui kerja sama antar anggota.
d. Berlangsung dalam suasana bebas, teratur dan sistematis dengan aturan main yang telah disepakati bersama.

Dengan metode diskusi kelompok siswa dapat belajar bagaimana belajar dari orang lain, bagaimana menanggapi pendapat orang lain, bagaimana memelihara kesatuan kelompok dan belajar tentang teknik-teknik pengambilan keputusan yang sangat berguna bagi mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengalaman belajar yang demikian tidak akan terjadi, jika guru menyajikan pelajaran dengan metode ceramah.
Menurut Alipade (1984:83) keuntungan metode diskusi, antara lain:
a. Suasana kelas sangat hidup sebab siswa sepenuhnya mengarahkan perhatian dan pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan.
b. Dapat mempertinggi prestasi kepribadian individu, seperti semangat toleransi, jiwa demokratis, kritis dalam berfikir, tekun, sabar dan sebagainya.
c. Hasil-hasil diskusi mudah dipahami dan dilaksanakan bersama, karena siswa ikut serta aktif dalam pembahasan sampai pada suatu kesimpulan.
d. Siswa dilatih mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib dalam suatu diskusi, sebagai pengalaman berharga bagi kehidupan sesungguhnya kelak di masyarakat.

Beberapa kelemahan dari metode diskusi, adalah:
a. Terutama dalam kelompok besar mungkin sekali ada antara siswa yang tidak aktif ambil bagian, sehingga diskusi merupakan kesempatan melepaskan dari tanggung jawab.
b. Biasanya guru sulit menduga arah penyelesaian dan hasil diskusi, karena waktu yang dipergunakan cukup panjang serta beberapa faktor lain yang mempengaruhi lancar tidaknya diskusi.
c. Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berfikir sistematis dan rapi, apalagi secara ilmiah.

Berdasarkan keuntungan metode diskusi, siswa akan lebih aktif dalam proses belajar. Siswa dapat mengemukakan pemikirannya dan dapat menghargai pendapat orang lain. Metode diskusi juga memiliki kelemahan, karena ada beberapa orang siswa yang tidak aktif, jika diskusi dilakukan dalam kelompok besar. Diskusi akan sulit mencapai penyelesaian, karena waktu yang digunakan sangat terbatas.

4. Tinjauan tentang metode diskusi menggunakan pendekatan ORID
Salah satu pendekatan yang bisa digunakan dalam metode diskusi, adalah dengan pendekatan ORID. Sesuai dengan namanya metode diskusi dengan menggunakan pendekatan ORID (Objective-Reflective-Interpretative-Decisional) akan menggulirkan diskusi dalam proses mengalir dari pembahasan pada tahap objective hingga tahap decisional.
Metode diskusi ORID digunakan untuk mempermudah komunikasi dalam suatu kelompok. Menurut Cendikia (2002:7), dengan metode diskusi menggunakan pendekatan ORID memungkinkan:
a. Setiap anggota kelompok memberikan kontribusinya (ide, masalah, usulan dan sebagainya), sehingga aktif dalam proses pembelajaran.
b. Terjadinya proses diskusi yang terfokus dan berarti.
c. Diskusi ini dirancang melalui tahap-tahap yang terencana, sehingga diskusi dapat terfokus dan tidak keluar dari materi yang dibicarakan.
d. Hadir berbagai perspektif mengenai suatu topik dalam dialog yang tidak kontrontatif.
e. Terjadinya kedalaman pemahaman secara bersama-sama dalam kelompok, karena materi yang dipermasalahkan dibicarakan bersama.
f. Dihasilkan solusi dan rencana aksi yang spesifik, realitis dan masuk akal.

Berdasarkan kegunaan metode diskusi dengan pendekatan ORID, maka diskusi akan berjalan dengan lancar. Dimana setiap kelompok harus memberikan kontribusinya, sehingga aktif dalam pembelajaran. Proses diskusi ini dilakukan secara bertahap-tahap agar topik atau objek yang dibahas tidak keluar dari jalurnya. Dengan adanya tahapan tersebut, maka solusi yang dihasilkan akan lebih spesifik dan masuk akal.
Menurut Cendikia (2002:9), menyatakan bahwa metode diskusi menggunakan pendekatan ORID berusaha menghindari:
a. Terjadinya dominasi satu (beberapa) anggota kelompok dalam forum karena setiap anggota kelompok memberikan kontribusi yang berupa ide, pertanyaan, usulan dan lainnya.
b. Terjadinya pembicaraan yang berlarut-larut tak terfokus dan membosankan. Setiap anggota berpartisipasi aktif, sehingga diskusi tidak monoton yang membuat kebosanan dan diskusi diarahkan ke tujuan yang diharapkan.
c. Adanya anggota kelompok yang tidak dapat menyampaikan pendapat, karena setiap anggota kelompok diminta kontribusinya, berupa apa pun baik ide atau pernyataan-pernyataan.
d. Terjadinya kesulitan menemukan kata sepakat dalam forum dengan banyaknya masukan pemikiran dari anggota kelompok akan semakin memudahkan menemukan kesepakatan bersama.

Berdasarkan kegunaan metode diskusi pendekatan ORID, maka berusaha untuk menghindari tidak terjadinya dominasi satu (beberapa) kelompok dalam diskusi, sehingga diharapkan seluruh siswa dapat terlibat aktif dalam mengemukakan idenya. Adapun topik yang dibicarakan hendaklah menarik untuk dibahas secara kelompok, sehingga anggota tidak bosan dalam mengikuti diskusi dari seluruh masukan atau ide yang dikemukakan anggota, maka akan memudahkan bagi anggota untuk mengambil kesimpulan.
Menurut Cendikian (2002:10-12), alur proses diskusi ORID yang dilaksanakan melalui tahap-tahap:
a. Definisikan tujuan
Definisikan tujuan objektif diskusi agar jelas apa yang akan didiskusikan atau jelas tujuan yang didiskusikan dan tujuan eksperimental ini melihatkan proses dari diskusi yang dilakukan.
1). Tujuan objektif, meliputi:
Apa saja yang hendak diketahui, dipahami atau diputuskan dalam diskusi, sehingga jelas apa yang akan dibahas.
2). Tujuan eksperimental, meliputi:
a) Bagaimana situasi dan interaksi antar peserta yang ingin dialami oleh peserta selama proses diskusi.
b) Isu apa atau pengalaman apa yang ingin dialami oleh kelompok.
b. Pembukaan dan penjelasan konteks masalah
Penjelasan kepada peserta masalah (topik) yang akan didiskusikan cukup global saja, tidak terlalu detail. Penjelasan yang terlalu detai dapat mengakibatkan kerangka berfikir peserta terbatasi, dan cepat bosan. Yang terpenting dari tahap ini adalah keikutsertaan (inveloment) peserta, baik secara fisik, fikiran dan emosi.
c. Tahap Objective
Pertanyaan yang diajukan fasilitator dalam tahap objective, adalah:
1). Apa yang diketahui, dilihat, didengar, dibaca atau diingat oleh peserta mengenai topik yang dibahas (berupa fakta dan data). Dengan pertanyaan ini akan memancing siswa untuk mengemukakan apa yang diketahuinya.
2). Pengalaman apa yang pernah dialami oleh peserta dan relevan dengan topik yang dibahas (kapan, kejadian apa, dan dimana), karena berupa pengalaman yang dialami siswa akan membuat siswa tertarik untuk mengikuti diskusi yang dilakukan dan siswa akan menyampaikan apa yang menjadi pengalaman yang pernah dialami.
d. Tahap Reflective
Pada tahap reflective pertanyaan yang diajukan mengenai respon emosional peserta atas fakta dan data yang telah didapat pada tahap objective. Pada tahap ini akan semakin memperjelaskan apa sebenarnya permasalahan yang sedang dibahas dalam diskusi.
e. Tahap Interpretative
Tujuan dari tahap Interpretative adalah pengetahuan esensi dari topik yang dibahas. Pernyataan-pernyataan dalam tahap ini, misalnya: apakah dampak dari masalah itu, dan sebagainya. Dengan pernyataan ini siswa dapat mencari solusi dari permasalahan, karena mengetahui inti dari topik yang dibicarakan.
f. Tahap Decisional
Review poin-poin penting dari diskusi dan mengingatkan peserta pada tujuan objectif yang harus dicapai. Dalam tahap ini fasilitator mengajak atau memotivasi kelompok untuk membuat keputusan berdasarkan hasil diskusi pada tahap-tahap sebelumnya.
g. Konfirmasi dan penutupan
Melakukan review kembali setiap poin-poin penting yang disepakati atau diterima dalam diskusi. Menuliskan kembali poin-poin tersebut di tempat yang bisa diperhatikan oleh seluruh peserta. Menelusuri sejarah, mulai dari bagaimana poin tersebut diusulkan, dibahas sampai disepakati. Menanyakan pada forum apakah ada yang salah atau kurang memuaskan dalam proses diskusi.
Adapun diagram tentang diagram di atas, yaitu:

Berdasarkan alur proses diskusi, maka terlebih dahulu guru menjelaskan tujuan diskusi dan tujuan eksperimental yang hendak dicapai. Kemudian guru menjelaskan konteks permasalahan secara global. Pada tahap objective, guru memberikan pertanyaan tentang objek yang pernah dialami siswa. Tahap reflective, guru menilai bagaimana respon emosional siswa tentang pertanyaan yang diberikan pada tahap objective kemudian guru lebih memperjelas tentang topik yang akan dibahas. Pada tahap interpretative, diharapkan siswa dapat mencari jawaban atau pemecahan permasalahan dan tahap decisional, guru mengajak siswa untuk dapat membuat keputusan atas hasil diskusi yang telah dilakukan.
5. Strategi pembelajaran konvensional
Strategi pembelajaran konvensional, merupakan strategi yang berorientasi pada guru “teacher oriented”. Hal ini sesuai dengan pendapat Roejikers (1984:52), bahwa strategi konvensional adalah strategi pembelajaran yang dilakukan dengan komunikasi satu arah, sehingga situasi pembelajaran berpusat pada pengajar.
Strategi konvensional yang dimaksud di sini adalah strategi pembelajaran yang biasa di mana strategi mengajar guru lebih menekankan pada metode ceramah. Menurut Suryosubroto (1997:165), metode ceramah adalah penerapan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sagala (2003:201), bahwa metode ceramah adalah sebuah bentuk interaksi penerapan dan penuturan lisan dari guru kepada peserta didik.
Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa metode ceramah adalah guru memahami kondisi dan situasi siswa dalam kelas. Dimana dalam metode ceramah guru yang aktif, setiap siswa hanya berperan sebagai pendengar dengan cara mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh guru.
Meskipun metode ceramah ini sederhana dan mudah dilakukan namun metode ini mempunyai kelemahan-kelemahan (Sagala, 2003:2002), yaitu:
a. Metode ceramah tidak dapat memberikan kesempatan kepada peserta berdiskusi memecahkan masalah, sehingga proses penyerapan pengetahuannya kurang tajam.
b. Metode ceramah kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keberanian mengemukakan pendapatnya.
c. Pertanyaan lisan dalam ceramah kurang dapat ditangkap oleh pendengarnya apalagi menggunakan kata-kata asing.
Sagala (2003:202), mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam metode ceramah yang baik, yaitu:
a. Metode ceramah dipakai jika jumlah siswa sangat banyak, sehingga tidak mungkin guru menggunakan metode lain.
b. Guru hendak menyampaikan materi pelajaran baru.
c. Siswa telah mampu menerima informasi melalui kata-kata.
d. Sebaiknya ceramah diselingi oleh penjelasan melalui gambar atau alat visual lainnya.
Sagala (2003:202) mengemukakan langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru agar metode ceramah efektif dalam pelaksanaanya, yaitu:
a. Melaksanakan pendahuluan sebelum bahan baru dengan cara:
1. Menjelaskan tujuan terlebih dahulu kepada peserta didik agar peserta didik mengetahui arah kegiatan dalam belajar bahkan dapat membangkitkan motivasi belajar jika berhubungan dengan kebutuhan mereka.
a. Kemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas.
2. Mamancing pengalaman peserta didik yang cocok dengan materi yang akan dipelajari.
b. Pelaksanaan
Menyajikan bahan baru, maka diperhatikan faktor-faktor, berikut:
1. Perhatian peserta didik dari awal sampai akhir pelajaran harus tetap terpelihara.
2. Menyajikan materi pelajaran secara sistematis.
3. Kegiatan belajar mengajar diciptakan secara variatif.
4. Memberikan ulangan.
5. Membangkitkan motivasi belajar dengan situasi belajar yang menyenangkan.
6. Menggunakan media pelajaran.
c. Menutup pelajaran pada akhir pelajaran, yaitu:
1. Menyimpulkan materi pelajaran.
2. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menanggapi materipelajaran.
3. Melaksanakan penilaian secara komprehensif untuk mengetahui hasil belajar atau mengukur perubahan tingkah laku.

Note: Tulisan ini sebagaian dari penelitian eskperimen di kelas dengan desain Randomized Control Group Pretest-Posttest Desaign

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: